TVRINews – Zurich
Skenario Kejatuhan Infantino dan Kandidat Penggantinya.
Pertarungan politik tingkat tinggi kini telah resmi dimulai. Pertanyaan besar yang mengemuka di koridor kekuasaan sepak bola dunia adalah bagaimana proses lengsernya Infantino dapat terwujud?
Skenario tercepat bagi kejatuhan Infantino adalah pengunduran diri secara sukarela, sebuah jalan terjal yang pernah ditempuh oleh pendahulunya, Sepp Blatter, pada tahun 2015 silam.
Kendati demikian, dengan basis dukungan yang masih tersisa, Infantino diprediksi akan berupaya bertahan hingga bulan Maret mendatang, bertepatan dengan bursa pemilihan masa jabatan keempat sekaligus terakhirnya.
Jika jalur pengunduran diri gagal ditempuh, opsi konstitusional melalui Dewan FIFA (Fifa Council) menjadi medan pertempuran berikutnya. Pertemuan darurat dapat diaktifkan apabila 19 dari total 37 anggota dewan secara resmi mengajukan mosi. Berdasarkan kalkulasi kekuatan saat ini, UEFA memiliki 9 suara, AFC 7 suara, Concacaf 5 suara, Afrika 6 suara, Conmebol 5 suara, serta Oseania 3 suara.

(Foto Ilustrasi: TVRINews.com/FitYan)
Kendati demikian, menurut pengamatan media olahraga internasional BBC Sport, pencapaian angka 19 suara tersebut masih menyisakan keraguan di internal dewan. Sekalipun kuota tercapai dan pertemuan darurat digelar, Infantino secara hukum tetap memiliki hak untuk menolak tekanan mundur, yang praktis hanya akan berfungsi sebagai instrumen penekanan politik lanjutan.
Langkah eskalasi berikutnya adalah digelarnya Kongres Luar Biasa (Extraordinary Congress) yang melibatkan 211 asosiasi anggota FIFA. Forum ini dapat diwujudkan apabila selimo lima bagian atau setidaknya 43 asosiasi anggota melayangkan permintaan tertulis.
Dengan kekuatan 55 negara anggota yang berada di bawah naungannya, UEFA memiliki keleluasaan penuh untuk memicu kongres luar biasa tersebut kapan pun mereka kehendaki. Namun, proses administratif ini memakan waktu minimal dua hingga tiga bulan, tanpa jaminan keberhasilan instan.
Secara substansial, forum tersebut akan menjadi pemungutan suara mosi tidak percaya secara de facto. Untuk meloloskan mosi tersebut, kubu oposisi membutuhkan sedikitnya 106 suara bulat dari total asosiasi anggota.
Peta sebaran suara saat ini menunjukkan angka yang dinamis. Dari total 136 negara yang secara resmi menolak rencana investasi privat tersebut, tidak otomatis semuanya sepakat untuk melengserkan Infantino. Qatar tercatat telah memberikan dukungan terbuka kepada sang presiden, sementara Meksiko memilih mengambil jarak dari pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Concacaf.
Siapa Pengganti Potensial?
Apabila kubu oposisi di bawah komando UEFA memilih jalur pemilihan terbuka pada bulan November mendatang, mereka mutlak harus menemukan figur pemimpin pemersatu berkaliber global.
Sebagai pihak yang memimpin garis keras oposisi, kandidat asal Eropa diprediksi akan menemui jalan terjal untuk meraup dukungan global, mengingat risiko persepsi bahwa Eropa sedang berupaya melakukan takeover terhadap otoritas tertinggi sepak bola dunia. Oleh karena itu, figur ideal harus berasal dari kawasan yang mampu merangkul negara-negara di Concacaf, Afrika, dan Asia yang sebelumnya setia kepada Infantino.
