
Pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino. (TVRI/Grafis Yusuf)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews- New York, Amerika Serikat
Pochettino juga menyambut positif keberanian para pemain Amerika Serikat yang mencoba tantangan baru lewat kepindahan klub pada bursa transfer musim dingin.
Sudah dua bulan berlalu sejak Timnas Amerika Serikat terakhir kali bertanding. Kemenangan telak 5-1 atas Uruguai pada November lalu masih menjadi memori segar, meski laga berikutnya baru akan tiba hampir dua bulan ke depan, saat menjamu Belgia di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, pada Maret mendatang.
Jeda panjang di tengah musim dingin ini tak pelak menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino dan staf kepelatihannya. Aktivitas tetap berjalan, tetapi tanpa sesi latihan langsung di lapangan.
Tak pelak situasi tersebut membuat Pochettino merasakan kesulitan. Ia sebetulnya sangat ingin menggeber anak asuhnya berlatih langsung untuk melakukan persiapan menuju Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
“Sejujurnya, ini sulit. Sangat sulit menghabiskan waktu dengan menonton pertandingan, menilai pemain, menggelar pertemuan, melakukan banyak hal, tetapi tidak melatih,” kata Pochettino dikutip MLS Soccer.
“Itu situasi paling berat bagi kami, karena kami mencintai pekerjaan melatih dan berada di lapangan. Masa ini benar-benar tidak mudah,” Pochettino menambahkan.
Namun, waktu terus berjalan. Laga pembuka Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 melawan Paraguai pada 12 Juni kian mendekat. Kondisi itu memaksa tim untuk bergerak cepat ketika pemusatan latihan digelar pada Maret mendatang, yang menjadi satu dari hanya dua kesempatan berkumpul sebelum turnamen dimulai.
Pochettino pun ingin fase ini dipandang sebagai awal sesungguhnya perjalanan menuju Piala Dunia 2026. Empat laga uji coba melawan lawan-lawan kelas dunia seperti Belgia, Portugal, Senegal, dan Jerman, diposisikan sebagai pemanasan serius, bukan sekadar agenda uji coba.
“Bagi kami, Piala Dunia sudah dimulai sejak Maret, saat semua berkumpul. Ini waktunya menunjukkan identitas dan cara bermain kami, seperti yang sudah kami perlihatkan pada pemusatan latihan sebelumnya di Oktober dan November. Kami harus tampil. Kami harus menunjukkan kualitas kami,” ujarnya.
Komitmen itu tercermin dari langkah Pochettino dan timnya yang aktif mendatangi para pemain secara langsung. Mereka tidak hanya memantau pemain Amerika Serikat yang berkarier di Eropa, tetapi juga mengunjungi sejumlah kamp pramusim klub Major Super League (MLS).
Bahkan, staf pelatih menyempatkan diri hadir di sesi pramusim Sporting Kansas City dan Chicago Fire FC di Florida. Walau kedua klub tersebut hanya memiliki satu pemain yang baru dipanggil ke tim nasional, yakni kiper Chicago Fire, Chris Brady.
Selama ini, para pemain berbasis MLS kerap dianggap kurang menguntungkan pada awal musim semi, ketika kompetisi domestik baru dimulai dan liga-liga Eropa sudah memasuki fase krusial. Hanya saja, Pochettino melihat situasi tersebut dari sudut pandang berbeda.
“Mereka akan datang dengan tingkat energi yang sangat baik. Memang mungkin kurang menit bermain, tetapi itu bisa ditebus dengan kondisi fisik yang prima. Mereka baru saja melewati masa istirahat dan pemulihan, lalu mengisi ulang tenaga untuk mulai bersaing pada pertengahan Februari,” ucapnya.
“Pada Maret nanti, mereka akan tampil dengan kekuatan penuh, energi besar, dan motivasi tinggi untuk masuk skuad. Tugas kami adalah menyusun kombinasi terbaik antara pemain MLS dan pemain yang bermain di Eropa. Keseimbangan inilah yang menjadi kunci,” ia melanjutkan.
Pochettino juga menyambut positif keberanian para pemain Amerika Serikat yang mencoba tantangan baru lewat kepindahan klub pada bursa transfer musim dingin. Ia mengungkapkan bahwa Alex Freeman, lulusan akademi Orlando City, sempat menghubunginya untuk meminta pandangan terkait kepindahannya ke Villarreal CF di LaLiga.
“Ketika seseorang memutuskan pindah, itu karena dia yakin bisa berkembang dan berada di tempat yang lebih baik. Alex menelepon saya dan bertanya pendapat saya. Saya bilang, ambil keputusan yang paling kamu yakini, yang terbaik untuk dirimu, keluargamu, dan para penasihatmu.”
“Yang terpenting, pemain harus merasa bahagia dan nyaman, tanpa terjebak di zona aman. Dorongan untuk pindah muncul karena mereka ingin berkembang. Itu tantangan luar biasa yang harus kami dukung dan bantu proses adaptasinya.”
Sejak ditunjuk sebagai pelatih Amerika Serikat pada September 2024, Pochettino telah memanggil puluhan pemain dari berbagai belahan dunia untuk menguji dan mengevaluasi kedalaman skuad. Menurutnya, fondasi tim kini sudah terbentuk dengan baik.
Kini, tahap penentuan akhir pun menanti. Empat laga uji coba mendatang, ditambah performa para pemain di klub masing-masing, akan menjadi penentu siapa yang masuk skuad final Piala Dunia 2026, sekaligus siapa yang memiliki peluang besar mengisi posisi starter.
“Para pemain datang dari latar belakang, lingkungan, dan pemahaman sepak bola yang berbeda. Namun ketika mereka bersama kami, semuanya harus jelas—cara bersikap, nilai yang kami pegang, dan bagaimana kami bermain.”
“Tujuan kami adalah membangun energi ini, menciptakan budaya di mana para pemain merasa nyaman, ingin bermain dan berjuang satu sama lain. Itulah filosofi yang kami bangun dalam satu setengah tahun terakhir.”
Editor: Muhammad Ridwan
