TVRINews – Geneva
Kebijakan penjualan saham turnamen yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino resmi dibatalkan setelah memicu ancaman boikot global dari federasi sepak bola Eropa.
Posisi Gianni Infantino sebagai orang nomor satu di tubuh sepak bola dunia mendadak berada di ujung tanduk. Belum genap dua pekan usai kemeriahan final Piala Dunia yang sukses secara finansial, Presiden FIFA itu harus menghadapi badai krisis politik terbesar sepanjang masa kepemimpinannya.
Kontroversial Infantino yang menggandeng investor swasta untuk membeli saham masa depan keuntungan Piala Dunia memicu reaksi keras. Gelombang penolakan masif dari federasi Eropa, kritik terbuka dari pejabat internal, hingga ancaman boikot turnamen internasional memaksa Infantino melangkah mundur dan membatalkan rencana tersebut pada Jumat 31 Juli 2026 waktu setempat.
"Setelah mendengarkan dengan seksama seluruh pandangan, telah menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal," ujar Infantino dalam pernyataan resminya dikutip oleh AP News Sabtu 1 Agustus 2026.
Sebelum krisis ini meletus, Infantino tampak berada di puncak kejayaannya. Ia baru saja mendampingi Presiden Amerika Serikat menyaksikan laga puncak di Stadion MetLife, New York, pada 19 Juli lalu.
Turnamen dengan 104 pertandingan tersebut meraup rekor pendapatan global sebesar 15 miliar dolar Amerika Serikat untuk siklus 2023 hingga 2026, yang seharusnya memuluskan jalan sang presiden menuju pemilihan ulang pada Maret mendatang di Rabat, Maroko.
Namun, angin politik berubah arah secara drastis akibat proyek subsidiari bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Melalui skema tersebut, FIFA berencana meraup 4,2 miliar dolar Amerika Serikat dari investor swasta yang dipimpin oleh konsorsium Thrive Eternal milik Joshua Kushner adik ipar Donald Trump dengan imbalan 20 persen kepemilikan atas aset komersial turnamen.
Meski FIFA menjanjikan peningkatan dana bantuan bagi 211 negara anggota dari 10 juta dolar menjadi 20 juta dolar Amerika Serikat, penolakan tetap tidak terbendung. Kalangan pengamat dan pendukung sepak bola tradisional menilai Piala Dunia adalah simbol kejayaan olahraga, bukan komoditas bisnis murni.
Tekanan mencapai puncaknya ketika Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) mengancam akan memboikot seluruh kompetisi resmi FIFA jika proyek itu dilanjutkan. Kekhawatiran utama merujuk pada potensi eksploitasi jadwal pertandingan yang semakin padat demi kepuasan investor, yang dinilai dapat merusak ekosistem sepak bola klub global termasuk Liga Champions.
Badai internal turut mengguncang markas FIFA di Zurich. Penasihat senior Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri dan menyebut proyek tersebut sebagai keputusan yang buruk.
Sementara itu, Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour melontarkan pernyataan keras kepada Associated Press demi membela rekan kerjanya, sebuah sikap pembangkangan terbuka yang belum pernah terjadi sebelumnya di era kepemimpinan Infantino.
Meskipun blok Afrika dan Amerika Selatan (CONMEBOL) mengambil sikap lebih hati-hati terhadap tawaran finansial tersebut, legitimasi kepemimpinan Infantino kini telak mengalami erosi.
Tenggat waktu pendaftaran kandidat presiden baru jatuh pada 18 November mendatang, empat bulan sebelum pemilihan resmi digelar.
Spekulasi mengenai figur penantang kuat kini mulai mengerucut pada Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaïfi dan Wakil Presiden FIFA asal Kanada, Victor Montagliani. Apa yang dahulu dianggap sebagai wacana mustahil, kini berubah menjadi skenario nyata yang siap mengubah peta politik sepak bola global.









