TVRINews – Zurich
Aleksander Ceferin dan UEFA menuntut mosi tidak percaya setelah rencana kontroversial swastanisasi Piala Dunia dibatalkan secara sepihak.
Otoritas tertinggi sepak bola Eropa, UEFA, secara resmi mendesak agar Presiden FIFA, Gianni Infantino, segera meletakkan jabatannya atau menghadapi penyingkiran secara hukum.
Sikap tegas ini menyusul kegagalan rencana kontroversial Infantino untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, yang memicu kemarahan global dari berbagai pemangku kepentingan.
Krisis kepemimpinan ini bermula ketika Infantino secara sepihak meluncurkan proyek Fifa Forward Enterprise (FFE). Inisiatif tersebut dinilai sarat akan pengaruh kapitalis ventura tanpa melalui transparansi dan konsultasi yang memadai dengan asosiasi anggota.
Kebijakan ini dianggap melanggar Pasal 10.3 regulasi FIFA, yang mewajibkan presiden untuk melindungi integritas, nilai-nilai, serta citra positif organisasi.
Ketegangan semakin memuncak dalam dua puluh bulan terakhir akibat serangkaian keputusan sepihak yang dinilai mencederai kredibilitas olahraga. Beberapa di antaranya meliputi pemberian penghargaan perdamaian kepada tokoh politik dunia tanpa proses yang jelas, penerapan aturan jeda minum yang mengubah esensi pertandingan, hingga proses bidding Piala Dunia 2034 yang dinilai terlalu cepat.
Puncaknya adalah rencana ekspansi turnamen menjadi 64 tim yang digagas tanpa konsensus matang.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memimpin perlawanan terbuka dengan mengancam boikot turnamen masa depan jika transparansi dan tata kelola tidak dipulihkan.
Tekanan diplomatik ini memaksa Infantino membatalkan rencananya pada Sabtu 1 Agustus 2026. Kendati demikian, kalangan internal sepak bola internasional menilai langkah mundur sementara tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan institusi.
"Tidak boleh ada kompromi lagi. Kepercayaan terhadap integritas sepak bola telah runtuh, dan institusi ini membutuhkan kepemimpinan baru yang bersih," ujar salah satu sumber senior di lingkungan konfederasi sepak bola internasional yang dikutip The Guardian Minggu 2 Agustus 2026.
Sejumlah pihak di dalam tubuh asosiasi anggota kini mulai mendesak penarikan surat dukungan pencalonan ulang yang sebelumnya telah diberikan kepada Infantino. Langkah administratif ini dipandang sebagai bentuk mosi tidak percaya de facto untuk memaksa transisi kepemimpinan.
Di sisi lain, UEFA dikabarkan tengah mempersiapkan skema distribusi keuangan baru yang lebih mandiri serta menyiapkan kandidat alternatif untuk memimpin pemulihan tata kelola sepak bola dunia secara menyeluruh.









