TVRINews, Jakarta
Tunggal putra Indonesia Alwi Farhan datang ke Indonesia Open 2026 dengan kepercayaan diri yang meningkat setelah mencatatkan sejumlah hasil positif dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, di balik performa yang terus menanjak, Alwi mengaku masih berupaya mengelola tekanan dan ekspektasi yang kini semakin besar.
Pemain muda Indonesia itu baru saja menorehkan pencapaian penting di Singapore Open 2026 dengan menembus semifinal turnamen level Super 750.
Dalam perjalanan menuju empat besar, Alwi bahkan berhasil menyingkirkan unggulan pertama sekaligus nomor satu dunia asal Tiongkok, Shi Yuqi.
Sebelumnya, Alwi juga sukses merasakan atmosfer kemenangan di Istora Senayan saat menjuarai Indonesia Masters 2026 pada awal tahun. Meski demikian, ia memilih untuk tidak terlena dengan hasil-hasil tersebut.
"Mungkin kalau dari saya harapannya yang pertama dukungannya semoga bisa ramai. Panitia penyelenggara sangat-sangat sempurna, banyak kegiatan juga yang bisa dinikmati. Jadi saya harap masyarakat bisa mendukung, men-support, dan menikmati Istora nanti," kata Alwi kepada wartawan termasuk tvrinews.com di Jakarta, Senin, 1 Juni 2026.
"Untuk saya pribadi, dengan hasil yang cukup berprogres di Singapura, saya harap saya bisa mengontrol emosi saya, saya bisa mengontrol ekspektasi dari orang-orang sekalian, dan saya bisa melakukan semaksimal mungkin serta mengeluarkan apa yang sudah dilatih," ujar Alwi melanjutan.
Performa apik di Singapore Open menjadi titik balik penting bagi Alwi setelah mengalami periode sulit di Piala Thomas. Ia mengakui kegagalan tim Indonesia di ajang beregu tersebut menjadi pengalaman yang sangat membekas.
"Mungkin kalau dari saya memang periode di Thomas Cup cukup memukul saya banget, cukup berat bagi saya pribadi dan juga tim Indonesia pastinya. Pengalaman itu saya gunakan sebagai cambukan, saya gunakan jadi semangat," ucap Alwi.
Menurut Alwi, hasil di Singapore Open menjadi bukti bahwa dirinya mampu bangkit dari tekanan yang sempat menghantui setelah Thomas Cup.
"Saya berharap sekali dengan penampilan yang saya rasa kurang memuaskan di Thomas Cup, saya bisa menunjukkan progres yang cukup oke, bisa melaju sampai semifinal. Walaupun hasilnya di semifinal saya rasa kurang cukup puas, tapi saya melihat dan merasakan sendiri kemajuan yang sudah saya torehkan," kata Alwi.
Saat ditanya apakah kekalahan dari Alex Lanier di semifinal Singapore Open membuatnya kembali teringat pengalaman buruk di Piala Thomas, Alwi mengakui bayang-bayang tekanan tersebut memang masih ada. Namun, ia memilih untuk menerimanya sebagai bagian dari perjalanan seorang atlet.
"Apakah ada rasa menghantui? Pastinya ada dan juga ngga ada. Pastinya ada, tidak bisa dilawan dan pastinya juga harus cukup diterima. Tapi memang itu tantangan dan tanggung jawab saya sebagai pemain," tutur Alwi.
Alwi juga mengaku belum sepenuhnya melupakan kekecewaan yang dirasakannya di Thomas Cup. Menurutnya, proses untuk benar-benar bangkit dari kegagalan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Jujur sebenarnya kalau ditanya move on, enggak segampang itu juga. Karena saya pribadi sangat berharap tim Thomas bisa menjuarai. Tapi hasil berkata lain, kenyataan yang harus saya terima," kata Alwi.
Ia menilai pengalaman tampil sebagai tunggal kedua Indonesia membawa tantangan yang jauh berbeda dibanding edisi Thomas Cup sebelumnya.
"Piala Thomas sebelumnya saya hanya menjadi tim pelapis yang bisa dibilang bermain di fase grup dan melawan juru kunci. Sekarang ada di tunggal kedua, suatu challenge yang rasanya cukup berat tapi harus dihadapi dan diterima dengan dewasa," ucap Alwi.










