TVRINews, Paris
Ganda campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu tersingkir pada babak 32 besar French Open 2026.
Mereka kalah dari pasangan Thailand, Pakkapon Teeraratsakul/Sapsiree Taerattanachai, melalui pertandingan tiga gim dengan skor 18-21, 21-16, 16-21 di Arena Grand Paris, Rabu, 21 Oktober 2026.
Dejan/Felisha sebenarnya mampu bangkit pada gim kedua setelah kehilangan gim pembuka. Namun, mereka gagal mempertahankan momentum pada gim penentuan dan harus mengakui keunggulan pasangan Thailand.
Dejan mengakui hasil tersebut belum sesuai harapan. Meski demikian, ia menilai permainan mereka mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan penampilan pada Denmark Open sebelumnya.
Menurutnya, kesalahan sendiri dan permainan yang terlalu berhati-hati menjadi faktor yang merugikan mereka pada gim ketiga.
Sejumlah peluang untuk mendapatkan poin justru terbuang akibat kesalahan pengembalian dan kurangnya ketepatan dalam mengeksekusi serangan.
“Secara hasil belum maksimal, tetapi secara permainan kalau dibandingkan kemarin di Denmark Open, kami merasa lebih baik,” ujar Dejan dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Rabu, 21 Oktober 2026.
“Sangat disayangkan di gim ketiga lebih banyak mati sendiri dan terlalu hati-hati. Jadi, yang harusnya tidak mati malah mati. Yang harusnya kami bisa dapat poin, ada sedikit kesalahan (miss), akhirnya gagal dapat poin,” kata Dejan menambahkan.
Sementara, Felisha mengatakan permainan mereka mulai membaik setelah interval gim kedua. Saat itu, ia merasa bersama Dejan mampu mengambil kendali permainan dan memiliki peluang untuk memenangi pertandingan.
Namun, situasi berubah pada gim ketiga. Pasangan Thailand melakukan penyesuaian strategi dan mampu mengantisipasi pola pengembalian Dejan/Felisha, terutama setelah interval ketika pertandingan memasuki poin ke-11.
“Di gim kedua setelah interval, permainan saya membaik. Kami juga yakin bisa mengambil gim karena kendali sudah dipegang,” ucap Felisha.
Felisha menambahkan mereka berusaha mempertahankan pola permainan yang sama pada gim penentuan. Namun, perubahan strategi lawan membuat mereka kesulitan menemukan solusi dalam waktu singkat.
“Di gim ketiga kami mencoba lagi teguh dengan permainan itu, tetapi lawan ada perubahan. Pengembalian kami sudah diantisipasi, terutama setelah poin 11, jadi kami kesulitan. Tidak banyak waktu untuk mencari cara mengatasinya. Ini jadi pelajaran lagi buat kami,” tutur Felisha.
Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi bagi Dejan/Felisha untuk meningkatkan konsistensi, mengurangi kesalahan sendiri, dan lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan strategi lawan pada turnamen berikutnya.










