TVRINews – Portugal
Perselisihan dengan Pelatih Tandai Penutup Karier Internasional Sang Legenda Portugal.
Penyerang legendaris sekaligus kapten tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, resmi mengakhiri perjalanannya di kancah internasional setelah membela negaranya selama 23 tahun.
Keputusan pension dari panggung internasional pada Kamis 5 November 2026 ini muncul setelah terjadinya ketegangan internal antara sang pemain dan pelatih kepala, Jorge Jesus.
Sebelumnya, Ronaldo sempat menerima sanksi disiplin internal berupa larangan beraktivitas selama 30 hari yang telah diselesaikannya, serta denda finansial sebesar 255 euro.
Tindakan tegas tersebut dijatuhkan federasi akibat keputusan Ronaldo meninggalkan pemusatan latihan tim nasional tanpa izin resmi. Gesekan makin meruncing setelah Jorge Jesus mencadangkan penyerang berusia 41 tahun itu pada satu pertandingan dan mengisyaratkan tidak akan menempatkannya sebagai starter pada laga berikutnya.
Pertandingan melawan Wales pada 24 September menjadi penampilan terakhir sang bintang bersama A Selecao. Ronaldo menutup lembaran karier internasionalnya dengan rekor impresif berupa 146 gol dari 234 pertandingan, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa di tingkat tim nasional.
Meskipun Federasi Sepak Bola Portugal menyampaikan apresiasi mendalam dan menegaskan peran Ronaldo sebagai duta global serta inspirasi sepak bola dunia, perpisahan ini meninggalkan dinamika tersendiri di kalangan publik.
Pelatih Jorge Jesus sebenarnya sempat menegaskan bahwa pintu tim nasional tetap terbuka, tetapi penurunan peran dari pemain inti menjadi situasi yang sulit diterima bagi sang penyerang sepanjang kariernya.
Perjalanan Karakter dan Transformasi Kepemimpinan
Dinamika hubungan Ronaldo dengan para juru taktik Portugal bukanlah hal baru. Mantan pelatih tim nasional, Luiz Felipe Scolari, mengenang masa-masa awal kehadiran Ronaldo muda di skuad nasional. Scolari menuturkan bagaimana ia harus membentuk kedisiplinan sang pemain yang kala itu dinilai masih belum matang secara emosional.
Ujian berat pertama Ronaldo hadir pada final Euro 2004 di Lisabon, ketika Portugal dipaksa mengakui keunggulan Yunani lewat gol tunggal Angelos Charisteas. Tangisan Ronaldo di lapangan seusai laga menjadi momen bersejarah yang membentuk ambisi besarnya di kemudian hari.
Keteguhan mentalnya kembali diuji pada September 2005 menjelang laga kualifikasi di Rusia, saat Scolari dan Luis Figo menyampaikan kabar duka atas wafatnya sang ayah. Ronaldo memilih untuk tetap tampil di lapangan dan menjadikan ruang ganti tim nasional sebagai fondasi kekuatannya.
Seiring berjalannya waktu, kedewasaan Ronaldo kian terlihat di bawah kepemimpinan Fernando Santos pada Euro 2016. Sosiolog Joao Nuno Coelho mencatat bahwa keberadaan Ronaldo tidak hanya mengubah orientasi taktis tim, tetapi juga mendefinisikan ulang identitas sepak bola Portugal di tingkat global.
Mantan pemain nasional Jorge Andrade menilai, meski sebagian pendukung di masa lalu memiliki keterikatan kuat dengan figur seperti Luis Figo atau Eusebio, pencapaian gelar juara yang dihadirkan Ronaldo berhasil membungkam keraguan publik.
Pencapaian trofi Euro 2016 di Paris serta dua gelar UEFA Nations League menjadi bukti nyata transformasi Portugal dari tim berpotensi menjadi kekuatan utama sepak bola Eropa. Federasi Sepak Bola Portugal telah merencanakan acara penghormatan khusus guna merayakan kontribusi luar biasa sang kapten bagi dunia olahraga nasional.









