
Kini memasuki dekade keempat, J.League memiliki 60 tim dan mengambil risiko dengan beralih ke kalender musim gugur hingga musim semi.
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews – Tokyo, Jepang
Musim pertama J.League dengan format baru akan berlangsung dari Agustus hingga awal Juni untuk J1, dan hingga akhir Mei untuk J2 dan J3.
Hanya ada satu cara bagi musim J1 League 2025 untuk berakhir. Divisi teratas sepak bola Jepang tersebut selalu menghadirkan perebutan gelar yang menegangkan, dan tahun lalu tidak terkecuali.
Seharusnya publik sudah bisa menebak hasilnya. Kashima Antlers, klub dengan gelar juara terbanyak di J.League, berhasil menahan tekanan pada hari terakhir dan menyalip Kashiwa Reysol untuk merebut gelar juara.
Ini menjadi gelar kesembilan bagi Antlers dan gelar kelima bagi Toru Oniki, yang sebelumnya memenangi empat gelar bersama Kawasaki Frontale, menjadikannya manajer paling sukses di liga. Sebuah cara yang tepat untuk menandai akhir sebuah era.
J.League yang mencakup J1, J2, dan J3 akan beralih ke kalender baru mulai 2026. Langkah ini disebut sebagai keputusan besar menuju masa depan, sebuah rencana berani dengan tujuan ambisius karena di tahun ini Piala Dunia digelar.
Tentu ada pertimbangan matang dari Federasi Sepak Bola Jepang (JFA), sebelum mengubah format J.League selepas Piala Dunia 2026. Semua ini bertujuan untuk membuat para pemain lokal bisa meniti karier ke Eropa.
Kini memasuki dekade keempat, J.League memiliki 60 tim dan mengambil risiko dengan beralih ke kalender musim gugur hingga musim semi.
Strateginya adalah menyelaraskan jadwal dengan sebagian besar liga di dunia. Tujuannya agar transfer pemain masuk dan keluar liga menjadi lebih mudah, sehingga menarik lebih banyak pemain untuk bergabung dan meningkatkan kualitas serta daya tarik liga bagi penggemar.
Dengan menghindari musim panas, Jepang juga bisa menyesuaikan jadwal pramusim, termasuk kamp latihan di fasilitas Eropa, tanpa harus memotong waktu untuk laga persahabatan bergengsi melawan klub-klub Eropa besar, termasuk Tottenham Hotspur.
Kashima memastikan gelar pada hari terakhir musim 2025, tepatnya awal Desember. Laga J1 berikutnya akan digelar pada akhir pekan kedua Agustus.
Berdasarkan perhitungan, jarak antara Desember hingga Agustus sangat panjang. Apakah pihak berwenang sepak bola Jepang sudah punya rencana? Pasti ada.
Musim pertama J.League dengan format baru akan berlangsung dari Agustus hingga awal Juni untuk J1, dan hingga akhir Mei untuk J2 dan J3, di mana babak play-off menentukan satu tim promosi.
Namun, tidak ada libur panjang untuk para pemain. Liga 2026, bernama Meiji Yasuda J.League 100 Year Vision League, hadir untuk menjembatani jeda tersebut.
Meiji Yasuda adalah perusahaan asuransi yang menjadi sponsor J.League. Program 100 Year Vision bertujuan meningkatkan kualitas hidup melalui olahraga, dengan pendekatan “Tonton, Lakukan, dan Ikut serta,” menciptakan budaya olahraga yang kaya, termasuk membangun fasilitas olahraga dan “lapangan hijau di setiap kota” di Jepang.
Secara praktis, 100 Year Vision League berfungsi sebagai solusi transisi, menghadirkan banyak pertandingan agar jeda antar-musim tidak terasa kosong. Liga mini ini dimulai pada akhir pekan pertama Februari.
20 tim J1 akan dibagi dalam dua divisi regional masing-masing 10 tim, Timur dan Barat. Rivalitas lokal menjadi pertimbangan, tetapi faktor biaya juga pasti berperan.
J2 dan J3 masing-masing juga memiliki 20 tim, digabung menjadi J2/J3 Timur dan J2/J3 Barat untuk musim mini ini. Formatnya sama dengan J1, tetapi tanpa hadiah besar.
Setiap tim akan memainkan sembilan laga kandang dan sembilan laga tandang dalam divisi regional mereka.
Divisi Timur mencakup kota Tokyo dan Yokohama, sehingga Kashima dan Kawasaki masuk divisi ini bersama pendatang baru J1, JEF United Chiba dan Mito HollyHock. Divisi Barat menampilkan Cerezo Osaka, Gamba Osaka, Nagoya Grampus, Vissel Kobe, Sanfrecce Hiroshima, dan promosi V-Varen Nagasaki.
Setiap pertandingan akan ada pemenangnya. Jika menang dalam 90 menit, tim mendapat tiga poin. Jika melalui adu penalti, pemenang mendapat dua poin dan kalah satu poin. Aturan ini menjanjikan pertandingan seru dan unik.
Tidak ada promosi atau degradasi pada musim ini. Dua divisi regional akan berlanjut ke babak play-off untuk menentukan peringkat keseluruhan, mulai dari juara hingga tim di posisi 19.
Tidak semua jadwal kandang-tandang murni, karena lima laga Timur dan satu laga Barat dimainkan di Stadion Nasional Jepang, Shinjuku, Tokyo. Machida Zelvia dan Yokohama F.Marinos masing-masing akan bermain dua kali di sana, termasuk derby Kanagawa antara Yokohama F.Marinos vs Kawasaki pada Maret.
Jika 100 Year Vision League belum cukup, akan ada J.League All-Star Game. Setelah terakhir digelar 2009, All-Star Game kembali pada pertengahan Juni di Shinjuku, dengan format tim Timur vs Barat berdasarkan voting penggemar.
Hadiah uang juga menggoda. Setiap poin di J1 bernilai 2 juta yen (sekitar Rp220 juta). Potensi total poin maksimal 18 pertandingan adalah 108 juta yen (sekitar Rp11,88 miliar).
Babak play-off memberikan tambahan hadiah: juara 150 juta yen (Rp16,5 miliar), posisi kedua 60 juta yen (Rp6,6 miliar), ketiga 30 juta yen (Rp3,3 miliar), dan posisi keempat hampir tidak ada.
Liga juga menyediakan subsidi 5 miliar yen (Rp550 miliar) untuk pembangunan pusat latihan all-weather dan sistem pemanas salju, menyesuaikan sepak bola Jepang sebagai olahraga musim dingin.
Beberapa bulan ke depan akan menarik untuk diikuti, tetapi tujuan jangka panjang, pasar transfer dan daya tarik global, yang akan benar-benar menentukan kesuksesan format baru ini.
Editor: Muhammad Ridwan
