
Gianluca Prestianni menutupi mulutnya dan kemudian dijatuhi sanksi suspensi atas dugaan penghinaan terhadap Vinícius Júnior. (Foto: AFP Sport/ Patrícia de Melo Moreira)
Penulis: Fityan
TVRINews-Zurich
Presiden FIFA Gianni Infantino mengusulkan kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat berbicara demi memberantas tindakan rasisme di lapangan.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah mempertimbangkan langkah tegas baru dalam upaya memerangi rasisme di atas lapangan hijau.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyarankan agar pemain yang menutupi mulut mereka saat berbicara dengan lawan dapat dijatuhi hukuman kartu merah.
Keputusan FIFA ini diambil menyusul kekhawatiran bahwa gestur menutupi mulut sering digunakan sebagai tameng untuk menyembunyikan hinaan rasis agar tidak tertangkap kamera atau pemantau pertandingan.
Praktik menutupi mulut telah lama dilakukan pemain untuk menjaga kerahasiaan taktik atau percakapan pribadi.
Namun, isu ini mencuat kembali setelah bintang Real Madrid, Vinícius Júnior, melaporkan adanya dugaan pelecehan diskriminatif oleh pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Merespons fenomena tersebut, Infantino menegaskan perlunya pendekatan intervensi yang lebih berani. Dalam wawancaranya bersama Sky News Minggu 1 Maret 2026, ia menyatakan bahwa kejujuran di lapangan harus diutamakan.
"Jika seorang pemain menutupi mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berujung pada tindakan rasis, maka dia harus dikeluarkan dari lapangan. Itu sudah jelas," ujar Infantino.
Ia menambahkan bahwa ada asumsi logis di balik tindakan tersebut. "Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan, Anda tidak perlu menutupi mulut saat berbicara. Sesederhana itu," tegasnya.
Evaluasi Aturan di Kongres FIFA
Masalah ini telah dibahas dalam pertemuan International Football Association Board (IFAB) pada Sabtu lalu. FIFA memandang kebijakan ini sebagai bagian dari komitmen serius dalam memberantas diskriminasi.
Rangkaian aturan baru ini kemungkinan besar akan disepakati dan diimplementasikan pada Piala Dunia mendatang. Tahap krusial berikutnya adalah Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Vancouver bulan depan.
Selain sanksi tegas, Infantino juga membuka ruang bagi perubahan budaya di kalangan pemain. Ia mengusulkan agar pelaku yang mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara publik dapat menerima keringanan sanksi.
"Mungkin kita harus berpikir untuk tidak sekadar menghukum, tetapi juga memungkinkan pemain untuk meminta maaf," kata Infantino. Menurutnya, tindakan yang dilakukan dalam kondisi emosi sesaat bisa ditangani dengan sanksi yang berbeda jika terdapat penyesalan yang tulus.
Editor: Redaktur TVRINews
