TVRINews – London, Inggris
Andy Burnham menyatakan kekhawatirannya atas potensi hengkangnya pemilik Manchester City setelah klub dinyatakan bersalah atas pelanggaran aturan finansial Premier League.
Kemelut yang melanda Manchester City memasuki babak baru setelah sebuah komisi independen pada Rabu, 30 September 2026, menyatakan klub tersebut bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League.
Keputusan ini memicu gelombang kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk tokoh politik terkemuka, mengenai stabilitas jangka panjang klub peraih 180°C (konteks: prestasi puncak) di kancah sepak bola Inggris maupun global.
Andy Burnham, mantan Wali Kota Greater Manchester yang kini menjabat sebagai Perdana Menteri, mengungkapkan bahwa ia akan merasa sangat prihatin jika para pemilik klub memutuskan untuk menjual Manchester City.
Sejak tahun 2008, kepemimpinan di bawah Sheikh Mansour, yang juga menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Uni Emirat Arab sekaligus anggota keluarga kerajaan, telah menggelontorkan investasi masif yang mengubah wajah kota dan prestasi klub.
"Saya akan sangat khawatir jika harus kehilangan mereka," ujar Burnham kepada editor politik BBC, Chris Mason. Ia menambahkan, "Mereka telah menjadi mitra yang sangat besar dalam pembangunan Manchester modern dan tentu saja membangun Manchester City menjadi kekuatan global seperti sekarang."
Burnham juga menyampaikan apresiasi kepada City Football Group atas kontribusi finansial yang tidak hanya disalurkan ke Stadion Etihad dan sekitarnya, tetapi juga langsung kepada komunitas kota secara lebih luas.
Temuan komisi independen tersebut mencakup tuduhan bahwa klub mengatur kontrak fiktif dengan sejumlah mitra komersial guna menyamarkan pendanaan rahasia senilai lebih dari 830 juta poundsterling.
Pihak Premier League menilai bahwa klub telah secara sistematis melanggar aturan selama hampir satu dekade. Meskipun demikian, pihak Manchester City secara konsisten membantah seluruh tuduhan tersebut, menyatakan kekecewaan serta keterkejutan atas opini komisi, dan bersiap untuk mengajukan banding selambat-lambatnya pada 2 Oktober besok waktu setempat.
Situasi ini semakin rumit dengan sikap Regulator Sepak Bola Independen yang dibentuk oleh pemerintah pada tahun 2025. Badan pengawas tersebut menyatakan bahwa kasus ini mengangkat isu-isu serius dan tengah mengeksplorasi berbagai opsi, termasuk kemungkinan mencabut lisensi kepemilikan klub setelah proses kedisiplinan selesai.
Menanggapi kontroversi ini, Burnham mengambil sikap berhati-hati dan menolak untuk melakukan intervensi langsung, meskipun ia mengakui ada banyak hal yang dipertaruhkan bagi para pendukung, klub, dan kota Manchester itu sendiri.
Ia juga menarik perbandingan dengan pengalaman klub lain, seperti Everton, yang sebelumnya sempat menghadapi pengurangan poin akibat pelanggaran aturan finansial yang lebih ringan. Burnham mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menghakimi sebelum seluruh proses banding dan dengar pendapat sanksi selesai sepenuhnya.
Hingga kini, ketidakpastian masih menyelimuti masa depan salah satu klub tersukses di Inggris tersebut. Sanksi yang mungkin dijatuhkan dapat bervariasi, mulai dari denda besar, pengurangan poin, pencabutan gelar juara yang diraih selama periode terdampak, hingga penggusuran dari kompetisi Premier League, yang dikhawatirkan dapat membawa dampak luas bagi lanskap sepak bola modern.










