TVRINews – Swiss
Format baru Piala Dunia Antarklub FIFA dianggap peluang besar bagi klub non-Eropa, tapi dibayangi kritik soal uang, kelelahan pemain, dan ketimpangan hadiah.
FIFA resmi menggulirkan edisi perdana Piala Dunia Antarklub dengan format 32 tim, yang akan digelar di Amerika Serikat pada musim panas 2025. Langkah ini disebut-sebut sebagai "revolusi" dalam sepak bola klub dunia, membuka jalan bagi kesetaraan kompetisi lintas benua. Namun di balik semangat inklusivitas, muncul kritik tajam soal motif ekonomi dan ketimpangan sistem.
"Kami datang untuk berkompetisi, tapi juga menunjukkan seperti apa keunggulan Afrika," ujar Tlhopie Motsepe, Presiden klub Mamelodi Sundowns asal Afrika Selatan, yang akan menghadapi Ulsan Hyundai dari Korea Selatan dalam laga pembuka 17 Juni nanti. "Jika orang-orang pulang dan berkata, 'Ingat tim dari Afrika Selatan itu? Luar biasa cara mereka bermain', maka itu kesuksesan bagi kami." Jelasnya kepada ESPN Sport.
Pernyataan Motsepe mencerminkan semangat dari sebagian besar peserta non-Eropa yang melihat turnamen ini sebagai panggung langka untuk unjuk gigi. Presiden FIFA Gianni Infantino pun lima tahun lalu pernah menyatakan ambisinya menjadikan "setidaknya 50 klub dari seluruh dunia" bersaing di level tertinggi.
Namun tidak semua pihak sejalan. FIFPro, serikat pemain profesional global, mengkritik padatnya jadwal kompetisi yang membebani para pemain. Bahkan gugatan hukum terhadap FIFA tengah disiapkan. "Turnamen ini dipaksakan di tengah musim yang melelahkan," ujar perwakilan FIFPro.
Kritik lain datang dari skema hadiah yang dinilai timpang. Klub-klub raksasa seperti Real Madrid disebut akan menerima pembayaran jauh lebih besar dari klub-klub kecil seperti Auckland City sebagian besar bukan karena prestasi, melainkan karena "pilar partisipasi" yang dianggap sebagai uang tampil.
Bahkan keikutsertaan Inter Miami yang tidak menjuarai MLS hanya karena diperkuat Lionel Messi, dinilai sebagai keputusan demi menggiring perhatian publik. Tiket pertandingan pembuka antara Inter Miami vs Al Ahly pun dilaporkan sempat turun dari harga $350 menjadi hanya $55, menggambarkan betapa target penonton tak tercapai.
"Turnamen ini dijual sebagai momen penting, tapi terlalu banyak janji yang belum tentu ditepati," tulis analis sepak bola Gabriele Marcotti dalam kolomnya di ESPN.
Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa ini adalah momen bersejarah: klub-klub dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin kini punya tempat sah di panggung dunia. Layaknya Piala Dunia 1930 yang penuh kekacauan hingga tim Mesir gagal ikut karena "ketinggalan kapal" Piala Dunia Antarklub ini pun akan melalui fase transisi.
Apakah ini akan menjadi turnamen global sejati yang menyatukan dunia klub seperti World Cup untuk tim nasional, atau justru hanya menjadi proyek ambisius yang kandas di tengah jalan?










