TVRINews - Antonio
San Antonio Spurs melaju ke final setelah menumbangkan juara bertahan Oklahoma City Thunder dalam laga penentu Game 7.
San Antonio Spurs berhasil mengamankan tiket menuju Final NBA untuk pertama kalinya sejak 2014 setelah mengalahkan juara bertahan, Oklahoma City Thunder, dengan skor akhir 111-103 pada hari Minggu 31 Mei waktu setempat. Kemenangan ini sekaligus memastikan keunggulan 4-3 bagi Spurs dalam seri final Wilayah Barat yang menggunakan format best-of-seven.
Di babak final yang akan dimulai pada hari Rabu mendatang di San Antonio, Spurs dijadwalkan menghadapi New York Knicks. Pertemuan ini menjadi laga ulangan dari final Piala NBA (NBA Cup) Desember lalu di Las Vegas, yang saat itu dimenangkan oleh Knicks dengan skor 124-113.
"Meskipun kami masih mengincar satu kemenangan lagi, perasaan ini sangat luar biasa dan sulit dijelaskan," ujar bintang muda Spurs, Victor Wembanyama, seusai pertandingan. "Kami ingin empat kemenangan lagi. Perjuangan kami belum selesai."
Pemain tengah asal Prancis bertinggi badan 224 cm tersebut tampil dominan dalam laga hidup-mati pertamanya di babak playoff. Wembanyama mengemas 22 poin dan 7 rebound.
Kontribusi besar juga datang dari Julian Champagnie yang mencetak 20 poin termasuk enam tembakan tiga angka serta Stephon Castle yang menambahkan 16 poin untuk membawa Spurs memimpin hampir di sepanjang pertandingan.
Atas performa impresifnya, Wembanyama dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (MVP) final Wilayah Barat, melengkapi gelarnya sebagai Pemain Bertahan Terbaik NBA musim ini. Namun, pemain berusia 22 latuh tersebut tetap merendah.
"Penghargaan ini tidak berarti apa-apa bagi saya pribadi, selain fakta bahwa kami adalah sebuah tim. Saya menerima ini untuk kami semua dan seluruh penggemar di sini," kata Wembanyama, yang sempat terlihat emosional saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya.
Keberhasilan Spurs tergolong mengejutkan mengingat skuad mereka musim ini didominasi pemain muda. Tercatat hanya ada satu pemain di tim Spurs yang memiliki pengalaman bertanding dalam atmosfer intensitas tinggi Game 7. Sebaliknya, Thunder merupakan tim dengan pengalaman lebih matang yang memenangkan gelar juara tahun lalu juga melalui Game 7.
"Sejak Oktober lalu, kami tahu kami memiliki peluang untuk menjadi tim yang sangat baik," tutur pelatih Spurs, Mitch Johnson. "Banyak yang berbicara tentang daya saing, keteguhan, kebersamaan, dan eksekusi siapa yang peduli dengan kata pengalaman? Para pemain harus turun ke lapangan dan mengeksekusinya, dan mereka berhasil melakukannya."
Di kubu lawan, perlawanan sengit diberikan oleh peraih gelar MVP NBA, Shai Gilgeous-Alexander, yang memimpin perolehan angka Oklahoma City dengan menorehkan 35 poin. Kendati demikian, performa gemilang tersebut belum mampu menyelamatkan timnya dari kekalahan.
"Dia tampil brilian dan memainkan pertandingan yang luar biasa," puji pelatih Thunder, Mark Daigneault, terhadap penampilan Gilgeous-Alexander. "Kami bisa bangga dengan kerja keras, kemajuan, dan level permainan yang kami tunjukkan... namun di sisi lain, kami juga sangat kecewa. Kami merasa bisa memenangkan seri ini, tetapi apresiasi tinggi harus diberikan kepada San Antonio merekalah yang berhasil melakukannya."
Momen krusial pertandingan terjadi di awal kuarter keempat ketika Wembanyama melesakkan dua tembakan tiga angka berturut-turut untuk membawa Spurs memimpin 97-86 saat laga menyisakan delapan menit. Meski Wembanyama sempat ditarik ke bangku cadangan beberapa saat kemudian akibat melakukan pelanggaran kelima (foul trouble), upaya Thunder untuk mengejar ketertinggalan di menit-menit akhir babak kedua gagal membuahkan hasil.
Menatap laga puncak melawan New York Knicks, Champagnie menyadari bahwa tantangan berat telah menanti timnya di depan mata. "Mereka tim yang mengandalkan fisik dan kuat dalam perebutan bola (rebounding). Ini akan menjadi tantangan yang bagus bagi kami," pungkasnya.










