TVRINews – New Jersey
Mengulas catatan penting, kontroversi, hingga rekor baru turnamen sepak bola terbesar dunia.
Turnamen Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada telah resmi berakhir, meninggalkan warisan perdebatan panjang di balik klaim Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebagai "peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia".
Dengan format baru yang melibatkan 48 tim, ajang ini menjanjikan skala yang belum pernah ada sebelumnya, namun sekaligus membuka kotak pandora bagi berbagai kontroversi.
Wajah Baru Kompetisi dan Dinamika Lapangan
Ekspansi jumlah peserta membawa debutan baru seperti Tanjung Verde, Curacao, Yordania, dan Uzbekistan ke panggung dunia. Kehadiran tim-tim ini memberikan warna tersendiri di babak grup, di mana Tanjung Verde mampu mencuri perhatian dengan menahan imbang raksasa seperti Spanyol dan Uruguay.

(Pierluigi Collina Kepala wasit FIFA (Foto: BBC News))
Namun, di balik narasi romantisme sepak bola, muncul kritik mengenai penurunan kualitas pertandingan. Dengan total 72 pertandingan, banyak pihak mempertanyakan apakah format yang ada terlalu memanjakan tim besar dan menciptakan fase grup yang kurang kompetitif.
Penggunaan aturan head-to-head sebagai penentu kelolosan pun memicu drama "sepakat bermain imbang" di beberapa laga krusial.
Intervensi Politik dan Aturan Kontroversial
Turnamen ini tidak lepas dari bayang-bayang politik global. Isu visa yang menghambat kedatangan delegasi dan pemain, hingga intervensi tingkat tinggi termasuk laporan keterlibatan Donald Trump dalam upaya membatalkan hukuman kartu merah Florian Balogun menjadi noda hitam dalam integritas turnamen.

(Folarin Balogun (kanan) seharusnya dilarang bermain melawan Belgia menyusul kartu merah yang diterimanya saat melawan Bosnia-Herzegovina (Foto: BBC News))
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, juga menjadi sorotan. Meskipun upaya mempercepat tempo permainan melalui aturan baru dinilai cukup berhasil meningkatkan durasi bola aktif di lapangan (mencapai 60,4%), kebijakan jeda hidrasi (hydration breaks) tetap dipandang skeptis.

(Jeda hidrasi memungkinkan para pelatih untuk mengadakan diskusi taktis tim yang mengubah jalannya banyak pertandingan. (Foto: BBC News)
Banyak pihak menilai jeda tersebut hanyalah komersialisasi terselubung untuk memberi ruang bagi iklan televisi, mengingat besarnya biaya penyiaran yang mencapai ratusan ribu dolar per 30 detik slot iklan.
Tantangan VAR dan Komersialisasi
Teknologi VAR kembali menjadi topik hangat. Meski secara umum dianggap berjalan lebih cepat dibandingkan liga domestik, inkonsistensi keputusan di babak gugur memicu protes resmi dari beberapa asosiasi sepak bola, termasuk Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA).
Di sisi lain, catatan rekor jumlah penonton sebanyak 6,5 juta orang menunjukkan bahwa tingginya harga tiket tidak serta-merta menyurutkan minat penggemar. Walaupun demikian, FIFA tetap harus menghadapi penyelidikan hukum dari Jaksa Agung New York dan New Jersey terkait praktik penetapan harga tiket dan transparansi lokasi kursi.
Piala Dunia 2026 menjadi cerminan bagaimana FIFA mencoba menyeimbangkan antara ambisi komersial yang masif dengan esensi olahraga itu sendiri.
Apakah ekspansi ini benar-benar layak bagi masa depan sepak bola? Jawabannya masih bergantung pada sejauh mana FIFA mampu memperbaiki tata kelola dan menjaga integritas turnamen di masa depan.










