TVRINews – Rio De Janeiro
Solidaritas Amerika Latin pecah jelang laga krusial final Piala Dunia.
Menjelang babak final Piala Dunia yang mempertemukan Argentina dan Spanyol, sebuah fenomena menarik muncul di kawasan Amerika Latin. Alih-alih memberikan dukungan solidaritas bagi sesama negara Amerika Latin, sebagian besar publik di kawasan ini justru secara terbuka menyatakan keberpihakan kepada Spanyol.
Sentimen ini, menurut para pengamat sepak bola yang di himpun The Guardian, tidak hanya dipicu oleh rivalitas olahraga tradisional, melainkan juga akumulasi isu sosial, termasuk insiden rasisme yang melibatkan oknum suporter Argentina dalam beberapa turnamen terakhir.
Jurnalis sekaligus kolumnis terkemuka asal Brasil, Julia Duailibi, secara terbuka menyatakan tidak akan mendukung Argentina dalam final mendatang. Dalam kolomnya di surat kabar O Globo, Duailibi mengaku sulit untuk memberikan dukungan moral bagi tetangganya tersebut.
"Saya selalu mengagumi para hermanos (saudara) dan ingin sekali mendukung tim Amerika Latin," tulis Duailibi. "Namun, saya harus mengakui bahwa pemandangan rasis yang melibatkan minoritas suporter, serta sikap diam mayoritas di lapangan, membuat saya muak." The Guardian Minggu 19 Juli 2026.
Pergeseran Loyalitas Regional
Nicolás Cabrera, seorang sosiolog dan antropolog Argentina yang meneliti kultur pendukung sepak bola di Amerika Latin, mencatat adanya pergeseran pola dukungan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
"Dulu, publik cenderung mendukung tim Amerika Latin jika berhadapan dengan tim Eropa. Namun, hal itu berubah cukup drastis baru-baru ini," ujar Cabrera kepada The Guardian dalam laporan yang diterbitkan pada Sabtu 18 Juli 2026.
Cabrera menilai bahwa "keretakan" dalam solidaritas regional ini dipicu oleh beberapa faktor. Selain dominasi prestasi Argentina yang mencapai tiga dari empat final Piala Dunia terakhir, meningkatnya intensitas pertemuan antar-klub di turnamen kontinental seperti Copa Libertadores juga memperuncing gesekan antar-suporter.
Lebih jauh, media sosial dinilai memainkan peran besar dalam memperluas jangkauan kebencian. "Ujaran kebencian, rasisme, xenofobia, dan diskriminasi mulai bersirkulasi dengan cara yang sebelumnya bersifat marginal dan kurang terlihat," tambah Cabrera, yang kini menjadi peneliti di Rio de Janeiro.
Debat Mengenai Rasisme dan Solidaritas
Kasus rasisme memang menjadi sorotan utama. Di Brasil, beberapa turis Argentina sempat berurusan dengan hukum terkait "penghinaan rasial". Sementara itu, di Argentina sendiri, ketiadaan hukum yang secara eksplisit mengkriminalisasi rasisme sering kali dikritik oleh pihak luar sebagai celah dalam menangani perilaku diskriminatif.

(Penyerang asal Argentina yang bermain untuk Benfica, Gianluca Prestianni, menutup mulutnya saat berdebat dengan Vinícius Júnior, yang melayangkan dugaan hinaan rasis.(Foto: Patrícia de Melo Moreira/AFP))
Meski demikian, tidak semua pengamat setuju bahwa rasisme harus menjadi alasan tunggal untuk meninggalkan Argentina. Fábio Luís Barbosa dos Santos salah satunya, sejarawan Brasil yang berspesialisasi pada kawasan Amerika Latin, memiliki pandangan berbeda.
"Jika masalahnya adalah rasisme, maka Anda juga tidak bisa mendukung Spanyol," ujar Santos, merujuk pada catatan kolonialisme Spanyol dan berbagai insiden rasisme yang menimpa pemain Brasil, Vinícius Júnior, di Liga Spanyol (La Liga).
Santos justru tetap memberikan dukungannya kepada Argentina. Menurutnya, negara-negara ini terikat oleh sejarah kelam masa lalu, mulai dari era kolonial, rezim kediktatoran, hingga tantangan politik ekstrem kanan saat ini. "Kemalangan mereka adalah kemalangan kita juga, sebagaimana sukacita mereka seharusnya menjadi milik kita," tegas Santos.
Di tengah perdebatan sengit ini, jutaan penonton di seluruh dunia bersiap menantikan laga puncak. Bagi sebagian pendukung seperti João Felipe Jr, pengemudi transportasi daring asal Rio de Janeiro, keputusan untuk mendukung Argentina murni didasari pada kekaguman terhadap sosok Lionel Messi.
"Mereka layak berada di final, terutama karena apa yang dilakukan Messi. Bagi saya, ini semua tentang dia. Saat dia pensiun nanti, saya akan berhenti mendukung Argentina," ungkap Felipe Jr.










