TVRINews, Jakarta
Pelatih Timnas Football 7 Indonesia Socrates Matulessy membuka peluang merekrut mantan pemain profesional untuk memperkuat skuad nasional.
Namun, ia menegaskan keputusan tersebut tetap bergantung pada minat para pemain itu sendiri untuk terlibat dalam pengembangan Football 7 di Tanah Air.
“Mungkin ada, tapi kita tergantung mereka. Mereka mau nggak ikut kita, mau nggak mengembangkan liga MSL atau Football 7 ini. Kalau memang mau, silakan saja. Kita nggak menutup kemungkinan,” ujar Socrates kepada wartawan termasuk tvrinews.com yang dikutip pada Jumat, 1 Mei 2026.
Meski demikian, ia menegaskan pendekatan utama yang diambil tetap berbasis pada pembinaan dari dalam ekosistem liga dan komunitas, bukan melalui jalur instan seperti naturalisasi.
“Kalau menurut saya sih, kita pengennya dari ekosistem kita sendiri. Jadi naturalisasi belum perlu. Kita ambil dari komunitas kita sendiri,” ucap Socrates.
Socrates menilai potensi pemain dari akar rumput cukup menjanjikan untuk dikembangkan hingga level internasional.
Ia ingin memberi ruang bagi pemain-pemain komunitas yang selama ini kurang mendapat perhatian, tetapi memiliki kemampuan untuk bersaing.
“Pemain-pemain yang selama ini nggak dipandang, tapi punya skill dan kemampuan, itu yang mau kita olah. Nanti kita kerja sama juga dengan coach Shin Tae-yong, mudah-mudahan bisa membawa nama Indonesia ke level dunia,” kata Socrates.
Terkait pengembangan pemain usia dini, Socrates menyebut fondasi tetap berasal dari sepak bola konvensional.
Namun, ia melihat kompetisi antar sekolah hingga kampus akan menjadi titik awal untuk membangun ekosistem Football 7 yang lebih kuat.
“Grassroot-nya tetap dari sepak bola. Mungkin nanti dari pertandingan antar sekolah, kampus, baru kelihatan potensinya. Karena ini masih baru,” tutur Socrates.
Di sisi kompetisi, Socrates menegaskan Liga 1 Football 7 masih bersifat amatir. Sementara untuk Liga 2, terdapat kebijakan penggunaan pemain marquee, termasuk mantan pemain profesional.
“Liga 1 itu amatir. Untuk Liga 2, boleh pakai dua marquee player, bisa pemain pro atau yang sudah pensiun. Tapi di lapangan hanya boleh satu yang bermain,” kata Socrates.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi federasi dalam membangun fondasi kuat dari bawah, sembari tetap membuka ruang kolaborasi dengan pemain berpengalaman guna meningkatkan daya saing tim di level internasional.










