
Foto: FIFA
Penulis: Fityan
TVRINews – Abidja,Pantai Gading
Ambisi "Les Éléphants" Akhiri Penantian Babak Gugur
Setelah satu dekade absen dari panggung tertinggi sepak bola, Pantai Gading kini bersiap kembali dengan kekuatan penuh.
Membawa status sebagai jawara Afrika 2024, tim berjuluk Les Éléphants ini membawa satu misi besar ke Amerika Utara pada 2026: menembus babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Perjalanan Pantai Gading di kancah global adalah kisah tentang bakat luar biasa yang kerap dijegal oleh nasib buruk dan "Grup Neraka".
Sejak debut mereka di Jerman 2006, tim ini selalu terhenti di fase grup meski diperkuat generasi emas sekelas Didier Drogba dan Yaya Toure. Kini, di bawah komando Emerse Fae, angin perubahan mulai berhembus kencang.
Sentuhan Magis Emerse Fae
Fae, mantan gelandang internasional yang baru berusia 41 tahun, membuktikan bahwa pengalaman bukanlah satu-satunya kunci sukses.
Diangkat sebagai pelatih interim di tengah turnamen Piala Afrika (AFCON) 2024 setelah pemecatan Jean-Louis Gasset, Fae melakukan hal yang mustahil: membawa timnya bangkit dari ambang eliminasi menuju takhta juara.
Kesuksesan itu bukan sekadar keberuntungan. Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, Pantai Gading tampil dominan. Mereka menyapu bersih Grup F tanpa satu pun kekalahan dan, yang lebih mengesankan, tanpa kebobolan satu gol pun dalam sepuluh pertandingan.
Kemenangan telak 3-0 atas Kenya di laga pamungkas memastikan tiket mereka ke turnamen yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat tersebut.
Menghapus Trauma Masa Lalu
Sejarah Pantai Gading di Piala Dunia dipenuhi dengan momen "nyaris". Mantan bek tengah legendaris, Kolo Toure, mengenang antusiasme tim saat berlaga di Brasil 2014.
Foto: FIFA
"Kami juga sangat termotivasi oleh prospek perjalanan ke Brasil, negeri sang legenda Pele, di mana permainan telah dibawa ke tingkat yang lebih tinggi oleh para pemain bintang negara tersebut," ujar Kolo Toure kepada FIFA.
Namun, mimpi di Brasil berakhir tragis. Membutuhkan hanya satu poin melawan Yunani untuk lolos ke babak 16 besar, Pantai Gading justru dihukum penalti pada menit ke-93 oleh Georgios Samaras.
Kekalahan 2-1 itu menghancurkan hati jutaan pendukung dan menandai akhir dari partisipasi mereka di Piala Dunia selama 12 tahun berikutnya.
Generasi Baru, Harapan Baru
Jika dulu Pantai Gading bergantung pada sosok Drogba, kini mereka memiliki kedalaman skuad yang merata.
Seko Fofana menjadi mesin gol di babak kualifikasi dengan tiga gol, didukung oleh talenta seperti Simon Adingra, Franck Kessie, hingga Sebastien Haller yang masing-masing menyumbang dua gol.
Seko Fofana menjadi mesin gol di babak kualifikasi (Foto: FIFA)
Secara statistik, Pantai Gading telah mencetak total 13 gol dalam tiga edisi Piala Dunia (2006, 2010, 2014). Nama Yaya Toure tetap tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak, bermain di seluruh sembilan laga yang pernah dilakoni negaranya di putaran final.
Kini, dengan lini pertahanan yang "kedap air" dan mentalitas juara yang baru diasah di AFCON, Pantai Gading bukan lagi sekadar pelengkap turnamen. Mereka datang ke Amerika Utara untuk menulis ulang sejarah yang sempat tertunda.
Editor: Redaktur TVRINews
