TVRINews, Aichi
Debut Kanurian Al Ghozi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 langsung mencatatkan sejarah bagi Indonesia.
Petembak berusia 20 tahun itu menjadi atlet Indonesia pertama yang berhasil menembus final nomor Men’s 10m Air Rifle pada ajang Asian Games.
Ghozi memastikan tiket final setelah menempati peringkat keenam pada babak kualifikasi di Aichi Prefectural General Shooting Gallery.
Dari 46 atlet yang bertanding, penembak asal Yogyakarta itu membukukan 630,2 poin, sekaligus mencatatkan skor terbaik sepanjang kariernya dalam pertandingan resmi.
“Pertandingan kali ini di luar ekspektasi saya, yang mana skor saya bisa perform di Asian Games. Sebelumnya saya belum pernah sampai 630. Lebih senangnya lagi dapat pengalaman final di Asian Games pertama,” ujar Ghozi dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 22 September 2026.
Pencapaian tersebut semakin berarti karena diraih pada penampilan perdana Ghozi di Asian Games.
Ia juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang melaju ke final dari tiga atlet yang turun pada nomor Men’s 10m Air Rifle.
Dua wakil Indonesia lainnya, Anang Febrian dan Fathur Gustafian, masing-masing menempati peringkat ke-14 dengan skor 627,4 dan peringkat ke-23 dengan torehan 624,9.
Di babak final, Ghozi berhadapan dengan tujuh penembak terbaik Asia, termasuk sejumlah atlet yang memiliki pengalaman tampil di Olimpiade dan World Cup.
Ia akhirnya menyelesaikan pertandingan di peringkat kedelapan dengan perolehan 123,2 poin.
Meski belum membawa pulang medali, keberhasilan menembus final menjadi pencapaian penting bagi Ghozi sekaligus catatan bersejarah bagi tim menembak Indonesia.
“Pelatih ngomong ini sudah bagus, karena ini di Asian Games baru saat ini final pertama dari Indonesia pada nomor 10m Air Rifle. Tidak masalah kamu belum dapat medali,” ucap Ghozi menirukan pesan pelatihnya.
Medali emas nomor Men’s 10m Air Rifle diraih Lihao Sheng dari China dengan 254,2 poin. Lihao merupakan peraih medali emas Olimpiade Paris 2024.
Medali perak menjadi milik Himanshu Dhillon dari India dengan 252,4 poin, sedangkan rekan senegaranya, Rudrankksh Patil, meraih perunggu dengan 230,9 poin.
Bagi Ghozi, tampil di final juga memberinya kesempatan untuk berkompetisi langsung dengan para penembak papan atas dunia.
“Ini multievent terbesar yang pernah saya ikuti. Senang sih bisa masuk final, melawan juara Olimpiade dan juara World Cup. Bisa ketemu, bisa ngobrol, mereka saling support satu sama lain,” tutur Ghozi.
Dari debut tersebut, Ghozi mengaku mendapatkan banyak pengalaman, baik dari sisi kompetisi maupun atmosfer Asian Games.
Menurutnya, suasana pesta olahraga Asia tersebut memberikan tekanan sekaligus euforia yang berbeda dibandingkan kompetisi yang pernah diikutinya.
“Suasana Asian Games beda dengan kompetisi lain. Euforianya bagus di Asian Games, kita itu deg-degannya lebih terasa, karena menembak itu melawan peserta Olimpiade dan World Cup. Dan saya pertama kali main di Asian Games langsung masuk final,” ujar Ghozi.
Final di Aichi-Nagoya menjadi langkah penting bagi Ghozi untuk membangun pengalaman di level multievent sekaligus membuka catatan baru bagi Indonesia di nomor 10m Air Rifle Asian Games.










