TVRINews – Barcelona,Spanyol
Dari Momen Memandikan Bayi Menuju Puncak Kejayaan Sepak Bola Dunia
Hampir dua dekade silam, fotografer Joan Monfort tidak pernah menyangka bahwa bidikan kameranya saat mengabadikan Lionel Messi memandikan seorang bayi di dalam bak plastik akan menjadi narasi legendaris.
Kini, bayi tersebut telah tumbuh menjadi bintang muda sepak bola, Lamine Yamal, dan keduanya akan berhadapan di panggung tertinggi: Final Piala Dunia.
Foto-foto yang memperlihatkan Messi muda dengan tangan bersabun tampak seperti sedang "memberkati" penerusnya. Kini, citra tersebut menjadi pusat perhatian global menjelang laga puncak antara Argentina dan Spanyol di Amerika Serikat.

(Lionel Messi, membantu memandikan Lamine Yamal, yang saat itu baru berusia enam bulan, selama sesi pemotretan pada September 2007 di ruang ganti stadion Camp Nou di Barcelona, Spanyol. (Foto AP/Joan Monfort))
"Saya bukan orang yang percaya pada takdir. Namun, melihat apa yang terjadi saat ini, saya mulai meragukan pendirian saya sendiri. Ini melampaui penjelasan yang logis," ujar Monfort dalam wawancara dengan The Associated Press dari kediamannya di Barcelona, Jumat 17 Juli 2026.
Monfort, seorang fotografer lepas yang bekerja untuk The Associated Press, mengambil gambar tersebut pada tahun 2007 sebagai bagian dari proyek kalender amal untuk UNICEF.
Secara kebetulan, ibu Yamal memenangkan undian yang memungkinkan putranya terpilih untuk terlibat dalam sesi pemotretan bersama Messi, yang saat itu sudah menjadi bintang besar di Barcelona.
Sejarah mencatat jalan hidup yang kontras. Messi harus meninggalkan Barcelona dengan penuh haru pada 2021 akibat krisis finansial klub, sementara Yamal muncul sebagai sensasi baru dua tahun berselang.
Kini, perjalanan panjang itu mencapai titik kulminasi: Yamal yang berusia 19 tahun akan menantang Messi, yang terpaut 20 tahun lebih tua darinya, demi memperebutkan trofi paling prestisius di dunia.
Viral Setelah Bertahun-tahun
Foto ikonik tersebut sempat terlupakan selama bertahun-tahun hingga ayah Yamal mengunggahnya di media sosial selama Euro 2024. Sejak saat itu, gambar tersebut menjadi viral dan memicu perdebatan mengenai suratan takdir dalam olahraga.
"Fenomena ini meledak di seluruh dunia, dan fakta bahwa final Piala Dunia berlangsung di Amerika Serikat memberikan dorongan ekstra," tambah Monfort. "Ini melampaui naskah film mana pun yang pernah ditulis."

(Lionel Messi, menggendong Lamine Yamal, yang saat itu baru berusia enam bulan, selama sesi pemotretan pada September 2007 di ruang ganti stadion Camp Nou di Barcelona, Spanyol. (Foto AP/Joan Monfort))
Bagi para pendukung Barcelona, laga final ini menghadirkan dilema emosional yang mendalam. Di jalanan kota Barcelona, pemandangan anak-anak mengenakan jersey Messi baik saat ia berseragam Barcelona, Argentina, maupun Inter Miami berdampingan dengan seragam Yamal, menjadi bukti betapa kedua pemain ini sangat dicintai.
Monfort sendiri mengaku bimbang. Sebagai penggemar seumur hidup Barcelona, ia menaruh hormat yang mendalam kepada Messi, namun ia juga mengakui pesona Yamal yang merepresentasikan wajah Spanyol baru yang multikultural.
"Hati saya terbagi. Saya tidak tahu siapa yang ingin saya menangkan," tutup Monfort dengan nada reflektif. "Mungkin takdir punya rencana lain. Setelah semua yang kita saksikan, saya rasa tidak ada yang tidak mungkin."
Laga final yang akan digelar di New Jersey ini tidak sekadar menjadi pertarungan strategi di atas lapangan hijau, melainkan sebuah konfrontasi antara masa lalu yang agung dan masa depan yang menjanjikan, yang terikat oleh satu momen sederhana di dalam bak mandi belasan tahun silam.










