
Penyerang Argentina Diego Maradona dijegal pemain Jerman Barat Lothar Matthaus di final Piala Dunia 1986.
Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Zurich, Swiss
Sangat sulit menghentikan Diego Maradona hingga satu-satunya cara adalah melakukan pelanggaran terhadapnya. Ia pun memegang rekor unik karena menjadi pemain penerima pelanggaran terbanyak di Piala Dunia.
Beberapa waktu lalu, legenda sepak bola Jerman Karl-Heinz Rummenigge ditanya mengenai siapa yang terbaik di antara dua legenda Argentina, Diego Armando Maradona dan Lionel Messi.
Mantan penyerang Timnas Jerman Barat (kini Jerman) dan FC Bayern Munchen itu menjawab dengan tegas: “Diego Maradona!”
Saat ditanya alasannya, Rummenigge menjawab: “Maradona masih mampu hebat meskipun ia selalu menerima sangat banyak pelanggaran.”
Pemenang dua Ballon d'Or, pada 1980 dan 1981 itu tidak asal bicara. Saat memimpin Jerman di final Piala Dunia 1986, ia dan tim tetap saja berkesulitan kendati sudah berkali-kali menghantam Maradona. Semua tahu, Jerman saat itu kalah 2-3 dari Argentina.
Pengakuan serupa datang dari mantan kiper Timnas Brasil, Claudio Taffarel. “Hanya ada satu cara menghentikan Maradona: langgar dia. Jika itu tidak dilakukan, Anda akan mendapatkan hukumannya,” tutur kiper yang mengantar Brasil juara Piala Dunia pada 1994.
Seperti dikutip dari situs resmi FIFA, Taffarel ingat betul bagaimana saat The Cosmic Kite (Layang-layang Kosmik) – julukan Maradona – menggiring bola melewati beberapa pemain Brasil untuk memberikan umpan kepada Claudio Caniggia yang mencetak satu-satunya gol di babak 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia.
Sejujurnya, meskipun Alemao, rekan setim Maradona di klubnya, SSC Napoli, tidak mencoba melakukan pelanggaran, tekel meluncur Dunga seharusnya cukup untuk menjatuhkan Maradona dan Ricardo Rocha mencoba mengikatnya.
Selecao bukan satu-satunya tim yang menyesal. “Konsensusnya adalah kami akan menendangnya,” tutur Terry Butcher tentang pola pikir Inggris menjelang perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Masalahnya adalah dia sangat sulit dijatuhkan.”
Graeme Souness, salah satu pemain bertahan terhebat sepanjang masa yang pernah bermain melawan Maradona di Liga Italia Serie A, juga memiliki alasan tersendiri soal upaya menghentikan Maradona.
“Masalah pertama adalah mendekatinya. Dia sangat cepat dan mampu melakukan perubahan arah secara tiba-tiba. Kemampuan itu sulit ditandingi,” kata gelandang yang pernah memperkuat UC Sampdoria antara 1984 sampai 1986 tersebut.
“Bahkan jika Anda berhasil mendekatinya, sangat sulit untuk menjatuhkannya. Dia seperti pemain rugbi. Saya jauh lebih tinggi dan jauh lebih berat daripada dia. Namun, Maradona sangat kuat. Anda akan menabraknya tetapi dia tidak akan jatuh. Dia memiliki kemampuan unik untuk mengatasi tantangan.”
Namun, terlepas dari kemampuannya yang tak tertandingi dalam menghindari halangan, dan fakta bahwa wasit jauh kurang melindungi pemain menyerang saat itu, Maradona secara luar biasa memegang bukan satu, bukan dua, tetapi setiap rekor Piala Dunia untuk pemain yang paling sering mendapat pelanggaran.
Semuanya dimulai di Barcelona – 25 hari setelah ia menjadikan kota itu rumah barunya – pada Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Claudio Gentile, yang nama keluarganya berarti "baik hati" dalam bahasa Italia, sama sekali tidak berbaik hati kepada El Pibe de Oro, julukan lain Maradona.
Bek tengah yang kejam itu menjatuhkan playmaker yang lincah itu sebanyak 23 kali. Gentile hanya dihukum dengan kartu kuning. Menariknya, setelah pertandingan di fase kedua grup yang dimenangi Italia 2-1 itu ia berteriak: “Sepak bola bukan untuk balerina.”
Empat tahun kemudian di Meksiko, Maradona, yang saat itu berada di puncak kejayaannya, menerima pelanggaran 53 kali – 20 kali lebih banyak daripada pemain lain dalam satu edisi.
Pada saat ia mengucapkan selamat tinggal pada panggung sepak bola paling bergengsi, Maradona, yang hampir tidak mengejutkan merupakan pemain yang paling sering dihantam di Spanyol ‘82, Meksiko ‘86, dan Italia ‘90, tercatat menerima total 152 pelanggaran.
Lionel Messi, yang telah tampil di Piala Dunia lima kali (2006, 2010, 2014, 2018, 2022), berada di urutan berikutnya dengan 75 pelanggaran diterima.
Sebagai perbandingan, saat masih aktif, mantan bintang bola basket klub Los Angeles Lakers Kareem Abdul-Jabbar mencatatkan rekor NBA dengan 4.657 pelanggaran.
Angka itu hanya 1,7 persen lebih tinggi daripada pesaing terdekatnya, eks bintang Utah Jazz Karl Malone (4.578). Maradona mencatatkan perbedaan yang mencengangkan, yaitu sebesar 103 persen dari Messi.
Perdebatan soal siapakah di antara Pele, Maradona, atau Lionel Messi yang merupakan pemain terhebat dalam sejarah Piala Dunia, tetap akan terus berlanjut.
Namun, tidak ada diskusi sama sekali tentang siapa di antara mereka yang paling menakutkan lawan, karena selama ini hanya ada satu nama, yakni Diego Armando Maradona.
Rekor-rekor Jumlah Pelanggaran terhadap Diego Maradona:
- Claudio Gentile melakukan pelanggaran terhadap Maradona sebanyak 23 kali di Piala Dunia Spanyol ‘82. Tidak ada pemain lain yang dilanggar oleh lawan yang sama dalam pertandingan yang sama lebih dari tujuh kali.
- Maradona berada di urutan pertama, kedua, dan ketiga sebagai pemain yang paling sering menerima pelanggaran dalam satu Piala Dunia: 53 kali pada tahun 1986, 50 kali pada tahun 1990, dan 36 kali pada tahun 1982. Kompatriotnya, Ariel Ortega, berada di urutan keempat karena ‘ditebas’ 33 kali di Prancis 1998.
- Maradona menghasilkan 10 atau lebih tendangan bebas dalam satu pertandingan, hingga empat kali. Tidak ada pemain yang mampu melakukannya lebih dari satu kali.
- Total, Maradona menerima pelanggaran 152 kali di Piala Dunia dan menjadi yang tertinggi. Ia diikuti Messi (75), Jairzinho (64), Neymar (60), Cristiano Ronaldo (58), Ariel Ortega (57), dan Gheorghe Hagi (56).
*Statistik pelanggaran di Piala Dunia mulai dicatat di Cili pada 1962.
Editor: Tri Cahyo Nugroho
