TVRINews, Jakarta
Dua legenda Manchester United Rio Ferdinand dan duo legenda Arsenal Gilberto Silva dan Robert Pires berkesempatan untuk mengenang sengitnya rivalitas kedua klub yang mewarnai era kejayaannya di Liga Premier Inggris (Premier League).
Bukan hanya pertandingan dengan deretan pemain bintang, persaingan tersebut juga diwarnai ketegangan di lorong stadion hingga insiden lemparan pizza yang masih diingat hingga kini.
Kenangan itu kembali dibagikan menjelang laga eksebisi bertajuk '2026 Champions Impact in Jakarta: The Rivalry Returns' yang mempertemukan para legenda Arsenal dan Manchester United di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ketika ditanya mengenai momen paling berkesan dari rivalitas tersebut, Ferdinand awalnya mengaku sulit memilih satu pertandingan tertentu. Menurutnya, setiap pertemuan Arsenal dan Manchester United pada era itu menghadirkan tontonan istimewa karena kedua tim dihuni banyak pemain berkualitas.
Ia menyebut nama Dennis Bergkamp dan Thierry Henry di lini depan Arsenal, serta Patrick Vieira dan Ashley Cole sebagai bagian dari kekuatan tim berjuluk Meriam London tersebut.
Deretan pemain bintang itu membuat pertandingan kedua klub tak hanya dinantikan suporter masing-masing, tetapi juga penggemar sepak bola secara luas.
“Ketika melihat kembali pertandingan-pertandingan itu sekarang, saya rasa dahulu kami tidak benar-benar menyadari betapa hebatnya para pemain yang tampil. Sekarang, ketika melihat video di media sosial, kita berpikir, ‘Wow, ternyata pemain-pemain ini luar biasa. Pertandingan itu benar-benar menghadirkan pemain hebat’,” ujar Ferdinand kepada wartawan termasuk tvrinews.com, Jumat, 9 Oktober 2026,
Meski kesulitan menentukan satu momen, bek asal Inggris ini menyinggung gol solo Ryan Giggs saat Manchester United menghadapi Arsenal pada semifinal Piala FA 1999 sebagai salah satu kenangan yang menonjol.
Namun, cerita kemudian beralih ke pengalaman yang lebih panas di luar lapangan. Ferdinand mengingat kembali keributan di lorong pemain atau tunnel Highbury yang tidak terekam kamera.
Kejadian ini berlangsung pada Februari 2005 silam. Kala itu, bek kanan Manchester United Gary Neville mengaku diganggu oleh kapten Arsenal Patrick Vieira yang kemudian dikonfrontasi oleh pemimpin tim Setan Merah Roy Keane.
Kemudian, Pires mengonfirmasi dirinya juga berada di lokasi ketika insiden tersebut terjadi.
Selanjutnya, Gilberto Silva menyampaikan insiden-insiden tersebut dahulu menjadi bahan pembicaraan selama berhari-hari setelah pertandingan, termasuk insiden lemparan pizza yang ikut melekat dalam sejarah rivalitas kedua klub.
Insiden pizza terjadi di Old Trafford, pada Oktober 2004 lalu. Pemain muda Arsenal Cesc Fabregas yang sedang berada di ruang ganti sambil makan pizza, lalu keluar dan melihat keributan yang melibatkan para pemain dari kedua tim.
Gelandang asal Spanyol itu melemparkan sepotong pizza itu secara asal-asalan ke arah kerumunan untuk mencoba memisahkan atau merespons perkelahian tersebut, namun tanpa sengaja mengenai wajah manajer Manchester United Sir Alex Ferguson.
“Sekarang, ketika melihat beberapa video itu, saya mulai tertawa. Namun, itu memang bagian dari rivalitas. Setelah pertandingan, orang-orang membicarakannya selama sepekan, seperti, ‘Kamu melihat perkelahian itu? Kamu melihat apa yang terjadi? Kamu melihat lemparan pizzanya?’” kata Gilberto.
Ia menilai atmosfer persaingan pada masa itu memiliki intensitas berbeda dibandingkan sepak bola saat ini. Meski demikian, ia menegaskan ketegangan tersebut merupakan bagian dari rivalitas yang membuat pertemuan kedua klub begitu berkesan.
Pandangan serupa disampaikan legenda Manchester United Ryan Giggs. Ia mengingat para pemain pada masanya tidak terbiasa berpelukan dengan lawan sebelum pertandingan, seperti yang kerap terlihat dalam sepak bola modern.
Menurut pria berseragam tim berjuluk Setan Merah selama 24 tahun itu, para pemain Arsenal dan Manchester United memang tidak selalu memiliki hubungan akrab ketika bertanding. Namun, mereka tetap menghormati kemampuan lawan.
“Dahulu, kami tidak saling menyukai ketika berada di lapangan. Namun, kami menghormati satu sama lain karena tahu sedang menghadapi pemain dan tim yang hebat,” ujar Giggs.
Ia menjelaskan setelah pertandingan para pemain biasanya berjabat tangan sebelum kembali menjalani aktivitas masing-masing. Hubungan yang lebih akrab justru terbangun setelah mereka tidak lagi harus saling mengalahkan dalam kompetisi.
Giggs mengaku kini bisa duduk bersama dan menikmati kopi dengan mantan rivalnya, termasuk Gilberto Silva dan Robert Pires. Hal tersebut terasa berbeda dibandingkan ketika mereka masih aktif bermain dan harus menjaga fokus penuh demi kemenangan tim.
“Ketika masih menjadi pemain profesional, Anda tidak ingin memikirkan bahwa lawan Anda sebenarnya orang yang baik. Anda harus fokus pada pertandingan dan kemenangan,” ucap Giggs.
Baginya, rasa saling menghormati menjadi inti dari rivalitas tersebut, meskipun persaingan di lapangan berlangsung sangat intens.
“Hal yang paling penting adalah rasa hormat. Ada rasa hormat yang sangat besar, tidak peduli seberapa intens rivalitasnya atau seberapa besar kami tidak menyukai lawan. Itu karena mereka adalah pemain-pemain hebat,” tutur Giggs.
Pertemuan para legenda Arsenal dan Manchester United akan berlangsung dalam laga The Rivalry Returns di Stadion Utama GBK, Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026, mulai pukul 19.00 WIB.
North London Legends akan diperkuat para mantan pemain Arsenal, sedangkan United Legends dihuni legenda Manchester United.
Pertandingan ini menjadi kesempatan bagi penggemar Indonesia untuk menyaksikan kembali sosok-sosok yang pernah menjadi bagian dari salah satu rivalitas paling ikonik di Premier League.
Bagi para pemain, laga tersebut juga menjadi momen untuk mengenang persaingan masa lalu yang dibangun oleh kualitas permainan, ambisi meraih kemenangan, dan rasa hormat terhadap lawan.










