TVRINews – Teheran
Federasi Sepak Bola Iran menuntut kepastian visa dan penghormatan simbol negara di tengah ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengonfirmasi kesiapan tim nasional pria mereka untuk berlaga di Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung Juni mendatang.
Namun, kepastian ini datang dengan catatan krusial: Teheran menuntut tuan rumah Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada untuk memenuhi sejumlah persyaratan ketat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Permintaan Jaminan ini diambil setelah munculnya ketidakpastian mengenai partisipasi Iran sejak Februari lalu, menyusul ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Situasi kian memanas setelah Kanada menolak masuk Presiden FFIRI bulan lalu dengan alasan keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Diplomasi di Atas Rumput Hijau
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui situs resminya pada Sabtu (9/5), otoritas sepak bola Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari panggung dunia, namun tetap memegang teguh prinsip kedaulatan mereka.
"Kami pasti akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026, namun tuan rumah harus mempertimbangkan kekhawatiran kami. Kami akan berpartisipasi tanpa mundur sedikit pun dari keyakinan, budaya, dan prinsip kami," tulis pernyataan resmi Federasi Sepak Bola Iran.
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, mengungkapkan kepada televisi pemerintah bahwa pihaknya telah menyusun 10 syarat mutlak.
Poin-poin tersebut mencakup jaminan pemberian visa bagi seluruh delegasi, penghormatan terhadap bendera dan lagu kebangsaan, serta standar keamanan tinggi di bandara, hotel, dan akses menuju stadion.
Persoalan Visa dan Status IRGC
Isu paling sensitif terletak pada status anggota tim yang pernah menjalani wajib militer di bawah IRGC.
Mengingat AS dan Kanada mengategorikan kelompok tersebut sebagai organisasi terlarang, muncul kekhawatiran akan adanya pencekalan terhadap bintang-bintang lapangan hijau Iran.
"Seluruh pemain dan staf teknis, terutama mereka yang telah menjalani masa wajib militer di IRGC, seperti Mehdi Taremi dan Ehsan Hajsafi, harus diberikan visa tanpa kendala," tegas Mehdi Taj.
Merespons hal tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa para atlet Iran pada dasarnya diterima untuk berkompetisi.
Meski demikian, Washington memberikan peringatan bahwa mereka tetap memiliki wewenang untuk melarang masuk anggota delegasi yang memiliki afiliasi langsung dengan IRGC.
Komitmen FIFA
Di tengah tarik-ulur diplomatik ini, Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan bahwa jadwal pertandingan Iran tidak akan berubah.
Berdasarkan hasil pengundian, Iran tergabung dalam Grup G bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.
Iran dijadwalkan bermarkas di Tucson, Arizona, dan akan melakoni laga pembuka melawan Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni 2026.
FFIRI menegaskan bahwa hak mereka untuk bertanding adalah hasil dari kualifikasi yang sah secara olahraga.
"Tidak ada kekuatan eksternal yang dapat merampas partisipasi Iran dalam turnamen yang kami raih dengan penuh kepantasan," pungkas pernyataan federasi tersebut.










