TVRINews – East Rytherfors, N,J
Dominasi total Spanyol di Stadion MetLife memupus harapan Argentina untuk meraih gelar juara dunia beruntun, sekaligus menutup lembaran karier legendaris Messi di panggung tertinggi
Lionel Messi akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Di Stadion MetLife, New Jersey, sang megabintang tidak mampu lagi mengeluarkan sihir yang selama dua dekade terakhir mendefinisikan kariernya sebagai pesepak bola terhebat sepanjang masa.
Pada usia 39 tahun, mimpi Messi untuk membawa Argentina menjadi negara pertama dalam setengah abad terakhir yang menjuarai Piala Dunia secara beruntun, kandas di tangan Spanyol.
Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-37 babak perpanjangan waktu pertama memastikan kemenangan 1-0 bagi La Furia Roja, sekaligus mengukuhkan Spanyol sebagai juara dunia untuk kedua kalinya.
Bagi Messi, momen ini menjadi penutup yang kontras. Saat para pemain Spanyol merayakan gelar di podium, kapten Argentina tersebut tertunduk lesu di lapangan. Di hadapan lebih dari 80.000 penonton yang mayoritas mengharapkan sejarah baru, Messi hanya bisa menatap nanar saat medali perak dikalungkan di lehernya.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menegaskan bahwa meski gagal di laga final, warisan Messi tidak akan terhapus oleh satu kekalahan.
"Saya berharap semua orang merasa bangga padanya, atas apa yang telah ia capai karena dia adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah menginjakkan kaki di lapangan," ujar Scaloni usai pertandingan, seperti dikutip dari laporan Associated Press (AP) Senin 20 Juli 2026.
Dominasi Spanyol yang Tak Terbantahkan
Kemenangan Spanyol bukanlah sebuah keberuntungan. Tim asuhan Luis de la Fuente tampil mendominasi sepanjang turnamen. Statistik Opta mencatat perbedaan kualitas permainan yang mencolok dalam laga final:
Spanyol unggul 20-2 dalam hal jumlah tembakan, serta mendominasi operan dengan perbandingan 845 berbanding 433 atas Argentina.
Spanyol menutup turnamen dengan catatan pertahanan impresif, hanya kebobolan satu gol sepanjang gelaran Piala Dunia. Prestasi ini juga mengukuhkan Spanyol sebagai kekuatan sepak bola dunia yang baru, menjadi negara pertama yang memegang gelar juara dunia pria dan wanita secara bersamaan.
Ujung Perjalanan Sang Legenda
Sepanjang laga, Messi tampak kesulitan menemukan ritme permainannya. Ia hanya mencatatkan 54 sentuhan bola selama pertandingan berlangsung. Meski begitu, catatan sejarahnya tetap sulit digoyahkan.
Dengan total 125 gol internasional dan rekor penampilan di tiga final Piala Dunia, Messi tetap berdiri sejajar dengan legenda seperti Diego Maradona dan Pelé.
Saat konfeti emas turun menyambut para pemain Spanyol, Messi berjalan meninggalkan lapangan melalui pintu sudut stadion. Bahunya membungkuk, medali perak menggantung di lehernya sebuah simbol dari perjalanan panjang yang akhirnya mencapai garis finis di panggung sepak bola paling bergengsi di dunia.