Nama pertama yang mengemuka sebagai suksesor potensial adalah Presiden Concacaf, Victor Montagliani. Serupa dengan rekam jejak awal Infantino pada tahun 2016, Montagliani naik ke panggung kekuasaan dengan membawa narasi reformasi tata kelola.
Mantan Presiden Asosiasi Sepak Bola Kanada ini memiliki keunggulan kompetitif berupa kemampuan multilingual fasih berbahasa Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol serta pengalaman manajerial dalam menyukseskan perhelatan akbar Piala Dunia.
Alternatif kedua mengerucut pada figura Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa. Terpilih pertama kali pada tahun 2013 dan kembali memimpin tanpa pesaing hingga tahun 2027, Sheikh Salman memegang kendali atas konfederasi beranggotakan 46 negara.
Sejumlah pihak di konfederasi Asia memandang tawaran finansial dari rencana awal Infantino sebagai nominal yang masif bagi neraca pengeluaran sepak bola domestik mereka. Sementara itu, peluang Presiden Paris Saint-Germain (PSG) asal Qatar, Nasser Al-Khelaifi, dinilai lebih kecil meski ia memegang kendali strategis sebagai Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA).
Al-Khelaifi sebelumnya diakui sukses merajut kembali harmoni sepak bola Eropa pascakatastrofe Liga Super Eropa (European Super League). Kendati secara teori memiliki kapasitas penuh, faktor kedekatan geopolitik Qatar dengan Infantino diprediksi akan menjadi batu sandungan tersendiri.
Menghitung Waktu dan Peluang Bertahan
Dalam lanskap bisnis korporasi normal, seorang eksekutif puncak dengan catatan kontroversi serupa dipastikan tidak akan mampu mempertahankan posisinya. Namun, seperti yang berulang kali dibuktikan oleh sejarah sepak bola modern, ekosistem organisasi ini sering kali berjalan di luar hukum bisnis konvensional.
Upaya mitigasi krisis kini tengah digencarkan oleh kubu Infantino melalui lobi tingkat tinggi demi meredam gejolak. Melalui pernyataan resmi pada akhir pekan lalu, Infantino menegaskan komitmennya untuk "membawa seluruh pihak berkepentingan kembali duduk bersama dalam beberapa hari dan minggu ke depan."
Strategi diplomasi dan pendekatan personal tersebut tampak mulai membuahkan hasil di kancah regional. Menyusul langkah Qatar, negara tuan rumah Piala Dunia 2030, Maroko, secara terbuka menyatakan dukungannya pada Sabtu malam. Langkah serupa diikuti oleh Mesir yang memberikan apresiasi atas pembatalan rencana strategis kontroversial tersebut.
Bagi Infantino, strategi merangkul kembali asosiasi anggota satu per satu secara perlahan akan memperkecil probabilitas keberhasilan mosi tidak percaya. Dengan rentang waktu tiga bulan menuju tenggat waktu kongres, ia memiliki ruang manuver krusial untuk memulihkan citra dan memperbaiki keretakan politik yang terjadi.
Sebaliknya, bagi kubu UEFA, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga momentum tekanan kolektif dari berbagai federasi benua agar tetap konsisten, sehingga Infantino tidak memiliki opsi lain selain meletakkan jabatannya secara terhormat.
Kendati demikian, variabel eksternal yang paling ditakuti oleh birokrat sepak bola dunia manapun tetaplah konsistensi sikap para sponsor utama korporasi. Mengaca pada skandal korupsi akbar FIFA tahun 2015 silam, eksodus sponsor raksasa korporasi multinasional seperti Sony, Emirates, Castrol, Continental Tyres, hingga Johnson & Johnson terbukti menjadi faktor krusial yang meruntuhkan tembok pertahanan internal organisasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat indikasi eskalasi penarikan diri dari para mitra komersial utama FIFA. Kendati demikian, dinamika politik bola bundar ini menyimpan potensi turbulensi panjang yang masih akan terus bergulir dalam beberapa waktu ke depan.









