TVRINews, Jakarta
PBSI melakukan gebrakan di sektor ganda campuran dengan memasangkan peraih medali emas Olimpiade Apriyani Rahayu, bersama Dejan Ferdinansyah.
Duet baru ini menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing Indonesia di sektor ganda campuran menuju target prestasi di level dunia. Pasangan anyar ini akan menjalani program evaluasi melalui enam turnamen internasional.
Kepala Pelatih Ganda Campuran PBSI Rionny Mainaky mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pembahasan bersama tim pelatih lintas sektor.
"Setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh, kami melihat kondisi dan performa pasangan Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari saat ini belum berada pada level yang kami harapkan. Karena itu, kami mencoba mencari solusi terbaik agar potensi Apriyani sebagai atlet bisa dimaksimalkan sekaligus menjawab kebutuhan tim di sektor ganda campuran," ujar Rionny dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Rionny, Apriyani memiliki modal lengkap untuk beradaptasi di nomor ganda campuran. Selain pengalaman bertanding di level tertinggi, Apriyani dinilai memiliki kemampuan membaca permainan, mengatur ritme pertandingan, serta transisi bertahan dan menyerang yang sangat baik.
"Apriyani memiliki kemampuan membaca permainan dengan sangat baik, mampu menjadi playmaker, memiliki jangkauan lapangan yang luas, serta kuat dalam transisi bertahan maupun menyerang. Dari sisi pengalaman dan mental bertanding, dia juga sudah terbukti mampu tampil di pertandingan-pertandingan besar," ucap Rionny.
Sementara itu, Dejan dipilih karena memiliki karakter permainan yang dinilai saling melengkapi dengan Apriyani.
"Dejan mempunyai kualitas smash yang sangat baik dan mampu mengontrol permainan dari area belakang. Kami melihat karakter bermain mereka saling melengkapi sehingga diharapkan dapat membentuk pasangan yang solid dan kompetitif," kata Rionny.
PP PBSI akan memberikan kesempatan kepada pasangan Apriyani/Dejan untuk membangun chemistry melalui enam turnamen sebelum dilakukan evaluasi menyeluruh.
Evaluasi tersebut tidak hanya berfokus pada hasil pertandingan, tetapi juga perkembangan kerja sama, komunikasi, adaptasi taktik, hingga konsistensi performa.
"Kami ingin memberikan waktu yang cukup kepada setiap pasangan untuk beradaptasi. Evaluasi akan dilakukan secara objektif, mulai dari chemistry, pola komunikasi, adaptasi taktis, hingga konsistensi performa di pertandingan. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kelanjutan program dan arah pembinaan berikutnya," tutur Rionny.










