
Italia mengukir sejarah dengan menjadi negara pertama yang merebut gelar Piala Dunia secara beruntun setelah menaklukkan Hungaria di partai final Piala Dunia 1938 di Prancis.
Penulis: Tri Cahyo Nugroho
Italia menorehkan sejarah di Piala Dunia dengan menjadi negara pertama yang dua kali beruntun juara usai merebut trofi di Prancis pada 1938.
TVRINews – Paris, Prancis
Stade Olympique de Colombes di Paris, Prancis, tidak begitu penuh saat menggelar partai final ketiga turnamen sepak bola, Piala Dunia, pada 19 Juni 1938. Saat itu, final dimulai pada pukul 17:00 waktu setempat.
Kurangnya antusiasme penonton bisa dimaklumi karena tuan rumah Prancis sudah disingkirkan Italia, 1-3, di tempat yang sama, sepekan sebelumnya. Pun begitu, tidak kurang 45 ribu pasang mata tetap menyaksikan jalannya final Piala Dunia 1938.
Salah satu faktor yang membuat penonton menyaksikan laga final Piala Dunia 1938 adalah ingin mengetahui apakah Hungaria, dengan gaya permainan yang sangat mengalir dengan fisik pemain yang spartan, mampu mengimbangi Italia.
Italia datang ke Prancis 1938 tidak hanya dengan bekal status juara bertahan Piala Dunia dan pelatih hebat yang menangani empat tahun sebelumnya, Vittorio Pozzo.
Dua tahun sebelum Prancis 1938, Italia bisa dibilang sudah “menguasai” sepak bola dunia karena berhasil merebut medali emas di Olimpiade Berlin 1936. Azzurri juga datang dengan penyerang tengah yang tengah di puncak performa, Silvio Piola.
Hal menarik sebelum laga terjadi ketika para pemain Italia menuju stadion. Saat itu, jalanan begitu padat sehingga bus mereka tidak bisa mendekati lapangan.
Pozzo selaku pelatih segera menyuruh sopir untuk berbalik dan membawa tim kembali ke hotel. Dia tidak ingin para pemainnya duduk-duduk di dalam bus sebelum pertandingan sepenting final Piala Dunia. Itu adalah taktik psikologis lain dari sang ahli strategi.
Begitu berhasil masuk stadion dan kick-off dilakukan, para pemain Italia langsung bermain cepat. Mereka berhasil mencetak gol hanya dalam percobaan kedua lewat Gino Colaussi pada menit keenam.
Colaussi menyelesaikan pergerakan apik di sisi kiri untuk kemudian melepaskan tendangan voli ke sudut gawang untuk menaklukkan kiper Hungaria Antal Szabo yang berusaha menyelamatkan bola.
Hungaria hanya membutuhkan waktu dua menit untuk menyamakan kedudukan, ketika Pal Titkos melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang dari sudut yang tajam.
Titkos kemudian menjadi sekretaris Asosiasi Sepak Bola Hungaria Magyar Labdarugo Szovetseg/MLSZ) dan akhirnya menjadi pelatih tim nasional negaranya.
Piola, yang kemudian dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 1938, mencetak gol pada menit ke-16 setelah menyelesaikan pergerakan empat operan yang rumit di kotak penalti Hungaria. Italia unggul 3-1 saat jeda setelah Colaussi mencetak gol keduanya pada menit ke-35.
Di babak kedua, Italia bermain solid dalam pertahanan. Namun, permainan brilian dan tekanan terus menerus dari Hungaria membuat Italia akhirnya kebobolan lagi pada menit ke-70 ketika kapten Hungaria, Gyorgy Sarosi, membawa mereka kembali ke permainan dengan gol yang membuat skor menjadi 3-2.
Namun, delapan menit sebelum pertandingan berakhir, Piola, mungkin secara kebetulan, mencetak gol terakhir turnamen ketika tendangan keras kaki kirinya dari jarak sekira 11 meter tidak mampu diantisipasi kiper Hungaria.
Skor 4-2 bertahan hingga wasit asal Prancis, Georges Capdeville, meniup peluit panjang. Italia kembali menjadi juara sekaligus menjadi negara pertama yang mampu mempertahankan gelar (sebelum disamai Brasil pada 1958 dan 1962).
Pozzo mengatakan tim Azzurri 1938 bahkan lebih baik daripada skuad yang menang empat tahun sebelumnya di rumah mereka sendiri. Bagi sang kapten Giuseppe Meazza serta Giovanni Ferrari, ini gelar juara Piala Dunia kedua berturut-turut.
Sedangkan untuk trio Alfredo Foni, Pietro Rava, dan Ugo Locatelli, medali juara Piala Dunia 1938 melengkapi medali emas Olimpiade Berlin yang mereka raih pada 1936.
Bagi Pozzo, membentuk dua tim pemenang Piala Dunia yang berbeda adalah prestasi luar biasa dan memberinya tempat dalam sejarah sepak bola. Sayangnya, kesuksesan tahun 1938 menjadi kemenangan terakhirnya. Tak lama kemudian, Eropa dilanda Perang Dunia II (1939-1945).
Alhasil, Piala Dunia dan seluruh olahraga besar lainnya terpaksa menghentikan jadwal turnamen maupun kejuaraan level dunia karena hampir seluruh negara praktis focus berjuang untuk meraih superioritas di medan perang.
Sekilas Final Piala Dunia 1938
- Tanggal: 19 Juni 1938
- Lokasi: Stade Olympique de Colombes, Paris, Prancis
- Perjalanan ke Final:
Italia: Norwegia 2-1 (16 besar); Prancis 3-1 (perempat final); Brasil 2-1 (semifinal)
Hungaria: Hindia Belanda 6-0 (16 besar); Swis 2-0 (perempat final); Swedia 5-1 (semifinal) - Final:
Italia
Pelatih: Vittorio Pozzo
Pemain: Aldo Olivieri (kiper), Alfredo Foni, Pietro Rava, Pietro Serantoni, Michele Andreolo, Ugo Locatelli, Amedeo Biavati, Giuseppe Meazza, Silvio Piola, Giovanni Ferrari, Gino Colaussi
Hungaria
Pelatih: Karoly Dietz
Pemain: Antal Szabo (kiper), Sandor Biro, Gyula Polgar, Gyula Lazar, Gyorgy Szucs, Antal Szalay, Pal Titkos, Gyula Zsengeller, Gyorgy Sarosi, Jeno Vincze, Ferenc Sa - Pencetak Gol:
Italia (4): Colaussi (menit ke-6 dan 35) dan Piola (16 dan 82)
Hungaria (2): Titkos (8) dan G. Sarosi (70)
Editor: Tri Cahyo Nugroho
