TVRINews – London, Inggris
Di bawah asuhan pelatih interim Calum McFarlane, Chelsea bertekad menumbangkan Manchester City di Wembley demi menyelamatkan musim yang diwarnai pemecatan dua manajer.
Chelsea bersiap menghadapi Manchester City pada final Piala FA di Stadion Wembley, Sabtu 16 Mei 2026 sore waktu setempat, sebagai tim yang tidak diunggulkan.
Di tengah badai manajerial yang membuat klub London Barat ini memecat dua kepala pelatih dalam satu musim, trofi tertua di Inggris tersebut menjadi satu-satunya peluang tersisa untuk menyelamatkan muka klub dari ambiguitas proyek BlueCo.
Musim yang awalnya menjanjikan bagi Stamford Bridge berubah menjadi kekacauan total sejak mundurnya Enzo Maresca pada Hari Tahun Baru.
Suksesornya, Liam Rosenior, hanya bertahan 106 hari sebelum akhirnya dipecat akibat rentetan hasil buruk dan resistensi di ruang ganti.
Kini, Calum McFarlane, manajer tim U-21, kembali ditarik sebagai pelatih interim untuk memimpin tim utama di Wembley.
Kendati performa domestik mereka tidak konsisten termasuk kekalahan memalukan 1-3 dari cadangan Nottingham Forest yang menutup peluang ke kompetisi Eropa via jalur liga Chelsea memiliki reputasi sebagai perusak prediksi taruhan.
Chelsea tercatat mampu mengimbangi Liverpool 1-1 di Anfield pekan lalu dan sempat mengejutkan Paris Saint-Germain pada Piala Dunia Antarklub musim panas lalu di bawah taktik Maresca.
Namun, menghadapi Manchester City asuhan Pep Guardiola memberikan dimensi tantangan yang berbeda.
Chelsea tercatat belum pernah lagi menang atas City sejak final Liga Champions 2021, dan dibayangi rekor buruk enam kekalahan beruntun dalam laga final di Wembley.
Di luar lapangan, dinamika internal klub juga terus bergolak. Isu kepergian Maresca ke Manchester City untuk menggantikan Guardiola di masa depan masih menyisakan kekecewaan di internal Chelsea.
Di sisi lain, manajemen BlueCo dilaporkan sedang mempercepat negosiasi untuk mendatangkan Xabi Alonso sebagai manajer permanen berikutnya demi membenahi kultur ruang ganti yang dinilai rapuh.
Gelandang asal Belgia, Roméo Lavia, mengakui beratnya situasi psikologis yang dihadapi skuad muda Chelsea saat ini di tengah kritik publik yang tajam kutip The Guardian Sport.
"Sangat sulit untuk didengar karena Anda tahu kerja keras yang Anda lakukan setiap hari," ujar Lavia minggu ini kepada media.
Meski demikian, Lavia menegaskan bahwa komitmen dan rasa percaya diri di dalam tim tidak pernah luntur demi mengembalikan kejayaan klub.
"Hari di mana saya kehilangan kepercayaan, saya mungkin akan menjadi orang pertama yang meninggalkan tempat ini. Jika Anda ingin sukses, Anda harus terlibat 100 persen. Ketika Anda berada di dalam gedung [fasilitas latihan], tidak ada satu momen pun Anda melihat adanya kehilangan kepercayaan. Saya yakin kami akan membalikkan keadaan dan kembali ke Chelsea yang dikenal semua orang," tambah Lavia.
Di era Roman Abramovich, memenangkan satu piala domestik tidak akan pernah cukup untuk menutupi kegagalan liga.
Bagi Chelsea era baru ini, kemenangan atas Manchester City mungkin akan memicu perayaan besar, namun manajemen tetap dituntut fokus pada pembenahan jangka panjang agar kesuksesan tersebut tidak sekadar menjadi pencapaian sesaat.










