TVRINews – London, Inggris
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, melirik gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, sebagai solusi darurat di lini depan untuk mengatasi minimnya penyerang murni.
Upaya mencari suksesor penyerang haus gol kini menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi skuad The Three Lions. Pelatih kepala tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, secara terbuka mengungkapkan pemikiran taktis baru dalam mengantisipasi masa depan lini serang timnya.
Sang juru taktik melirik gelandang bintang Real Madrid, Jude Bellingham, sebagai opsi darurat yang potensial untuk di plot sebagai penyerang nomor 9.
Wacana tersebut mencuat setelah Inggris meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Republik Ceko pada ajang UEFA Nations League di Praha. Harry Kane kembali membuktikan ketajamannya lewat torehan gol menjelang akhir
pertandingan, yang sekaligus mempertegas catatan impresifnya dengan koleksi 87 gol dari 123 penampilan internasional. Namun di balik ketajaman penyerang Bayern Munich tersebut, kubu kepelatihan menyadari adanya kerentanan mendalam akibat minimnya pelapis berkualitas di lini depan.
Tuchel sendiri menegaskan bahwa dirinya belum perlu memikirkan masa-masa sulit tanpa kehadiran Kane. Juru taktik asal Jerman itu bahkan optimistis penyerang berusia 33 tahun tersebut masih mampu mempertahankan performa di level tertinggi selama satu dekade ke depan, serta segera menyentuh rekor 100 gol internasional.
Meski demikian, bayang-bayang minimnya kedalaman skuad menyerang tetap menjadi persoalan krusial yang harus dicarikan solusinya sejak dini.
Sejumlah penyerang alternatif seperti Ollie Watkins dan Ivan Toney harus rela absen dari skuad pemusatan latihan kali ini. Sementara itu, opsi penyerang lain seperti Dominic Calvert-Lewin dinilai mulai termakan usia, dan penomorsatukan penyerang muda Nottingham Forest, Liam Delap, masih belum mendapatkan kesempatan debut di tim senior.
Kondisi inilah yang mendorong Tuchel untuk melakukan eksperimen taktis di menit-menit akhir pertandingan kontra Republik Ceko, di mana Bellingham digeser lebih ke depan untuk memimpin lini serang.
"Anda tidak akan bisa mendapatkan Harry Kane yang lain, itu yang utama," ujar Tuchel kepada awak media mengomentari situasi pelik lini depannya. "Kami mencari solusi yang berbeda. Kami mengakhiri pertandingan dengan Jude sebagai nomor 9. Akan ada pemain lain, tetapi itu bukan Harry atau tiruan dari Harry. Kami akan menemukan solusinya saat waktunya tiba, meski mungkin bukan di era saya. Ini mungkin masih bisa bertahan 10 tahun lagi."
Eksperimen tersebut bukan tanpa alasan. Bellingham, yang sempat mengenakan ban kapten setelah masuk sebagai pemain pengganti di Praha, dinilai memiliki insting mencetak gol yang natural.
Tuchel melihat fleksibilitas peran sang gelandang mampu memberikan dimensi baru bagi skema permainan tim, baik ketika ditempatkan sebagai penyerang murni maupun gelandang serang dalam format formasi yang menempatkan Kane dan Bellingham dalam jarak yang lebih rapat.
"Saya menyukainya sebagai nomor 9," puji Tuchel. "Dengan begitu ia bisa berkontribusi di kedua sisi, memperkaya opsi serangan, dan menjaga keseimbangan tim. Kami menemukan peran baru untuknya pada pertandingan terakhir sebagai gelandang serang tengah, sehingga ia bisa bergerak ke berbagai sisi dalam balutan taktik yang mendekati 4-2-3-1 agar Harry dan Jude bisa bermain lebih dekat."
Dalam laporan pandangan mata dari Reuters dan BBC Sport, kemenangan atas Republik Ceko yang sempat bermain dengan 10 pemain di babak pertama akibat kartu merah—memantapkan posisi Inggris di peringkat kedua Grup A3 Nations League. Gol pembuka dicetak oleh Anthony Gordon sebelum disempurnakan oleh penyelesaian akhir berkelas dari Harry Kane di penghujung laga.
Kehebatan Kane di kotak penalti kembali mendapat apresiasi tinggi dari sang pelatih yang pernah memboyongnya ke Bayern Munich pada 2023 silam. Menanggapi pujian dari Presiden Kehormatan Bayern, Uli Hoeness, yang menyebut Kane sebagai perekrutan terbesar klub sepanjang sejarah, Tuchel menyampaikan pandangan senangnya.
"Pernyataan itu sangat indah karena menunjukkan kepada saya bahwa setiap orang bisa melihat nilai sejati dan kepribadiannya," pungkas Tuchel menutup ulasan taktis tersebut.










