
Lewat diskusi Dialog Meja Bundar, TVRI selaku pemegang hak siar Piala Dunia 2026 memiliki tanggung jawab yang besar. (TVRIsports / Nick Hanoatubun)
Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Beberapa hal harus dilakukan TVRI agar bisa sukses menggelar Piala Dunia 2026, utamanya untuk sarana edukasi dan penguatan nilai kepublikan.
Sebuah acara menarik digelar TVRI pada Selasa (3/2/2026) untuk menyambut gelaran Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada 11 Juni sampai 19 Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Mengambil judul Dialog Meja Bundar Piala Dunia 2026, Pers dan Peradaban Publik Kita, Siaran Olahraga sebagai Ruang Edukasi, Literasi, dan Penguatan Nilai Kepublikan, acara yang dihadiri sejumlah public figure itu digelar di Auditorium Bung Karno Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI, Senayan, Jakarta, tersebut.
Sebut saja anggota Komisi VII DPR RI yang juga mantan wartawan Putra Nababan, mantan Duta Besar dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo, Ketua PWI DKI Jakarta Kesit Budi Handoyo, coach Indra Sjafri, Dewan Pakar PWI Pusat juga pencinta sepak bola Effendy Gazali, dan masih banyak lagi.
Seperti diketahui, stasiun televisi pelat merah itu telah resmi memegang hak siar untuk seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 nanti. Dengan kemampuannya, TVRI diharapkan mampu menjadikan siaran Piala Dunia 2026 nanti menjadi semacam agen perubahan untuk peradaban dan karakter bangsa Indonesia.
TVRI sebagai stasiun televisi milik negara bertanggung jawab bukan hanya menghadirkan siaran Piala Dunia bukan hanya sebagai tontonan hiburan tetapi juga harus mampu menjadi sarana edukasi dan penguatan nilai kepublikan.
Direktur Program dan Berita LPP TVRI Arif Adi Kuswardono dalam sambutannya mewakili Direktur Utama LPP TVRI menjelaskan bahwa siaran Piala Dunia 2026 di TVRI ini merupakan inisiasi langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadirkan tayangan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk warga yang terdampak bencana.
“Lewat siaran langsung Piala Dunia 2026 ini diharapkan mampu memunculkan semangat optimisme untuk bangkit kembali dan juga menjadi bukti kepedulian Presiden Prabowo terhadap pembinaan sepak bola di Indonesia yang sudah ada sejak lama,” tutur Arif.
“Penyelenggaraan siaran Piala Dunia merupakan agenda strategis TVRI tidak hanya karena besarnya perhatian publik namun juga karena Piala Dunia menjadi wajah profesionalisme TVRI dalam mengelola siaran berskala global dengan standar tata kelola yang tertib, transparan, dan patuh regulasi.”
Pun begitu, masih banyak hal yang harus dilakukan TVRI untuk bisa menjadi apa yang diinginkan Pemerintah RI lewat Piala Dunia. Hal itu terungkap dari pernyataan sejumlah narasumber Dialog Meja Bundar.
Putra Nababan misalnya. Penyiaran Piala Dunia oleh televisi swasta—seperti tempatnya pernah bekerja—berbeda jauh dengan apa yang pernah dan akan dilakukan TVRI. Sebagai catatan, TVRI berpengalaman menyiarkan Piala Dunia pada 1978, 1982, 1986, dan bekerja sama dengan TV swasta pada 1990.
“Sebagai televisi milik negara, TVRI didanai oleh masyarakat, sehingga outcome yang dihasilkan nanti juga harus jelas. Misalnya apa saja dampaknya siaran Piala Dunia, misalnya ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM. Untuk UMKM bisa lewat nobar (nonton bareng) misalnya,” tutur Putra.
Lebih lanjut Putra menambahkan, televisi sebagai media audio visual, sangat tergantung pada teknologi. Salah satu outcome yang harus dihasilkan TVRI dari siaran Piala Dunia adalah harus mampu menjadi tolok ukur kesuksesan penyiaran.
“Karena dibiayai negara, wajar jika 75 persen masyarakat Indonesia bisa menyaksikan siaran Piala Dunia. Tuntutan itu saya rasa wajar. Apa lagi sebagai stasiun TV milik negara, TVRI tidak dituntut revenue karena semua yang didapat termasuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNPB),” kata Putra.
Dari situ Putra meminta agar TVRI juga memikirkan bagaimana siaran digital itu juga bisa menjangkau 25 persen penduduk Indonesia, terutama mereka yang tinggal di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Suryopratomo yang juga pernah menjadi jurnalis menjelaskan bila olahraga, khususnya sepak bola, bisa mendidik bangsa lewat nilai-nilai yang ditularkan.
“Sepak bola bisa mendidik sebuah bangsa, bahwa semua tidak ada yang instan, harus lewat proses. Lewat olahraga, khususnya sepak bola, anak-anak bisa dan harus diajarkan bahwa prestasi dan ketenaran itu hanya bisa datang lewat kerja keras, disiplin, dan patuh kepada orang yang lebih tua,” ucapnya.
“Olahraga berguna untuk peradaban karena bisa mengubah karakter sebuah bangsa lewat disiplin, kerja keras, dan tata karma. Nilai-nilai ini yang harus bisa sampai ke anak-anak dan itu bisa dilakukan TVRI lewat siaran Piala Dunia ini.”
Editor: Tri Cahyo Nugroho
