
Endrick, terintimidasi.
Penulis: Christian Gunawan
TVRINews - Nantes, Prancis
Usia muda bukan halangan buat Endrick untuk bisa menembus Timnas Brasil. Namun, ternyata faktor usia itu memiliki efek juga buat peluangnya tampil di Piala Dunia 2026.
Lyon meneruskan performa bagus mereka di Ligue 1. Korban kali ini adalah Nantes yang mereka taklukkan dengan skor 1-0 di kandangnya, Stade de la Beaujoire, Nantes, pada Minggu (8/2/2026). Kemenangan ini menjadi yang kesembilan beruntun OL pada 2026 ini.
Gol tunggal diciptakan Pavel Sulc pada menit ke-25. Akan tetapi, porsi perhatian lebih besar tertuju kepada Endrick.
Penyerang muda dari Brasil itu menjadi pujaan baru suporter Lyon walau belum lama bergabung. Sejak dipinjamkan Real Madrid melalui bursa transfer musim dingin, Endrick telah membukukan lima gol dan sebuah assist dalam enam pertandingan.
Namun, Nantes tak cuma berhasil meredam ketajaman Endrick, tapi juga memapar kelemahan sang striker yang tampak terkait usia belianya. Endrick memperlihatkan kekurangmatangan khas anak muda di pertandingan ini.
Laga ini sudah berlangsung berat buat Endrick sejak mula. Di awal pertandingan, penyerang berusia 19 tahun itu bersinggungan dengan penyerang Nantes, Jean-Philippe Abline. Wasit mengeluarkan kartu kuning buat Endrick.
Kartu kuning ini membawa laga sulit buat Endrick, terutama di babak pertama. Konsentrasi yang ia perlihatkan di laga-laga sebelumnya terlihat buyar. Selain operan apik dengan kaki luar dan peluang jarak dekat yang memaksa kiper lawan membuat penyelamatan secara luar biasa, kiprah Endrick di babak pertama berlangsung datar.
Intimidasi Nantes terhadap Endrick menemui hasilnya saat duel baru melewati markah satu jam. Endrick mendapat kartu kuning kedua setelah menjejakkan kakinya ke engkel Dehmaine Tabibou. Pemeriksaan VAR memperkuat keputusan wasit. Sang pengadil malah mengeluarkan kartu merah langsung dari sakunya.
Lyon berhasil mempertahankan keunggulan sampai akhir laga. Sembilan kemenangan konsekutif membuat klub ini bisa melupakan kesulitan keuangan yang melanda.
Pelatih Lyon, Paulo Fonseca, membela andalan belianya tersebut. "Buat saya, kartu merah Endrick sangat keras. Ada pelanggaran yang sangat jelas. Pemain Nantes tidak berniat memainkan bola. Ia berniat menjegal Endrick," ucap Fonseca dikutip dari Foot Mundo.
"Hal kedua yang mau saya katakan adalah bahwa ini merupakan laga kedua di mana lawan memulai dengan banyak agresi terhadap Endrick. Saya pikir hal seperti itu sudah lewat, tapi niatnya terlihat jelas. Mereka berniat mengintimidasi Endrick. Wasit mesti menjaga pemain seperti Endrick," tutur Fonseca lagi.
Pelatih Nantes, Ahmed Kantari, tentu mempunyai sudut pandang berbeda. Pandangan berbeda ini salah satunya berdasarkan digotongnya Tabibou ke luar lapangan.
"Endrick tidak cukup dijaga meski ia yang melancarkan tendangan? Pemain saya yang cedera! Saya lebih suka pemain saya tidak cedera dan bisa menerima pelanggaran-pelanggaran kecil seperti Endrick," ucap Kantari.
Ahmed Kantari mengakui kualitas Lyon, dan secara tidak langsung kualitas Endrick. "Tentu, dengan pemain seperti ini, kami berkonsentrasi menahan mereka. Saya rasa pemain saya melakukannya dengan baik," ujarnya.
Apa pun, tiga angka ini berharga mahal buat Lyon. Endrick mendapatkan pelajaran keras, yang mungkin bisa berharga sangat mahal berupa kehilangan tempat di Timnas Brasil.
Carlo Ancelotti, pelatih Timnas Brasil, tentu akan menyimak perkembangan ini. Ancelotti disebut sebagai pemberi saran buat Endrick untuk pindah dari Madrid walaupun hanya sebagai pinjaman. Jam bermain ditengarai merupakan salah satu kategori bagi Ancelotti dalam memilih pemain.
Meski membutuhkan penyerang tajam dalam skuadnya, Ancelotti akan mempertimbangkan kematangan pula berupa fokus tinggi dan kepala dingin menghadapi tekanan. Endrick gagal memperlihatkannya di pertandingan ini.
Editor: Christian Gunawan
