TVRINews, Nagoya
Mikhayla Shanum Caya berlatih delapan jam sehari, hampir setiap hari, untuk mengejar mimpinya menjadi seorang Olimpian.
Di usianya yang masih belia, Mikhayla sudah terbiasa membagi waktu antara sekolah dan latihan skateboard. Sepulang sekolah, ia langsung kembali berlatih hingga malam.
“Biasanya setiap hari sih,” kata Mikhayla dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Senin, 28 September 2026.
Ketika ditanya mengenai durasi latihan, jawabannya singkat.
“Biasanya delapan jam,” ujar Mikhayla.
Rutinitas tersebut membuat kesehariannya cukup padat. Setelah menjalani aktivitas sekolah, Mikhayla kembali bermain skateboard hingga malam. Tidak jarang waktu istirahatnya pun dilakukan di skate park.
“Entah nanti latihan dari pagi sampai malam, terus pulang sekolah langsung main skate, habis itu malam baru istirahat. Kalau enggak, istirahat di skate park,” tutur Mikhayla.
Bagi Mikhayla, rutinitas panjang tersebut bukan alasan untuk berhenti. Ia memiliki tujuan yang ingin diwujudkan sejak dini.
“Aku mau wujudin cita-citaku jadi Olimpian,” kata Mikhayla.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi salah satu panggung terbesar yang pernah dijalani Mikhayla. Setelah menyelesaikan penampilannya, ia mengaku lega. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan.
“Rasanya kayak habis Asian Games sudah lega, tapi aku juga termotivasi untuk belajar lebih maksimal lagi,” ucap Mikhayla.
Salah satu pelajaran yang ia dapat adalah melihat langsung kemampuan para skateboarder dari negara lain. Bagi Mikhayla, bertemu atlet dengan kemampuan berbeda menjadi kesempatan untuk mempelajari trik baru.
“Aku dapat pelajaran buat belajar trik. Oh, dia bisa trik ini, aku juga harus bisa,” kata Mikhayla.
Tampil di panggung Asian Games tentu tidak sepenuhnya bebas dari rasa gugup.
“Nervous pasti ada,” ucap Mikhayla.
Namun, Mikhayla punya cara sendiri untuk mengatasinya. Ketika kamera menyorotnya, ia sempat berjoget.
“Joget-goyang Brazil,” tutur Mikhayla sambil menjelaskan aksinya.
Bukan ritual khusus, aksi tersebut dilakukan Mikhayla untuk mengurangi rasa gugup sebelum kembali fokus pada penampilannya.
“Penghilang nervous,” ujar Mikhayla.
Kecintaan Mikhayla terhadap skateboard sendiri tumbuh sejak usia dini. Sang ayah, yang pernah menjadi atlet skateboard, menjadi sosok pertama yang mengenalkannya dengan olahraga tersebut.
“Aku kayaknya baru naik skateboard dari bayi, cuma bisa jalannya mungkin umur empat tahun, lima tahun,” kata Mikhayla.
Pada awalnya, ia bahkan belum langsung menikmati latihan. Mikhayla mengaku sempat bermain skateboard sambil menangis atau ngambek. Namun, seiring bertambahnya usia, skateboard justru menjadi bagian dari kesehariannya.
“Dulu mainnya agak-agak ngambek-ngambek, tapi makin tumbuh jadi makin konsisten,” ucap Mikhayla.
Jatuh dan mengalami luka juga menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. Bagi Mikhayla, cedera ringan dan jatuh bukan alasan untuk meninggalkan skateboard.
“Enggak tahu, pengin aja main skate, biarin aja. Kayak luka-luka itu kan bagian dari proses ke profesional, ke Olimpiade,” tutur Mikhayla.
Delapan jam latihan setiap hari, sekolah, jatuh, luka, hingga pengalaman tampil di Asian Games menjadi bagian dari perjalanan Mikhayla. Ia sadar jalan menuju Olimpiade masih panjang, tetapi tujuan akhirnya sudah jelas.
“Mimpi aku bisa menang di Olimpiade,” kata Mikhayla.










