TVRINews, Jakarta
Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menjelaskan alasan di balik tidak adanya lagi kewajiban memainkan pemain muda dalam regulasi Super League (Liga 1) musim 2026/27.
Menurut Asep, kebijakan tersebut bukan berarti I.League mengurangi perhatian terhadap pengembangan pemain muda.
Sebaliknya, perubahan dilakukan karena klub dinilai mulai memiliki kepercayaan yang lebih besar untuk memberikan kesempatan bermain kepada pemain berusia di bawah 23 tahun.
“Regulasi U-23 atau U-20 yang dipaksa dalam satu babak sebenarnya dimulai pada 2017-2018,” kata Asep kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam acara Water Break PSSI Pers "Membawa Liga Naik Kelas", Senin, 31 Agustus 2026.
Ia menjelaskan pada awal penerapan regulasi, klub masih mengalami kesulitan menemukan pemain muda yang siap bersaing di level tertinggi.
Sehingga, kewajiban memainkan pemain U-23 diterapkan sebagai langkah untuk mempercepat perkembangan dan memberikan kesempatan kepada talenta muda.
Namun, kebijakan tersebut sempat mendapat penolakan dari sejumlah pelatih. Mereka menilai kompetisi profesional seharusnya memberikan kebebasan kepada pelatih dalam menentukan susunan pemain terbaik.
“Resistensi utama dari pelatih, karena ini top league profesional, kok bisa diatur starting eleven-nya?” ujar Asep.
Meski demikian, Asep mengatakan kebijakan tersebut diterapkan karena pada saat itu pemain muda masih sulit mendapatkan kepercayaan untuk bermain secara reguler.
Regulasi wajib pemain muda kemudian dijalankan sebagai bagian dari upaya akselerasi pembinaan pemain.
Kini, situasinya dinilai telah berubah. Asep mengatakan banyak klub sudah secara rutin memainkan lebih dari satu pemain U-23 tanpa harus dipaksa melalui regulasi.
“Sekarang faktanya banyak klub tidak cuma memainkan satu, tetapi tiga sampai lima pemain U-23 secara reguler. Artinya sudah ada kepercayaan dan mereka kompetitif,” ucap Asep.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi alasan I.League untuk melonggarkan aturan wajib memainkan pemain muda.
Namun, ia menegaskan relaksasi regulasi tidak berarti target pengembangan pemain muda mengalami penurunan.
I.League kini menerapkan pendekatan berbeda dengan menyediakan dana insentif bagi klub yang memberikan menit bermain kepada pemain muda.
“Poin teknis yang tadinya dipaksa, sekarang kita relaksasi. Tapi tujuan kita tidak turun untuk memberi ruang kepada pemain muda, makanya ada stimulan insentif bagi klub,” tutur Asep.
Melalui kebijakan tersebut, I.League berharap klub tetap terdorong memberikan kesempatan kepada pemain muda berdasarkan kualitas dan kebutuhan tim, bukan semata-mata karena kewajiban regulasi.
Kebijakan insentif juga diharapkan membuat klub semakin serius mengembangkan talenta muda sekaligus menjaga kualitas kompetisi profesional di Super League.









