
Momen Viktor Gyökeres menyarangkan bola untuk gol kedua Arsenal (Foto: Arsenal FC/David Price)
Penulis: Fityan
TVRINews- London, Inggris
The Gunners tampil perkasa di Stamford Bridge meski brace Alejandro Garnacho jaga asa tipis bagi The Blues.
Arsenal menunjukkan otoritas dan agresivitas tinggi dalam kemenangan krusial pada leg pertama semifinal Carabao Cup di Stamford Bridge.
Skuad asuhan Mikel Arteta tampil mendominasi dan mengamankan keunggulan yang membuat satu kaki mereka seolah sudah menapak di partai final, meskipun dwigol dari pemain pengganti Chelsea, Alejandro Garnacho, sedikit menahan laju tim tamu.
Ketika Alejandro Garnacho (dua kiri) mencetak gol kedua Chelsea (Foto: The Guardian Sport/Peter Cziborra)
Kemenangan ini mempertegas ambisi Arteta untuk mengakhiri puasa gelar sejak tahun 2020. Arsenal tampil menekan sejak menit awal, memaksa manajer baru Chelsea, Liam Rosenior, bekerja ekstra keras dalam laga kandang pertamanya.
Kebuntuan pecah melalui skema yang sudah menjadi identitas Arsenal musim ini: bola mati. Ben White berhasil mengonversi umpan pojok Declan Rice menjadi gol pembuka, menandai gol ke-24 Arsenal dari situasi bola mati sepanjang musim ini.
Statistik Pertandingan Penguasaan Bola
Kesalahan Fatal Lini Belakang
Penampilan kiper Chelsea, Robert Sánchez, menjadi sorotan tajam dalam laga ini. Sánchez tampak kesulitan mengantisipasi bola-bola udara dan melakukan kesalahan fatal pada awal babak kedua.
Ia gagal mengantisipasi umpan silang rendah Ben White, yang kemudian dimanfaatkan dengan sempurna oleh Viktor Gyökeres untuk menggandakan keunggulan Arsenal.
Di tengah tekanan hebat, Chelsea sempat memberikan perlawanan melalui aksi individu Alejandro Garnacho.
Namun, Arsenal merespons dengan kualitas teknis tinggi. Martín Zubimendi menciptakan momen terbaik malam itu melalui penyelesaian akhir yang tenang setelah menerima umpan dari Gyökeres, sebuah gol yang membuat Arteta terlihat takjub di pinggir lapangan.
Krisis Pemain dan Protes Suporter
Liam Rosenior harus menghadapi tantangan berat dengan absennya sejumlah pilar utama seperti Reece James, Cole Palmer, dan Moisés Caicedo.
Ketidakhadiran para pemain kunci ini sangat terasa di lini tengah dan depan Chelsea yang sulit keluar dari tekanan high pressing Arsenal.
"Kami menunjukkan semangat untuk tetap bertahan di pertandingan ini," ujar Rosenior usai laga, memuji ketangguhan mental para pemainnya meski hasil akhir belum memihak.
Di sisi lain, ketegangan tidak hanya terjadi di lapangan. Di tribun penonton, atmosfer Stamford Bridge memanas dengan sorakan ketidakpuasan suporter terhadap hierarki klub dan model proyek pemain muda yang dijalankan pemilik saat ini.
Nama mantan pemilik, Roman Abramovich, kembali dikumandangkan oleh para pendukung sebagai bentuk protes.
Meski Garnacho berhasil memperkecil ketertinggalan melalui gol keduanya di penghujung laga, Arsenal tetap diunggulkan untuk melaju ke final.
Kedisiplinan taktik dan kekuatan fisik yang ditunjukkan The Gunners membuat leg kedua di awal Februari mendatang diprediksi akan menjadi tugas berat bagi Chelsea.
Mikel Arteta, yang selama masa jabatannya hanya memenangkan satu dari lima semifinal, kali ini tidak mau mengambil risiko dengan menurunkan kekuatan penuh.
"Saya tidak ingin menyia-nyiakan peluang ini," tegas Arteta usai pertandingan , mengacu pada keputusannya memainkan skuat utama sejak menit pertama
Dengan keunggulan agregat dan performa yang solid, Arsenal kini menatap peluang besar untuk membawa pulang trofi pertama mereka musim ini ke Emirates Stadium.
Editor: Redaktur TVRINews

Ketika Alejandro Garnacho (dua kiri) mencetak gol kedua Chelsea (Foto: The Guardian Sport/Peter Cziborra)
Statistik Pertandingan Penguasaan Bola