TVRINews – Rwanda
Pemerintah Rwanda dan Formula 1 Mengintensifkan Pembahasan untuk Membawa Kembali Balapan Jet Darat ke Benua Afrika
Ketimpangan peta balap motor dunia kembali menjadi sorotan di tengah luasnya cakupan wilayah Benua Afrika yang hingga kini belum memiliki agenda resmi Grand Prix. Pembahasan mengenai kembalinya ajang Formula 1 ke benua tersebut kini memasuki babak baru melalui penjajakan serius bersama pemerintah Rwanda.
Kehadiran ajang balap paling bergengsi di Afrika sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah otomotif internasional. Seri Grand Prix Afrika Selatan yang dahulu menjadi pembuka musim di Sirkuit Kyalami sempat menjadi salah satu agenda paling ikonik dan diminati oleh para pebalap serta tim penyeimbang sebelum akhirnya terhenti.
Mantan pebalap F1 yang kini menjadi pengamat otomotif, Martin Brundle, mengungkapkan pandangannya mengenai perbandingan skala geografis dan potensi besar yang dimiliki Afrika saat ini.
"Ketika melihat peta dunia, sangat ironis melihat benua seluas Afrika tidak memiliki gelaran Grand Prix sendiri," ujar Brundle, sebagaimana dilansir Sky Sports yang dikutip sabtu 17 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa era balapan di Kyalami dahulu memberikan warna tersendiri bagi dinamika pramusim Formula 1. "Pada masa itu, atmosfer kompetisi di Afrika Selatan sangat krusial dan populer. Para pebalap dan staf tim dapat berinteraksi secara dekat usai menjalani sesi uji coba pramusim yang ketat," tutur Brundle.
Langkah Rwanda untuk merancang sirkuit dan mengajukan diri sebagai tuan rumah dinilai sebagai momentum penting untuk membangkitkan kembali warisan olahraga otomotif di kawasan tersebut.
Jika negosiasi berjalan lancar, agenda ini tidak hanya mengakhiri absennya Afrika dari kalender F1 sejak dekade 1990-an, tetapi juga menandai babak baru pemerataan olahraga global di tingkat internasional.










