TVRINews, Jakarta
Ganda Campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana harus mengakhiri langkah mereka lebih awal di Indonesia Open 2026 setelah kalah dari pasangan Tiongkok Cheng Xing/Zhang Chi pada babak 32 besar di Istora Senayan, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Dejan/Bernadine menyerah dua gim langsung dengan skor 10-21, 9-21 dalam pertandingan yang berlangsung kurang dari satu jam.
Usai laga, Dejan mengakui penampilan mereka jauh dari ekspektasi. Ia menilai banyak kesalahan sendiri yang membuat strategi yang telah disiapkan sebelum pertandingan tidak berjalan di lapangan.

(Ganda Campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana (Dok. TVRINews.com/Mukhamad Fatkhur Rozaq))
"Hari ini permainan kami kurang baik. Banyak melakukan kesalahan sendiri. Dari servis pembukaan sampai pola permainan juga tidak sesuai dengan yang kami rencanakan sebelumnya. Sangat disayangkan karena bermain di rumah sendiri, tetapi penampilannya tidak bagus," kata Dejan kepada wartawan termasuk tvrinews.com, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, kekalahan ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin bersaing secara konsisten di level atas.
"Masih banyak PR untuk kami berdua. Dari teknik, pola permainan, semuanya masih harus diperbaiki. Nanti kami akan berdiskusi dengan pelatih mengenai apa saja yang harus dikoreksi," ujar Dejan.
Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah ketidakmampuan pasangan Indonesia keluar dari tekanan yang terus diberikan lawan sepanjang pertandingan.
Dejan menjelaskan mereka sebenarnya sudah memiliki rencana permainan yang disiapkan khusus untuk menghadapi pasangan Tiongkok tersebut. Namun, tekanan yang diberikan lawan membuat mereka gagal menjalankan strategi yang telah disusun.

(Ganda Campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana (Dok. TVRINews.com/Mukhamad Fatkhur Rozaq))
"Kami tidak bisa keluar dari tekanan. Sudah menyiapkan plan untuk bermain, tapi tidak sesuai di lapangan. Saat mencoba keluar dari tekanan, mereka terus menyerang sehingga kami tidak mendapatkan momentum untuk membalikkan keadaan. Rasanya kami terus tertekan sepanjang pertandingan," ucap Dejan.
Sementara itu, Bernadine mengakui faktor mental turut memengaruhi penampilannya. Bermain di Istora Senayan dengan dukungan publik yang besar justru membuatnya kesulitan mengatasi rasa gugup.
"Kalau dari saya pasti berbeda. Bermain di Istora juga masih belum banyak pengalaman. Jujur saya nervous dan tidak bisa keluar dari tekanan. Akhirnya rasa grogi itu terbawa ke permainan sehingga penampilan saya juga tidak maksimal," kata Bernadine.
Kekalahan ini juga menjadi bagian dari proses adaptasi pasangan yang relatif baru dibentuk. Dejan menilai transisi Bernadine dari level junior menuju persaingan elite dunia membutuhkan waktu dan peningkatan yang tidak sedikit.
"Saya juga harus beradaptasi karena sekarang berpasangan dengan pemain yang baru naik ke level dewasa. Ternyata tidak mudah. Skill individu saya harus ditingkatkan, Bernadine juga harus naik level lagi. Sekarang kami sudah lebih sering bermain di turnamen level 500 ke atas, jadi tuntutannya berbeda," ujar Dejan
Ia menegaskan peningkatan kualitas individu menjadi kunci jika ingin bersaing di level Super 500, Super 750, hingga Super 1000.
"Kesadaran untuk berkembang harus tinggi. Apalagi untuk Bernadine yang sekarang levelnya sudah naik. Latihannya juga tidak bisa sama seperti sebelumnya. Harus benar-benar dipaksa naik ke level yang lebih tinggi karena kalau tidak, akan sulit bersaing dengan pemain-pemain top dunia," tutur Dejan.
Meski tersingkir di babak pertama Indonesia Open 2026, Dejan menilai pengalaman menghadapi pemain-pemain elite dunia akan menjadi bekal penting bagi mereka untuk terus berkembang dan meningkatkan level permainan pada turnamen-turnamen berikutnya.










