TVRINews – Kansas City
Kota Terkecil di Midwest Ini Berhasil Mengalahkan 26 Kandidat Lain berkat Strategi Pelayanan Total yang Memikat FIFA.
Dalam peta geografi Amerika Serikat, Kansas City, Missouri, sering kali dipandang sebelah mata sebagai flyover country wilayah yang sekadar dilewati dalam penerbangan menuju kota-kota besar di pesisir.
Namun, dinamika tersebut akan segera berubah. Narasi olahraga global kini tertuju pada kota di Midwest ini, yang bersiap menyambut ratusan ribu penggemar sepak bola dari seluruh penjuru dunia.
Stadion Arrowhead, markas klub NFL Kansas City Chiefs yang berkapasitas 76.000 penonton, dijadwalkan menggelar enam pertandingan Piala Dunia 2026.
Salah satu laga yang paling dinantikan adalah potensi pertemuan babak perempat final antara Argentina dan Portugal, yang digadang-gadang sebagai panggung pembuktian terakhir antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Langkah Kansas City untuk menjadi salah satu dari 11 kota penyelenggara di Amerika Serikat dalam turnamen berdurasi 39 hari ini tidak diraih dengan mudah.
Berdasarkan sensus tahun 2020, Kansas City menempati peringkat ke-37 dalam daftar kota berpenduduk terbanyak di AS, sementara sebagian besar kota tuan rumah lainnya berada di peringkat 10 besar.
"Itu adalah kesenjangan yang besar, dan sebagian besar kota yang berada di antara peringkat tersebut juga ikut mengajukan penawaran," ujar Alan Dietrich, Chief Operating Officer Sporting Kansas City, dalam sebuah wawancara bersama Al Jazeera.
Pada fase awal tahun 2017, daftar kandidat mencakup 37 stadion dari 34 kota, termasuk empat kota legendaris yang pernah menggelar Piala Dunia 1994: Chicago, Detroit, Orlando, dan Washington, DC.
Namun, ketika pengumuman resmi dirilis pada 16 Juni 2022, Kansas City berhasil menyisihkan para pesaing utama tersebut dan mengamankan posisi sebagai kota penyelenggara.
Strategi "Kota Sepak Bola" dan Totalitas Pelayanan
Keberhasilan ini merupakan buah dari investasi jangka panjang yang dimulai pada tahun 2013, saat Kansas City mendaftarkan merek dagang sebagai "Soccer Capital of America" (Ibu Kota Sepak Bola Amerika).
Pemerintah daerah dan investor lokal mengucurkan dana lebih dari USD 650 juta untuk pembangunan stadion dan fasilitas pelatihan.
Meski awalnya peluang mereka dianggap kecil, komite pencalonan lokal melakukan berbagai upaya taktis guna memikat hati para delegasi FIFA.
Salah satu langkah yang diambil adalah menciptakan atmosfer sepak bola yang dinamis saat kunjungan inspeksi.
Ketika pejabat FIFA tiba larut malam di Bandara Kota Kansas City yang lama, komite memastikan terminal tetap hidup.
"Kami mengerahkan para sukarelawan dari staf Sporting Kansas City untuk berjalan-jalan di sekitar bandara, membuatnya terlihat hidup dan dinamis," kata Dietrich.
Selama perjalanan darat sejauh 24 kilometer menuju pusat kota, para pengemudi secara khusus menunjukkan lokasi pembangunan bandara baru yang sedang berjalan.
Di hotel tempat menginap, para delegasi disambut dengan pemandangan papan reklame bertuliskan "We Want The Cup", sementara di luar jendela, pertandingan sepak bola jalanan sengaja digelar di lapangan rumput.
"Mereka tersenyum dan mengangguk ketika melihat hal itu," kenang Jake Reid, Wakil Ketua Komite Pengorganisasian Lokal sekaligus Presiden Sporting KC. "Saya pikir upaya detail seperti itu sangat menentukan."
Disiplin logistik yang ketat juga menjadi pembeda utama. Dietrich mengungkapkan bahwa pada kunjungan ke kota berikutnya, panitia setempat sempat melupakan transportasi penjemputan, yang membuat delegasi FIFA tertahan selama tiga jam di bandara. "Kami bekerja keras untuk menyelaraskan segalanya dengan sempurna," tambahnya.
Mengubah Kelemahan Menjadi Keunggulan
Komite lokal berhasil mengubah keterbatasan geografis menjadi keunggulan logistik. Statusnya yang berada di tengah wilayah domestik justru mempermudah akses penerbangan, sementara infrastruktur jalan yang longgar menjamin kelancaran lalu lintas.
"Peringkat transportasi kami awalnya berada di urutan terbawah. Kami membalikkan kondisi tersebut secara total," jelas Reid.
"Realitas jarak di kota besar seperti New York berarti membutuhkan waktu lebih dari dua jam dari bandara ke Stadion MetLife.
