
Ilustrasi final Piala Dunia 1966, Inggris vs Jerman Barat. (TVRI/Grafis Dede Mauladi)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - London, Inggris
Inggris akhirnya menjadi juara dunia untuk pertama kalinya dan, sejauh ini, belum mampu ditorehkan kembali.
Musim panas 1966 menjadi puncak euforia Inggris. Di tengah gelombang musik The Beatles dan optimisme pascaperang, satu panggung raksasa berdiri di Wembley. Sebanyak 98 ribu pasang mata menyaksikan laga yang kemudian dikenang sebagai salah satu final paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia mempertemukan Inggris versus Jerman Barat.
Pertemuan tersebut bukan sekadar pertandingan. Ini soal harga diri, memori Perang Dunia, dan ambisi generasi emas yang ingin mengukir sejarah di rumah sendiri.
Inggris datang sebagai tuan rumah yang lapar gelar. Di bawah arahan Alf Ramsey, Tiga Singa bermain tanpa winger murni, sebuah pendekatan tak lazim yang membuat mereka lebih solid dan disiplin.
Di seberang lapangan, Jerman Barat hadir dengan reputasi sebagai tim baja. Dipimpin kapten tangguh Uwe Seeler dan diperkuat talenta muda Franz Beckenbauer, mereka membawa mentalitas pantang menyerah yang kelak menjadi ciri khas Die Mannschaft.
Sejak peluit awal dibunyikan wasit Gottfried Dienst, tensi langsung terasa. Pertandingan berlangsung keras, cepat, dan sarat duel fisik.
Pada menit ke-12, publik Wembley terdiam. Helmut Haller memanfaatkan kelengahan lini belakang Inggris dan melepaskan tembakan rendah yang menaklukkan Gordon Banks. Jerman Barat unggul 1-0.
Namun, Inggris tak butuh waktu lama untuk bangkit. Enam menit berselang, Geoff Hurst, yang sebenarnya baru masuk skuad utama menggantikan Jimmy Greaves yang cedera, menyundul bola hasil umpan silang Martin Peters. Skor kembali imbang 1-1.
Final itu berubah menjadi pertarungan mental. Setiap tekel disambut sorak, setiap peluang membuat stadion menahan napas.
Babak kedua berjalan ketat. Baru pada menit ke-78 Inggris memimpin. Martin Peters mencetak gol lewat penyelesaian tenang di tengah kemelut. Wembley bergemuruh. Gelar seolah sudah di depan mata.
Hanya saja Jerman Barat belum selesai. Menit ke-89, Wolfgang Weber menyambar bola liar di kotak penalti yang mengubah skor menjadi 2-2. Stadion yang tadi berpesta mendadak membeku. Final harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu dan itu pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.
Menit ke-101. Geoff Hurst menerima bola, berputar, lalu melepaskan tembakan keras. Bola membentur mistar, memantul ke bawah, lalu keluar.
Apakah bola sudah melewati garis? Wasit berkonsultasi dengan hakim garis asal Uni Soviet, Tofiq Bahramov. Keputusan pun dibuat: gol. Skor 3-2 untuk Inggris.
Hingga kini, momen itu menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah sepak bola. Rekaman ulang tak pernah benar-benar memberi jawaban mutlak. Tetapi keputusan sudah diambil, dan sejarah tak bisa diputar ulang.
Di detik-detik terakhir, saat Jerman Barat mati-matian menyerang, Hurst kembali menghukum lewat serangan balik cepat. Gol keempat itu memastikan kemenangan 4-2 untuk Inggris.
Geoff Hurst menorehkan tiga gol. Ia pun menjadi pemain pertama yang melakukan hal tersebut di Piala Dunia sebelum prestasi tersebut diukir pula oleh Kylian Mbappe pada 2022.
Pada malam itu, Ratu Elizabeth II menyerahkan trofi Jules Rimet kepada kapten Bobby Moore. Sebuah gambar yang membeku dalam sejarah. Moore berdiri tegak, trofi diangkat tinggi, senyum lega terpancar.
Inggris akhirnya menjadi juara dunia untuk pertama kalinya dan, sejauh ini, belum mampu menorehkan kembali. Final 1966 bukan hanya tentang skor 4-2, melainkan tentang keberanian, kontroversi, dan bagaimana satu keputusan bisa hidup selamanya dalam perdebatan.
Bagi Inggris, itu adalah momen ketika sepak bola benar-benar “pulang ke rumahnya.” Bagi Jerman Barat, itu menjadi fondasi mental baja yang kelak membawa mereka menjuarai Piala Dunia 1974 dan 1990.
Bagi dunia, final Piala Dunia yang dimainkan 30 Juli 1966 adalah pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar permainan 90 menit. Sepak bola juga drama, emosi, dan cerita yang tak pernah selesai dibicarakan.
Editor: Muhammad Ridwan
