
Foto: Pelatih Timnas Yunani Otto Rehhagel (Paling Kiri) di Piala Dunia 2010 (Dok. FIFA)
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Ia membuka kisahnya dengan kutipan epos Homer tentang Odysseus, sang pengembara cerdik yang menempuh perjalanan panjang. Julukan “King Otto” terasa pas.
Dalam dunia sepakbola, Otto Rehhagel adalah sosok yang gemar menantang batas, menaklukkan keraguan, dan mengubah tim biasa menjadi legenda.
Rehhagel lebih dulu mencatat reputasi di Jerman. Pada 1980, ia membawa Fortuna Düsseldorf menjuarai DFB-Pokal dengan menaklukkan tim yang dihuni nama-nama besar seperti Toni Schumacher dan Bernd Schuster.
Bersama Werder Bremen, ia mengubah klub itu menjadi kekuatan utama Bundesliga, merebut dua gelar liga dan menjuarai Piala Winners Eropa 1992 setelah menundukkan AS Monaco asuhan Arsene Wenger.
Keajaiban lain terjadi ketika ia mengambil alih 1. FC Kaiserslautern pada 1996. Klub itu masih bermain di divisi dua. Dua musim berselang, mereka justru keluar sebagai juara Bundesliga.
Hingga kini, kisah tersebut tetap menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Jerman. Namun mahakarya terbesarnya lahir bersama Timnas Yunani.
Saat Rehhagel datang pada 2001, Yunani berada dalam kondisi kacau. Debutnya bahkan diwarnai kekalahan 1-5 dari Finlandia. Tak banyak yang percaya pada proyeknya. Namun perlahan, ia membangun tim yang disiplin, solid, dan efektif.
Puncaknya terjadi di Piala Eropa (EURO) 2004. Yunani datang sebagai tim dengan peluang 300 banding 1 untuk menjadi juara. Mereka menaklukkan tuan rumah Portugal di laga pembuka, menahan Spanyol, lalu menyingkirkan Prancis di perempat final dan Republik Ceko di semifinal.
Di final, mereka kembali mengalahkan Portugal. Dunia terdiam. Yunani menulis salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola internasional.
Rehhagel belum selesai. Ia membawa Yunani lolos ke Piala Dunia kedua mereka dan pada FIFA World Cup 2010, tim itu meraih kemenangan perdana di putaran final dengan membalikkan keadaan melawan Nigeria.
Pada usia 71 tahun 317 hari, Rehhagel mencetak rekor sebagai pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia, melampaui Cesare Maldini. Yunani memang tersingkir di fase grup setelah kalah dari Argentina yang diperkuat Lionel Messi, tetapi nama Rehhagel telah masuk buku sejarah.
Dari Gelsenkirchen hingga Bloemfontein, dari Bremen hingga Lisbon, ia menorehkan kisah tentang keberanian dan kecerdikan.
Seperti Odysseus dalam puisi Homer, Otto Rehhagel adalah pengembara yang tak pernah takut berlayar jauh. Dan dalam sepak bola, ia membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk menciptakan keajaiban.
Editor: Redaktur TVRINews
