TVRINews, Tokyo
Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dengan torehan 73 medali dan menempati peringkat kedelapan klasemen akhir. Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, karena melampaui target yang ditetapkan sebelum kompetisi.
Upacara penutupan Asian Para Games 2026 digelar di Nagoya City Mizuho Park Athletic Stadium, Jepang, Sabtu, 24 Oktober 2026. Acara berlangsung meriah dengan pertunjukan seni dan tarian khas Jepang yang menandai berakhirnya pesta olahraga atlet disabilitas terbesar di Asia tersebut.
Dalam seremoni penutupan, atlet para powerlifting Indonesia, M. Mabruk Arib Dzaky, mendapat kehormatan menjadi pembawa bendera Merah Putih. Para atlet dari berbagai negara juga tampil bersama sebagai simbol persatuan setelah berkompetisi di arena olahraga.
Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini Sjahrir menyampaikan apresiasi kepada para atlet, pelatih, dan tim pendukung Indonesia yang telah berjuang sepanjang kompetisi.
“Selamat dan terima kasih kami ucapkan kepada seluruh atlet, pelatih dan tim pendukung kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026. Tampilan prima dari atlet kita di keseluruhan pertandingan membuahkan hasil yang membanggakan bangsa Indonesia,” ujar Kartini dalam keterangan KBRI Tokyo, Minggu, 25 Oktober 2026.
Raih 15 Emas, Lampaui Target Awal
Indonesia mengakhiri kompetisi dengan perolehan 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Total 73 medali tersebut membawa Indonesia bertahan di jajaran delapan besar dari 45 negara peserta.
Hasil ini melampaui target awal Indonesia yang ditetapkan sebanyak tujuh medali emas, delapan perak, dan 17 perunggu. Perolehan emas bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat sasaran awal.
Kartini menilai pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras dan perjuangan para atlet yang telah membawa nama Indonesia di panggung olahraga internasional.
“Target 7 emas, 8 perak dan 17 perunggu, bisa terlampaui dengan 15 emas, 21 perak dan 37 perunggu. Belum lagi kokohnya peringkat Indonesia di posisi 8 besar dari 45 negara peserta,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa momen berkumandangnya lagu Indonesia Raya di arena pertandingan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia di Jepang.
“Kerja keras dan perjuangan kawan-kawan atlet mengumandangkan lagu Indonesia Raya di venue pertandingan menjadi momen yang sangat mengharukan dan tidak terlupakan buat kami dan warga Indonesia di Jepang,” kata Kartini.
Boccia Sumbang Emas Terakhir Indonesia
Medali emas terakhir bagi Indonesia dipersembahkan cabang boccia pada hari terakhir pertandingan. Muhammad Syafa, Gischa Zayana, dan Felix Ardi Yudha berhasil mengalahkan Thailand dengan skor 11-3 pada nomor Mixed Team BC1/BC2.
Sementara itu, cabang para powerlifting turut menyumbangkan medali perak melalui Ni Nengah Widiasih, Hilman, dan A. Hadi. Tambahan medali tersebut melengkapi perjuangan kontingen Indonesia dalam ajang olahraga disabilitas tingkat Asia.
Kartini berharap pencapaian para atlet dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus meningkatkan prestasi di berbagai kompetisi internasional.
“Pertahankan dan tingkatkan prestasi kawan-kawan semua. Terus bawa harum nama Indonesia di berbagai pentas dunia dalam setiap kesempatan,” ujarnya.
Doha Jadi Tuan Rumah Asian Para Games 2030
Penutupan Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 juga ditandai dengan penyerahan bendera resmi penyelenggaraan kepada Doha, Qatar, yang akan menjadi tuan rumah Asian Para Games 2030.
Pergantian tuan rumah tersebut menandai berakhirnya rangkaian kompetisi di Jepang sekaligus menjadi awal persiapan menuju edisi berikutnya.
Kartini menegaskan bahwa prestasi kontingen Indonesia patut menjadi catatan penting dalam perjalanan olahraga nasional, sekaligus memotivasi atlet untuk terus mengharumkan nama bangsa.
“Prestasi kawan-kawan semua akan tercatat dalam tinta emas dunia olahraga Indonesia dan akan menjadi panutan atlet-atlet lain,” pungkasnya.










