TVRINews - Bačka Topola, Serbia
Ketegangan Politik Membayangi Laga Nations League Irlandia Kontra Israel
Pertandingan lanjutan UEFA Nations League antara Republik Irlandia dan Israel di Bačka Topola, Serbia, berakhir dengan skor imbang 1-1 pada Minggu 4 Oktober 2026. Namun, jalannya pertandingan diwarnai oleh gelombang protes politik, aksi boikot, serta ketegangan diplomatik yang melibatkan para pemain di atas lapangan.
Sebelum pertandingan dimulai, para pemain Irlandia mengenakan ban lengan hitam dan menundukkan kepala saat lagu kebangsaan Israel berkumandang. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas aksi militer Israel di Jalur Gaza.
Di sisi lain, para pemain Israel juga mengenakan ban lengan hitam untuk mengenang korban tewas akibat serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kapten tim nasional Israel, Dor Peretz, bahkan menuliskan angka "7.10" pada ban lengan yang dikenakannya.
Kecanggungan antarpemain terlihat jelas sejak sesi prapertandingan. Penjaga gawang Caoimhín Kelleher, yang tampil sebagai kapten menggantikan Dara O'Shea karena harus mendampingi istrinya yang sedang melahirkan secara sengaja menghindari jabat tangan dengan Peretz setelah menyelesaikan prosedur formal bersama perangkat pertandingan.
Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan oleh O'Shea pada pertemuan pertama di Debrecen, Hungaria, ketika ia menolak menjabat tangan kapten Israel, Manor Solomon. Kendati demikian, Irlandia sempat memimpin lebih dahulu lewat eksekusi penalti Troy Parrott pada menit ke-39, sebelum Peretz mencetak gol penyeimbang bagi Israel di awal babak kedua.
Pertandingan ini awalnya dijadwalkan berlangsung di Dublin. Akan tetapi, Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) memutuskan untuk memindahkan lokasi pertandingan ke tempat netral di Serbia dengan alasan operasional, menyusul maraknya seruan boikot dari publik domestik.
Tekanan terhadap para pemain Irlandia sendiri terbilang masif. Sebagian besar masyarakat Irlandia menunjukkan solidaritas yang tinggi terhadap Palestina, sehingga para pemain berada dalam dilema moral yang besar.
Pelatih timnas Irlandia, Heimir Hallgrimsson, sempat mengungkapkan tekanan berat yang dirasakan oleh skuadnya.
"Saya merasa tekanan itu kian meningkat dari hari ke hari dan hampir mencapai batas maksimal," ujar Heimir Hallgrimsson sebagaimana dilaporkan oleh Associated Press.
Tekanan publik juga datang dari berbagai elemen masyarakat di Irlandia. Lebih dari 160 olahragawan Irlandia menandatangani surat terbuka yang mendesak FAI untuk membatalkan pertandingan tersebut.
Serikat pekerja SIPTU bahkan membentangkan poster berukuran besar di pusat kota Dublin yang berisi seruan moral kepada para pemain agar mendengarkan hati nurani mereka.
Meskipun menghadapi kritik tajam dari publik dan pengamat sepak bola lokal, FAI tetap memutuskan untuk melanjutkan pertandingan demi menghindari sanksi berat dari UEFA, mengingat Irlandia akan menjadi tuan rumah bersama Piala Eropa 2028 bersama Inggris, Wales, dan Skotlandia.










