TVRINews, Nagoya
Medali perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi buah dari perjalanan panjang Eugenia Diva Widodo di dunia wushu.
Memulai latihan sejak usia sembilan tahun, Diva akhirnya meraih medali Asian Games pertamanya setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai atlet sekaligus mahasiswa.
Tampil di nomor changquan putri, Diva mencatat 9,706 poin dan menempati posisi ketiga.
Ia sempat memimpin klasemen setelah tampil sebagai atlet keempat, sebelum posisinya digeser atlet Makau, Sou Cho Man, yang mengoleksi 9,710 poin.
Medali emas menjadi milik atlet Hong Kong, Sham Hui Yu Lydia, dengan 9,713 poin.
Bagi Diva, perunggu tersebut bukan sekadar pencapaian di podium.
Medali itu menjadi bagian dari proses panjang yang ia bangun sejak kecil, termasuk perjuangan membagi waktu antara pendidikan dan karier sebagai atlet.
“Sebenarnya untuk ke Jepang ini, target aku sebenarnya hanya untuk memberikan kemampuan terbaik aku yang udah aku latih selama ini, yang udah aku built sejak kecil,” kata Diva dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 22 September 2026.
Diva mengaku menikmati setiap penampilannya di arena.
Sebagai cabang olahraga performance, wushu menuntut atlet tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu menampilkan performa terbaik di tengah tekanan pertandingan.
“Cukup menyenangkan ya kalau bagi saya, karena di setiap pertandingan kan wushu ini merupakan cabor performance. Jadi di setiap pertandingan aku berusaha untuk memberikan perform yang terbaik. So, setiap pertandingan, I’m happy, just enjoy myself,” ujar Diva.
Perunggu Aichi-Nagoya menjadi medali Asian Games pertama bagi Diva.
Pada Asian Games Hangzhou 2022, ia harus puas menempati posisi keenam pada nomor yang sama.
Perjalanan Diva tidak hanya berlangsung di arena pertandingan.
Di tengah kesibukannya sebagai atlet, ia tetap menyelesaikan pendidikan di BINUS University dengan mengambil jurusan Sistem Informasi.
Membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan perkuliahan bukan perkara mudah.
Bahkan, pilihan untuk menjalani pendidikan sekaligus karier sebagai atlet sempat mendapat cibiran karena dianggap sulit dilakukan secara bersamaan.
Namun, Diva memilih membuktikannya melalui hasil. Pada akhir 2025, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan predikat cumlaude.
Sekitar sembilan bulan kemudian, atlet berusia 23 tahun itu kembali berdiri di podium, kali ini dengan medali perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Bagi Diva, pendidikan dan karier sebagai atlet bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya menjadi bagian dari persiapan untuk menghadapi masa depan.
Di luar arena dan dunia akademik, Diva juga mulai membangun kemandirian melalui dunia bisnis. Ia telah membuka usaha rumah makan hotpot di kawasan Glodok.
Selain itu, ia mulai menggeluti investasi dan trading sebagai bagian dari persiapan menghadapi kehidupan setelah karier atlet.
“Buat aku, ini juga untuk masa depan. Jadi selain wushu dan pendidikan, aku juga mulai memikirkan apa yang bisa aku bangun untuk ke depannya,” ucap Diva.
Perunggu Diva menjadi medali kedua Indonesia dari cabang wushu di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sehari sebelumnya, Seraf Naro Siregar lebih dahulu meraih perunggu dari nomor changquan putra.
Bagi Diva, perjalanan belum berhenti di podium Asian Games. Ia ingin terus berkembang, baik sebagai atlet maupun sebagai individu yang memiliki bekal untuk kehidupan setelah olahraga.
“Mungkin pesanku, lanjutkan apa yang dilakukan sekarang, karena dari pengalaman aku, persiapan aku, sudah sangat mendukung,” tutur Diva.










