TVFRINews, Zurich
Penolakan meluas dari konfederasi sepak bola Eropa dan sejumlah federasi nasional memicu ancaman boikot total terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di tengah kontroversi rencana investasi komersial.
Krisis kepemimpinan di tubuh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mencapai eskalasi baru setelah sejumlah sumber senior UEFA mengungkapkan adanya ancaman "non-kooperasi" dari para penentang Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Tekanan ini muncul akibat rencana kontroversial penjualan saham turnamen FIFA kepada investor swasta, yang berujung pada gelombang penarikan dukungan dari berbagai negara anggota.
Konflik internal ini bermula ketika FIFA berencana mendirikan anak perusahaan komersial bernama Fifa Forward Enterprise (FFE) untuk mengelola ajang utama termasuk Piala Dunia, dengan melibatkan investor eksternal. Rencana tersebut langsung mendapat tentangan keras dari UEFA, yang menilai proses tata kelola tersebut sangat buruk dan mempertimbangkan langkah hukum, arbitrase, serta pengaduan resmi.
Dalam perkembangan terbaru, beberapa pihak yang terlibat dalam gerakan oposisi menegaskan bahwa tidak ada jalan kembali selama Infantino masih mempertahankan jabatannya.
Tekanan terhadap pria berusia 56 tahun itu kian menguat setelah sejumlah asosiasi sepak bola nasional, termasuk Wales, Inggris, Serbia, Swedia, dan Finlandia, menarik kembali dukungan mereka menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
Di sisi lain, Infantino masih mengantongi dukungan dari sejumlah negara di Afrika, Asia, serta Amerika Selatan.
Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, menilai langkah hukum yang dipertimbangkan oleh badan sepak bola Eropa tersebut merupakan seruan tindakan yang sangat jelas terhadap proses tata kelola yang dinilai sangat buruk.
"Kami perlu belajar dari proses yang membawa bencana ini untuk memastikan bahwa kami memiliki rantai akuntabilitas agar hal ini tidak terjadi lagi," ujar McAllister kepada BBC Radio 5 Live Senin 3 Agustus 2026.
Ia juga menambahkan harapan agar pihak lain turut menarik dukungan demi perubahan kepemimpinan di masa mendatang.
Sementara itu, analis olahraga BBC, Dan Roan, menilai bahwa taktik ancaman non-kooperasi dan langkah hukum ini dirancang sebagai bentuk tekanan untuk mengisolasi Infantino.
Apabila strategi tersebut gagal mendesak mundur sang petahana, kubu oposisi dari UEFA dan Concacaf diprediksi akan berupaya menggalang dukungan dari konfederasi di kawasan lain, terutama Asia, yang kini menjadi arena pertarungan krusial dalam peta politik sepak bola global.









