TVRINews, Jakarta
Persaingan perebutan gelar Super League 2025/2026 memasuki fase penentuan. Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu kini hanya menyisakan dua pertandingan, dengan Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda masih bersaing ketat di puncak klasemen.
Kedua tim sama-sama mengoleksi 75 poin. Namun, Persib untuk sementara berada di posisi teratas karena unggul head-to-head atas Borneo FC.
Pada dua laga tersisa, Persib akan menjalani partai tandang menghadapi PSM Makassar sebelum menutup musim dengan menjamu Persijap Jepara.
Sementara itu, Borneo FC akan bertandang ke markas Persijap dan kemudian menjamu Malut United FC.
Direktur Operasional I.League, Asep Saputra, mengatakan ketatnya persaingan hingga dua pekan terakhir menjadi bukti kompetisi musim ini berjalan sangat kompetitif.
“Saya pikir inilah menariknya kompetisi musim ini di Super League 2025/26. Kompetitif sekali. Dari sebelumnya ada tiga tim, sekarang tinggal dua dan sampai saat ini benar-benar belum bisa kita prediksi,” ujar Asep kepada wartawan termasuk tvrinews.com di Jakarta, Rabu, 18 Mei 2026.
Ia memastikan apabila hingga pekan ke-33 belum ada kepastian juara, pihak operator akan menyiapkan trofi di dua lokasi berbeda pada pekan terakhir.
“Kalau sampai week 33 masih belum ketahuan, tentu kita akan siap di dua tempat. Ini bukan hal baru. Tahun 2018 juga pernah terjadi, bahkan di liga-liga besar seperti Premier League juga sama. Ini sisi menarik dari kompetisi yang kompetitif,” kata Asep.
Meski enggan mengungkap secara detail lokasi trofi asli dan replika, Asep menegaskan kedua trofi akan dipersiapkan dengan standar yang sama.
“Intinya pasti ada equality,” ucap Asep.
Terkait desain trofi musim ini, Asep menyebut untuk sementara belum ada perubahan.
“Sementara masih sama. Kalau ada desain baru tentu akan kami rilis dari awal. Kalau nanti tiba-tiba berubah, ya itu bagian dari kejutan,” tutur Asep.
Selain perebutan gelar, Asep juga menanggapi pertanyaan terkait penunjukan wasit untuk laga-laga krusial di akhir musim.
Ia menegaskan penugasan wasit sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Wasit PSSI, bukan operator liga.
“I.League tidak pernah buang badan soal penugasan wasit. Memang otoritas dan kompetensinya ada di Komite Wasit. Kami hanya menerima surat penugasan resmi dari Komite Wasit PSSI,” ujar Asep.
Menurut Asep, operator liga hanya membantu aspek teknis seperti pengaturan perjalanan, honorarium, hingga dukungan implementasi VAR.
Meski demikian, I.League tetap rutin berdiskusi dengan PSSI dan Komite Wasit untuk menyampaikan evaluasi pertandingan, termasuk kategori laga berisiko tinggi.
“Kami bisa memberi masukan berdasarkan fakta di lapangan, misalnya pertandingan high risk atau punya nilai historis tertentu. Tapi kami tidak punya otoritas menentukan siapa bertugas di mana,” ucap Asep.
Terkait hadiah juara, Asep menjelaskan bahwa Super League tidak menggunakan skema prize money tunggal seperti Championship.
Sebagai gantinya, klub menerima dua bentuk kontribusi finansial, yakni fixed contribution yang diberikan rutin setiap bulan dan variable contribution berdasarkan performa akhir klasemen serta rating siaran televisi.
“Variable contribution dihitung dari tiga aspek, salah satunya sporting merit. Jadi peringkat satu, dua, tiga dan seterusnya menerima nominal berbeda secara menurun. Selain itu ada juga komponen berdasarkan TV rating and share,” kata Asep.
Ia menambahkan skema tersebut membuat pembagian pendapatan lebih proporsional, seperti yang diterapkan di sejumlah liga top dunia.
Dengan persaingan yang masih sangat terbuka, dua pekan terakhir Super League dipastikan menjadi penentu siapa yang akan mengangkat trofi musim ini: Persib Bandung atau Borneo FC Samarinda.










