TVRINews – Bangkok, Thailand
Presiden PFA Tolak Berdampingan dengan Perwakilan Israel di Podium FIFA
Suasana diplomatik di Kongres FIFA ke-76 yang berlangsung di Thailand berubah tegang pada Kamis 30 April 2026 Malam waktu setempat, saat Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, secara terbuka menolak untuk berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel (IFA), Basim Sheikh Suliman.
Insiden ini terjadi sesaat setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, memanggil kedua perwakilan tersebut ke atas panggung dalam upaya simbolis untuk menunjukkan persatuan.
Meski Infantino sempat memegang lengan Rajoub dan memberikan gestur ajakan untuk mendekat kepada Suliman seorang warga negara Israel keturunan Arab upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Penolakan Terbuka atas Dasar Kemanusiaan
Wakil Presiden PFA, Susan Shalabi, yang turut hadir dalam ruangan tersebut, menjelaskan alasan di balik sikap keras kepala Rajoub.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk protes terhadap situasi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza.
"Saya tidak bisa menjabat tangan seseorang yang dibawa oleh pihak Israel untuk menutupi (whitewash) fasisme dan genosida mereka! Kami sedang menderita," ujar Shalabi mengutip pernyataan Rajoub saat dihubungi oleh Reuters.
Pihak Israel sendiri secara konsisten membantah tuduhan genosida di Gaza dalam berbagai forum internasional.
Kritik terhadap Diplomasi Simbolis FIFA
Setelah momen tegang tersebut, Gianni Infantino kembali mengambil alih podium dan menekankan pentingnya kerja sama demi masa depan sepak bola.
"Kita akan bekerja bersama, Presiden Rajoub, Wakil Presiden Suliman. Mari bekerja sama untuk memberikan harapan kepada anak-anak. Ini adalah masalah yang kompleks," ujar Infantino di hadapan para delegasi.
Namun, upaya rekonsiliasi tersebut justru menuai kritik dari pihak PFA. Shalabi menilai langkah Infantino mengabaikan substansi pidato Rajoub sebelumnya yang menyoroti pelanggaran hukum internasional dalam sepak bola.
"Ditempatkan dalam posisi untuk berjabat tangan setelah semua yang disampaikan, justru meniadakan seluruh tujuan pidato yang diberikan Jenderal [Rajoub]," tegas Shalabi kepada Reuters.
"Beliau menghabiskan waktu 15 menit menjelaskan bagaimana aturan itu penting, dan bagaimana ini bisa menjadi preseden di mana hak-hak asosiasi anggota dilanggar tanpa hukuman."
Sengketa Legal yang Belum Berakhir
Ketegangan di kongres ini merupakan puncak dari sengketa panjang antara PFA dan FIFA terkait keberadaan klub-klub Israel yang berbasis di permukiman Tepi Barat.
Wilayah tersebut merupakan tanah yang diperjuangkan Palestina sebagai bagian dari negara masa depan mereka.
Pekan lalu, PFA resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) atas keputusan FIFA yang tidak menjatuhkan sanksi kepada Israel.
Sebelumnya, bulan lalu FIFA menyatakan tidak akan mengambil tindakan terhadap IFA dengan alasan status hukum Tepi Barat yang masih belum terselesaikan di bawah hukum internasional publik.
Sikap diam FIFA terhadap masalah permukiman ini dianggap PFA sebagai bentuk pengabaian terhadap hak-hak anggota asosiasi yang diatur dalam statuta FIFA sendiri.










