TVRINews, Tokyo
Medali perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi kado istimewa bagi karateka Indonesia, Leica Al-Humaira Lubis.
Bukan hanya karena menjadi medali pertamanya pada debut di Asian Games, tetapi juga karena podium tersebut diraihnya hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-22.
Leica genap berusia 22 tahun pada 15 September 2026. Hampir sepekan kemudian, tepatnya saat bertanding di Toyohashi Gymnasium, Minggu, 20 September 2026 lalu, ia berhasil mengamankan medali perunggu.
Bagi atlet asal Sumatera Utara tersebut, perunggu Asian Games bukan sekadar sekeping medali. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, latihan, pengorbanan, serta dukungan keluarga yang terus mengiringinya sejak memilih karate sebagai bagian dari hidup.
“Ya dong,” ujar Leica dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 22 September 2026.
Di balik jawaban singkat itu tersimpan rasa syukur atas pencapaian yang diraih pada panggung Asian Games pertamanya.
Setelah menyelesaikan pertandingan, Leica sudah menyiapkan cara sederhana untuk merayakan pencapaiannya.
Ia ingin mengambil waktu untuk dirinya sendiri dengan berjalan-jalan, menikmati kuliner, dan mencicipi makanan yang selama masa persiapan harus ia tahan.
“Mau jalan-jalan, kulineran. Mau makan tahu susu,” kata Leica.
Keinginan tersebut menjadi bentuk penghargaan untuk dirinya sendiri setelah berbulan-bulan menjalani disiplin sebagai atlet, termasuk menjaga pola makan demi mencapai kondisi terbaik saat bertanding.
Di luar arena karate, Leica juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU). Ia mulai berkuliah pada 2022 dengan memilih jurusan yang memungkinkan dirinya tetap menjalankan karier sebagai atlet.
Pilihan itu lahir dari sebuah dilema. Leica sebenarnya bercita-cita menjadi dokter dan sempat membayangkan diri menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Namun, ia menyadari pendidikan kedokteran membutuhkan komitmen waktu yang besar, begitu pula dengan karier sebagai atlet.
“Sebenarnya ambil Fakultas Ilmu Komputer itu supaya bisa kerja secara remote. Biar bisa sambil jadi atlet. Jadi, sambilan kuliahnya juga lebih gampang. Kalau cita-cita aslinya itu pengin jadi dokter, pengin ambil FK (Fakultas Kedokteran). Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya enggak bakal bisa. Pasti sulit kalau menjalankan dua-duanya,” tutur Leica.
Leica akhirnya memilih jalan tengah agar dua hal yang sama-sama penting dalam hidupnya tetap berjalan, yakni pendidikan dan olahraga.
“Jadi akhirnya berdamai sama diri sendiri untuk mencari mana yang secara atletnya bisa jalan, pendidikannya juga bisa jalan,” kata Leica.
Keputusan tersebut mendapat dukungan penuh dari keluarga. Bagi Leica, orang tua bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga sumber kekuatan dalam menjalani dua dunia sekaligus.
Peraih medali emas nomor kumite +68 kilogram putri pada SEA Games Tailan 2025 itu masih mengingat pesan kedua orang tuanya menjelang pertandingan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
“Umi selalu mengingatkan untuk tidak lupa bernapas, terutama ketika menghadapi pertandingan dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Kecil, tapi itu penting banget. Kalau Ayah selalu bilang, apa pun hasilnya, Ayah tetap bangga,” ujar Leica.
Pesan tersebut kembali terasa setelah pertandingan berakhir. Leica mengaku langsung berkomunikasi dengan keluarganya dan mendapatkan apresiasi atas perjalanan panjang yang telah ia lalui.
“Terima kasih sudah berjuang hari ini. Terima kasih sudah berjuang berapa tahun terakhir. Terima kasih untuk semua yang sudah adik kasih,” kata Leica mengenang pesan sang ayah.
Kini, setelah mendapatkan medali Asian Games pertamanya, Leica masih menyimpan satu mimpi besar yang ingin dikejar, yakni tampil di Olimpiade.
“Kalau karate dimainkan di Olimpiade, pasti saya mengejar Olimpiade karena itu mimpi semua atlet. Kalau benar karate nanti dimainkan di Olimpiade 2032, aku akan berjuang untuk bisa sampai ke sana. Paling enggak bisa lolos ke Olimpiade dan jadi Olympian,” ucap Leica.
Perunggu di Aichi-Nagoya menjadi pencapaian penting dalam perjalanan Leica.
Medali itu datang sebagai hadiah ulang tahun ke-22 sekaligus pengingat bahwa pilihan untuk menjalani pendidikan dan olahraga secara bersamaan membawanya semakin dekat dengan mimpi-mimpi berikutnya.










