TVRINews, Jakarta
Direktur Operasional I.League Asep Saputra mengungkapkan musim kompetisi 2026/27 diproyeksikan menjadi salah satu musim terpadat bagi klub-klub Indonesia. Selain kompetisi domestik, sejumlah klub berpotensi tampil di level Asia dan regional ASEAN.
Asep menjelaskan berdasarkan slot yang diberikan AFC, Indonesia untuk musim depan masih menempati jalur play-off kompetisi Asia.
“Meski ada perubahan sistem di kompetisi AFC, status Indonesia untuk musim depan tidak berubah. Kita masih berada di play-off ACL 2 dan AFC Challenge League,” ujar Asep kepada wartawan termasuk tvrinews.com di Jakarta, yang dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026.
Terkait penentuan wakil Indonesia di kompetisi Asia, Asep mengatakan regulasi mengacu pada posisi akhir klasemen kompetisi domestik.
“Kalau mengacu regulasi entry competition, yang diambil adalah juara dan peringkat terbaik berikutnya. Jadi berdasarkan posisi satu, dua, tiga, dan seterusnya,” ucap Asep.
Saat ditanya mengenai potensi beban jadwal bagi klub seperti Persib Bandung atau Borneo FC Samarinda yang berpeluang tampil di berbagai ajang, Asep mengakui situasi musim depan akan sangat menantang.
Ia menyebut operator liga telah menyampaikan kepada para pemilik klub bahwa musim mendatang akan berlangsung sangat panjang dan padat.
“Kami sudah sampaikan kepada klub owner bahwa musim depan akan menjadi musim yang sangat panjang. Ada jeda cukup panjang karena agenda tim nasional di Piala Asia, kemudian ada kompetisi AFC, dan kita juga memulai kompetisi setelah gelaran ASEAN Championship,” kata Asep.
Menurut Asep, klub juara Super League berpotensi tampil di lebih dari satu ajang internasional sekaligus, termasuk kompetisi ASEAN.
“Kalau tidak terhindarkan, klub juara memang berpotensi bermain di banyak kompetisi. Selain AFC, ada juga kemungkinan tampil di ASEAN Club Championship,” tutur Asep.
Namun, ia menegaskan pihaknya belum ingin berspekulasi soal alokasi slot tambahan di ASEAN Club Championship.
Asep mengungkapkan I.League tengah berupaya agar Indonesia mendapat tambahan slot, meski regulasi saat ini masih memprioritaskan peringkat satu dan dua.
“Kalau berdasarkan regulasi memang harus peringkat satu dan dua. Tapi kami tetap berupaya, sembari menunggu keputusan resmi AFF. Jadi jangan disalahartikan seolah sudah pasti,” ujar Asep.
Ia menambahkan jumlah peserta ASEAN Club Championship musim depan dikabarkan bertambah menjadi 14 tim, yang otomatis membuat penyesuaian jadwal semakin kompleks.
I.League saat ini tengah menyusun kalender kompetisi secara detail dan akan segera merilisnya secara bertahap.
“Sebentar lagi kami akan merilis kalender kompetisi yang nantinya bisa dilihat secara berkala di website. Kalender ini akan terus di-update secara regular sesuai perkembangan,” kata Asep.
Menurutnya, transparansi kalender penting agar klub dapat mempersiapkan kontrak pemain, sponsor, hingga strategi kompetisi lebih matang.
“Paling tidak klub sudah punya gambaran siklus tahunan, apakah Agustus sampai Mei, atau bisa jadi September sampai awal Juni. Itu penting untuk membangun ekosistem yang lebih profesional,” ucap Asep.
Asep juga membuka peluang bergulirnya kompetisi tambahan seperti Liga Indonesia All Star atau turnamen lain, meski belum bisa memastikan realisasinya.
Ia menegaskan wacana tersebut masih dalam tahap pembahasan karena operator harus memastikan ketersediaan slot di tengah padatnya jadwal.
“Spirit-nya tentu untuk meningkatkan menit bermain pemain. Tapi kita harus lihat realisasinya seperti apa. Kalau waktunya tepat, nanti pasti kami informasikan secara resmi,” tutur Asep.










