TVRINews – Beverly Hills
Presiden FIFA sebut harga tinggi di AS cerminkan hukum pasar dan antusiasme penonton yang masif.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka membela kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang menuai kontroversi.
Di tengah derasnya kritik dari basis penggemar global, Infantino menegaskan bahwa struktur harga tersebut merupakan refleksi dari tingginya permintaan dan dinamika pasar di Amerika Serikat.
Berbicara dalam forum Milken Institute Global Conference di Beverly Hills, Selasa (5/5), pemimpin badan sepak bola dunia tersebut menyatakan bahwa FIFA berkewajiban untuk menyesuaikan diri dengan regulasi di AS.
Di negara tersebut, hukum mengizinkan tiket dijual kembali (resale) dengan harga yang jauh melampaui nilai aslinya.
Antara Mekanisme Pasar dan Kritik Pedas
Langkah FIFA ini memicu reaksi keras dari Football Supporters Europe (FSE). Organisasi penggemar tersebut melabeli skema harga ini sebagai bentuk "pemerasan" dan "pengkhianatan besar" terhadap loyalitas suporter. Bahkan, FSE telah mengajukan gugatan ke Komisi Eropa pada Maret lalu terkait kebijakan harga yang dianggap eksorbitan.
Menanggapi laporan bahwa empat tiket final di New York sempat diiklankan seharga lebih dari 2 juta dolar AS di platform resale, Infantino memberikan tanggapan santai namun pragmatis.
"Jika ada orang yang memasang harga 2 juta dolar di pasar sekunder, pertama, itu tidak berarti harga aslinya sebesar itu. Kedua, belum tentu ada yang membelinya," ujar Infantino.
Ia bahkan berseloroh, "Jika seseorang benar-benar membelinya, saya pribadi akan membawakannya hot dog dan Coca-Cola untuk memastikan dia mendapat pengalaman luar biasa."
Perbandingan Signifikan dengan Qatar 2022
Data menunjukkan adanya disparitas harga yang tajam dibandingkan edisi sebelumnya. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tiket final termahal dibanderol sekitar 1.600 dolar AS.
Namun, untuk final 2026, harga resmi tertinggi melonjak drastis hingga menyentuh angka 11.000 dolar AS.
Infantino bersikeras bahwa kenaikan ini dapat dibenarkan mengingat lokasi penyelenggaraan berada di pusat industri hiburan dunia.
"Kita harus melihat pasar. Kita berada di pasar hiburan paling maju di dunia, jadi kita harus menerapkan tarif pasar," tegasnya. "Jika kita menjual terlalu murah, tiket tersebut tetap akan dijual kembali di pasar sekunder dengan harga dua kali lipat lebih mahal."
Volume Permintaan yang Belum Pernah Terjadi
FIFA melaporkan telah menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket untuk turnamen 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan total gabungan permintaan untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 yang tidak mencapai 50 juta.
Meskipun Infantino mengklaim bahwa 25 persen tiket fase grup dibanderol di bawah 300 dolar AS yang menurutnya lebih murah dibandingkan tiket pertandingan olahraga level perguruan tinggi di AS realita di lapangan menunjukkan tantangan berbeda.
Hingga saat ini, FIFA terpantau masih berjuang untuk menjual habis seluruh kursi (sell-out), termasuk laga pembuka tuan rumah AS melawan Paraguay. Di situs resmi FIFA, tiket untuk laga di Los Angeles tersebut masih tersedia dengan rentang harga mulai dari 1.120 dolar AS hingga paket hospitality yang mencapai 6.050 dolar AS per kursi.










