TVRINews, Jakarta
PT Liga Utama Indonesia (LUI) memperkuat kemandirian pengelolaan kompetisi Championship melalui pemisahan badan hukum dari PT Liga Indonesia Baru (LIB). Langkah tersebut menjadi bagian dari proses pemisahan pengelolaan kompetisi Super League (Liga 1) dan Championship (Liga 2).
General Manager I.League Budiman Dalimunthe mengatakan agenda tersebut dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan PT Liga Utama Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan RUPS Luar Biasa (RUPSLB).
"Ini RUPS tahunan. Ada RUPS tahunan PT Liga Utama Indonesia membahas proses kegiatan korporasi setahun 2025 sampai semester ini. Kemudian dilanjutkan dengan RUPS LB karena adanya perubahan kepemilikan saham PT Liga Utama Indonesia," ujar Budiman kepada wartawan termasuk tvrinews.com di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.
Dalam RUPS tahunan, seluruh agenda kegiatan, bisnis, dan keuangan perusahaan disetujui para pemegang saham. Sebelumnya, PT Liga Utama Indonesia memiliki 21 pemegang saham yang terdiri atas PT Liga Indonesia Baru dan 20 klub peserta kompetisi musim sebelumnya.
Sementara, dalam RUPSLB dilakukan penyesuaian kepemilikan saham seiring perubahan peserta kompetisi.
Tiga klub yang promosi, yakni Garudayaksa FC, PSS Sleman, dan Isenmulang Kalteng ke Super League digantikan oleh tiga klub yang terdegradasi dari Super League ke Championship, yaitu PSBS Biak, Semen Padang FC, dan Persis Solo.
Sementara tiga klub yang terdegradasi dari Championship digantikan oleh tiga klub yang promosi dari Liga Nusantara, RANS Nusantara FC, de Red, dan PSGC Ciamis.
"Di RUPS LB juga disetujui beberapa agenda, di antaranya perubahan susunan komisaris. Tadinya hanya Pak Sadikin mewakili pemilik saham PT Liga Indonesia Baru, ditambahkan dengan komisaris independen Pak Amir Burhanuddin," kata Budiman.
Susunan direksi PT Liga Utama Indonesia tidak mengalami perubahan. Posisi Direktur Utama tetap dijabat Ferry Paulus, sedangkan Direktur Operasional dijabat Asep.
Budiman menjelaskan setelah perubahan komposisi pemegang saham, PT Liga Utama Indonesia memiliki 20 pemegang saham yang terdiri atas 14 pemegang saham lama dan enam pemegang saham baru.
Dari sisi kepemilikan, PT Liga Indonesia Baru menjadi pemegang saham terbesar PT Liga Utama Indonesia. Sementara sisa saham yang berada di bawah 50 persen dibagi secara rata kepada 20 klub.
Komposisi tersebut berbeda dengan struktur kepemilikan PT Liga Indonesia Baru. Di LIB, sebanyak 99 persen saham dimiliki 18 klub Super League, sedangkan satu persen saham dimiliki PSSI.
Budiman mengatakan pembentukan PT Liga Utama Indonesia telah direncanakan sejak Kongres PSSI pada 2023. Pembentukan badan hukum baru tersebut ditujukan untuk memberikan kemandirian pengelolaan kompetisi kasta kedua yang kini bernama Championship.
"Tahun lalu dibentuknya. Kalau kalian refer ke kongres setelah Pak Ketum terpilih 2023, memang sudah menghendaki adanya badan hukum baru untuk Liga 2. Liga 2 dulu namanya, sekarang jadi Championship," ucap Budiman.
Menurutnya, pengelolaan Championship sebelumnya, masih berada di bawah satu badan hukum yang sama dengan Super League, yakni PT Liga Indonesia Baru.
Dengan adanya PT Liga Utama Indonesia, pengelolaan bisnis Championship diharapkan dapat berjalan lebih mandiri dan memiliki entitas yang lebih jelas.
"Perlahan tapi pasti nanti jadi lebih mandiri, entitas bisnisnya terpisah agar lebih jelas. Baik itu kalau ada keuntungan dividen, kalau ada kerugian ya ditanggung bersama," tutur Budiman.
Ia menambahkan pemisahan badan hukum tersebut merupakan bagian dari proses menuju pengelolaan kompetisi Super League dan Championship secara lebih mandiri.
Terkait penamaan PT Liga Utama Indonesia, Budiman menjelaskan bahwa istilah tersebut dipilih karena seluruh klub peserta Championship merupakan klub profesional yang dipersiapkan untuk memenuhi standar kompetisi tertinggi.
Menurutnya, terdapat 38 klub profesional yang menjadi bagian dari ekosistem kompetisi profesional Indonesia. Karena itu, klub Championship juga diarahkan untuk memenuhi standar lisensi yang ditetapkan untuk Super League.
"Jadi semuanya utama, tinggal prestasinya mampu enggak naik ke atas. Makanya namanya jadi Liga Utama, bukan kelas 1 kelas 2," tutur Budiman.
Ia mengatakan 20 klub peserta Championship juga diwajibkan memenuhi sejumlah kriteria lisensi. Standar tersebut diharapkan membuat klub Championship memiliki kesiapan untuk bersaing dan memenuhi persyaratan apabila berhasil promosi ke Super League.