Di sini, perjalanan dari bandara kami ke Arrowhead hanya memakan waktu 22 minutes. Kami juga menjadi kota pertama yang mengunci kontrak armada bus, kini kami memiliki lebih dari 225 bus untuk transportasi publik."
Meskipun populasi kota hanya berkisar 508.000 jiwa dengan wilayah metropolitan 2,2 juta jiwa, karakteristik basis penggemar di Midwest dikenal sangat loyal.
Seperti halnya pendukung tim NFL Chiefs atau tim bisbol Kansas City Royals, penonton Piala Dunia diprediksi akan datang dari radius berkendara hingga tiga jam, termasuk dari Omaha dan Springfield.
"Satu faktor yang membedakan kami adalah kami menginginkannya lebih dari siapa pun," tegas Reid. "Bagi New York atau Boston, menjadi tuan rumah adalah sebuah formalitas karena status mereka sebagai pasar utama. Kami tidak memiliki kemewahan itu, jadi kami harus menampilkan performa terbaik kami."
Diplomasi Kuliner dan Akomodasi Tim Internasional
Keberhasilan Kansas City berlanjut setelah pengundian grup tahun lalu. Kota ini berhasil meyakinkan tiga tim raksasa Argentina, Inggris, dan Belanda untuk menjadikan wilayah mereka sebagai base camp (pangkalan latihan), sementara Aljazair memilih kota Lawrence yang berdekatan.
Pendekatan personal kembali digunakan untuk memikat tim nasional Inggris. Panitia menyelenggarakan jamuan makan siang besar dengan menyajikan menu barbecue khas setempat di Power & Light District.
Dietrich menceritakan momen unik saat makan malam bersama pelatih Inggris, Thomas Tuchel.
"Tuchel menoleh ke Jake dan bertanya, 'Apakah kalian siap berkomitmen penuh dengan kami? Karena jika kami memenangkan turnamen, kami semua akan membuat tato khusus turnamen ini.' Jake dan saya langsung menjawab kami siap," kata Dietrich sembari tersenyum.
Selain diplomasi kuliner seperti menyajikan burnt ends (bagian ujung daging sandung lamur yang renyah) di restoran terkenal Fiorella’s Jack Stack Barbecue bersama delegasi Argentina, panitia juga menunjukkan sensitivitas budaya yang tinggi terhadap kebutuhan tim nasional Aljazair.
Aljazair memilih bermarkas di Lawrence, sebuah kota universitas yang tenang berpenduduk 100.000 jiwa di negara bagian Kansas, sekitar 48 kilometer dari pusat kota.
"Mereka tertarik dengan suasana yang tenang, perbukitan, dan ruang terbuka hijau," kata Reid. "Mereka juga meminta penyediaan daging halal, dan kami langsung menyiapkannya melalui tiga pemasok berbeda. Detail-detail seperti itu sangat berarti bagi mereka."
Akar Sejarah Sepak Bola di Midwest
Klaim sebagai "Ibu Kota Sepak Bola Amerika" didukung oleh sejarah panjang yang membentang hingga era 1880-an, ketika jalur kereta api Santa Fe mendirikan tim sepak bola di Topeka, Kansas.
Setelah Piala Dunia 1966, minat terhadap olahraga ini kembali bangkit dengan hadirnya Kansas City Spurs di North American Soccer League (NASL), yang sempat bertanding melawan legenda Brasil, Pele, dan klub Santos pada tahun 1968.
Pada era 1980-an, popularitas olahraga ini dijaga oleh tim sepak bola dalam ruangan (indoor), Kansas City Comets, yang mampu menarik jumlah penonton lebih besar daripada tim NBA dan NHL lokal di Kemper Arena.
"Saat itu, kami harus melakukan banyak edukasi, klinik pelatihan, dan penampilan publik. Dalam satu tahun, saya melakukan 300 kunjungan ke sekolah-sekolah untuk berbicara tentang sepak bola," ujar Alan Mayer, mantan penjaga gawang tim nasional AS dan Kansas City Comets.
Ketika AS menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994, tokoh olahraga Lamar Hunt sempat mengusulkan Stadion Arrowhead, namun FIFA memilih kota lain.
Hunt tetap melanjutkan komitmennya dengan mendirikan KC Wizards (kini Sporting Kansas City) yang kemudian menjuarai MLS Cup pada tahun 2000 dan 2013.
Sektor sepak bola wanita juga berkembang pesat dengan hadirnya Kansas City Current pada tahun 2021 yang kini bermain di Stadion CPKC.
"Ketika saya pertama kali tiba di Kansas City pada pertengahan 80-an, belum ada MLS. Perbedaan antara dulu dan sekarang sangat astronomis," kata Mayer. "
Saya rasa masyarakat belum sepenuhnya menyadari seberapa besar dampak turnamen ini terhadap ekonomi dan bagaimana dunia akan memandang Kansas City. Atmosfer yang diciptakan oleh ratusan ribu orang dari berbagai negara akan sangat luar biasa."










