TVRINews, Zurich
Tekanan politik dan mundurnya dukungan asosiasi nasional memicu spekulasi mengenai akhir era kepemimpinan Gianni Infantino, dengan sejumlah nama kuat mulai bermunculan sebagai kandidat potensial.
Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) berada di ujung tanduk. Posisi pria asal Swiss tersebut dilaporkan semakin terpojok setelah ia terpaksa membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian kepemilikan turnamen FIFA kepada investor swasta.
Berdasarkan jadwal yang berlaku, Infantino tetap berencana untuk maju dalam pemilihan ulang pada bulan Maret 2027 mendatang demi mengamankan masa jabatan keempat sekaligus terakhirnya. Untuk keluar sebagai pemenang, ia membutuhkan sedikitnya 106 suara dari total 211 anggota FIFA.
Kendati demikian, dinamika politik internal mulai bergeser secara signifikan. Sejumlah asosiasi nasional, termasuk dari Inggris dan Wales, telah mulai menarik surat dukungan mereka terhadap pencalonan kembali Infantino. Tidak menutup kemungkinan pula Dewan FIFA akan menggelar rapat darurat guna mendesak sang presiden untuk mundur dari jabatannya.
Jika situasi ini benar-benar menandai akhir dari kepemimpinan Infantino, pertanyaan besar kini mengarah pada figur-figur yang dinilai layak untuk mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan sepak bola dunia.
1. Victor Montagliani
Victor Montagliani saat ini menjabat sebagai Presiden Concacaf, badan yang mengatur sepak bola di kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Serupa dengan Infantino, ia terpilih pada 2016 dengan mengusung janji reformasi tata kelola.
Mantan Presiden Canada Soccer ini terlibat secara intensif dalam persiapan serta penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara berbeda. Selain itu, ia dikenal sebagai sosok multilingual yang fasih berbahasa Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris.
Dalam wawancara dengan situs BC Business Senin 3 Agustus 2026 saat menjelaskan keputusannya maju sebagai Presiden Concacaf, Montagliani mengungkapkan prinsip kerjanya:
"Seperti halnya apa pun, ketika saya memutuskan untuk melangkah, saya melangkah. Saya berkampanye menggunakan dana pribadi selama tiga bulan, mendatangi ke-41 negara, mulai dari Amerika Serikat hingga Bonaire, sebuah pulau kecil di lepas pantai Venezuela."
Montagliani juga mengambil peran sentral ketika Concacaf menggelar ajang Copa America dengan format yang diperluas pada 2024 lalu. Kendati demikian, dalam perbincangan dengan BBC Sport, ia menepis gagasan bahwa turnamen tersebut akan dijadikan agenda rutin.
Secara politis, Montagliani dikenal memiliki pengaruh yang kuat. Ia berhasil meredakan ketegangan terkait gagasan mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang sempat berupaya mencari dukungan untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali. Ia juga tidak pernah sepenuhnya mendukung wacana turnamen dengan 64 peserta.
Dalam Konferensi Leaders 2025, ia memaparkan pandangannya mengenai ketahanan sepak bola dalam menghadapi berbagai krisis:
"Permainan ini lebih besar daripada para pemimpin dunia saat ini. Sepak bola akan selamat dari berbagai rezim. Apakah hal itu menimbulkan masalah? Tentu saja. Anda harus realistis menghadapi itu. Itulah keindahan dari permainan kita, ia lebih besar daripada individu maupun negara mana pun."
2. Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa
Sebagai Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman pertama kali terpilih pada 2013 dan kembali dikukuhkan secara aklamasi untuk masa jabatan keempat yang akan berlangsung hingga 2027 mendatang.
Tokoh asal Bahrain ini memimpin periode pertumbuhan yang signifikan di dalam tubuh konfederasi Asia,
melalui transformasi seperti Liga Champions Elite, Liga Champions Two, Challenge League, serta Liga Champions Wanita yang resmi diluncurkan pada musim 2024–2025. Di samping itu, ajang Piala Asia juga telah sukses diperluas menjadi 24 peserta.
Sheikh Salman secara terbuka mengkritik tata kelola FIFA di bawah kepemimpinan Infantino, sebuah langkah yang mendapat dukungan solid dari 46 anggota konfederasinya.
Sebagian besar dari mereka menyadari bahwa tawaran finansial yang digagas Infantino memiliki nilai yang sangat besar bagi pengeluaran sepak bola di kawasan mereka.
3. Nasser Al-Khelaifi
Nasser Al-Khelaifi, yang menjabat sebagai Presiden Paris Saint-Germain (PSG), mengambil alih posisi sebagai ketua European Clubs' Association (ECA) pasca-kegagalan European Super League sebuah wacana kontroversial yang sempat mengancam perpecahan sepak bola Eropa sebelum runtuh dalam kurun waktu 48 tahun pada 2021 silam.
Di bawah kepemimpinannya, asosiasi tersebut berganti nama menjadi European Football Clubs dan mengalami ekspansi besar hingga mencakup lebih dari 800 anggota. Dari jajaran klub elite Eropa, tercatat hanya Real Madrid yang memilih untuk tetap berada di luar organisasi tersebut.
Secara teori, tokoh asal Qatar ini dinilai memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjadi penantang serius bagi Infantino. Namun, sinyal kuat menunjukkan bahwa ia tidak memiliki ketertarikan terhadap posisi tersebut.
"Ia benar-benar, benar-benar, benar-benar tidak menginginkan pekerjaan itu," ujar seorang narasumber dekat pria berusia 52 tahun tersebut ketika dimintai tanggapan mengenai peluang pencalonannya.
4. Mattias Grafstrom
Ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal FIFA pada Mei 2024, Mattias Grafstrom menjelma menjadi salah satu figur yang memiliki pengaruh besar di lingkaran internal FIFA. Ia sebelumnya mengemban tugas sebagai kepala staf Infantino sejak kemenangan sang presiden pada pemilihan tahun 2016.
Meski kerap tampil menonjol dalam berbagai ajang besar seperti Piala Dunia, kedekatannya yang terlalu erat dengan Infantino dinilai sebagian pihak sebagai sebuah kelemahan.
Selain itu, sentimen umum bahwa Presiden FIFA berikutnya harus berasal dari luar Eropa juga diprediksi akan menjadi tantangan tersendiri bagi pencalonannya.
Masa depan kepemimpinan tertinggi organisasi sepak bola dunia ini rencananya akan diputuskan secara resmi pada Kongres FIFA ke-77 yang diselenggarakan di Maroko pada bulan Maret 2027 mendatang. Seluruh kandidat yang berminat memiliki batas waktu hingga 18 November untuk mendaftarkan nama mereka secara resmi.









