TVRINews – East Rutherfor, New Jersey
Permukaan lapangan hybrid di East Rutherford menjadi sorotan tajam jelang laga puncak antara Argentina dan Spanyol, di tengah kritik pemain mengenai standar kualitas.
Pertandingan final Piala Dunia yang mempertemukan Argentina dan Spanyol di Stadion Meadowlands, New Jersey, Minggu 19 Juli 2026 atau senin 20 Juli dini hari waktu Indonesia, dibayangi oleh perdebatan sengit mengenai kualitas permukaan lapangan.
Hingga detik-detik terakhir sebelum laga penentu, kualitas rumput stadion ini masih memicu beragam respons dari para pelaku sepak bola dunia.

Sejak turnamen bergulir, Stadion Meadowlands telah menjadi pusat perhatian karena penggunaan rumput hibrida kombinasi rumput alami dengan serat sintetis yang ditanam untuk memperkuat struktur lapangan.
Meski dirancang untuk meminimalisir risiko cedera, implementasinya di lapangan membuahkan ulasan yang jauh dari seragam.
Spektrum Kritik dari Pemain dan Pelatih
Pandangan mengenai karakteristik lapangan ini terbelah. Bintang Brasil, Vinicius Junior, secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap kondisi lapangan. Sementara itu, pelatih Prancis, Didier Deschamps, menggambarkan kondisi tersebut sebagai sesuatu yang "spesial", namun dengan nada negatif, merujuk pada beban fisik tambahan yang harus ditanggung otot para pemain.
Di sisi lain, Ståle Solbakken, pelatih tim nasional Norwegia, awalnya merasa skeptis. Namun, setelah memimpin pasukannya bertanding di sana, ia justru memberikan apresiasi yang tak terduga. Menurut Solbakken, kondisi lapangan sangat bergantung pada kelembapan.
"Lapangan terasa jauh lebih baik saat hujan, karena air membuat bola tidak tertahan di permukaan. Permainan menjadi lebih cepat dan halus," ujar Solbakken. Ia menambahkan bahwa tanpa bantuan hujan, permukaan yang kering dan pendek berpotensi menyulitkan aliran bola yang presisi.
Thomas Tuchel, pelatih tim nasional Inggris, turut memberikan observasi teknis. Ia membandingkan lapangan tersebut dengan permukaan sintetis karena pendeknya helai rumput. "Lapangan ini sangat cepat. Terkadang terasa tidak rata karena lapisan rumput yang masih terlihat, namun secara keseluruhan, ini tetap dapat dimainkan," ungkap Tuchel.
Upaya FIFA dalam Pemeliharaan
FIFA menyatakan telah melakukan upaya maksimal dalam lima tahun terakhir untuk mempersiapkan standar permukaan yang ideal, melibatkan para ahli rumput dan operator stadion.

Selama jeda 13 hari sebelum final, tim pengelola lapangan telah bekerja ekstra keras melalui serangkaian proses perawatan, mulai dari aerasi, pemotongan, hingga manajemen irigasi yang ketat.
"Tujuan kami tetap konsisten, yakni menghadirkan permukaan yang memenuhi standar performa, konsistensi, dan keselamatan pemain setinggi mungkin," demikian pernyataan resmi FIFA menanggapi kritik yang beredar.
Bayang-bayang Ketidakpastian
Faktor cuaca kembali menjadi variabel kunci. Prediksi cuaca yang membawa potensi hujan di area New Jersey menjelang hari pertandingan mungkin akan menjadi "penolong" bagi kualitas lapangan, sebagaimana yang dialami tim Norwegia sebelumnya.
Pasca-final, lapangan ini dijadwalkan untuk dibongkar dan diganti kembali dengan rumput sintetis guna menyambut musim NFL pada pertengahan Agustus mendatang.
Transisi ini memicu diskusi lebih luas mengenai standar fasilitas olahraga, di mana para pemain profesional NFL, seperti Laremy Tunsil dari Washington, menyuarakan desakan agar kualitas rumput alami yang dihadirkan di Piala Dunia ini bisa dipertahankan secara permanen bagi kompetisi liga Amerika.










