
Timnas Brasil di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (Xinhua)
Penulis: Riki Ilham Rafles
TVRINews - Brasil
Carlo Ancelotti berhasil membangun rasa kekeluargaan dalam skuat Timnas Brasil.
Delapan pertandingan telah dilalui Carlo Ancelotti sejak dipercaya menjadi pelatih Timnas Brasil pada Mei 2025. Empat kemenangan, dua kali imbang, dan dua kekalahan jadi catatannya.
Juru taktik asal Italia itu menggantikan Dorival Junior yang beberapa bulan sebelumnya dipecat karena Brasil kalah telak 1-4 di markas Argentina dalam pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona CONMEBOL.
Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) yang dikabarkan sejak lama mengincar Carlo Ancelotti bergerak cepat. Mereka mengajukan tawaran gaji Rp200 miliar per tahun dengan bonus Rp100 miliar jika berhasil menjuarai Piala Dunia 2026.
Gayung bersambut. Pelatih berusia 66 tahun itu menerima tawaran dan membuatnya untuk kali pertama menangani tim nasional, setelah sebelumnya malang-melintang menukangi klub-klub di berbagai negara Eropa.
Pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 di markas Ekuador menjadi laga perdana Ancelotti sebagai pelatih Brasil. Hasilnya belum meyakinkan, karena imbang tanpa gol.
Dalam dua pertandingan berikutnya di markas sendiri, Brasil mampu menang 1-0 atas Paraguai dan tiga gol tanpa balas menghadapi Cili. Sayangnya, pada laga pamungkas Kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka kalah 0-1 dari Bolivia.
Saat jeda internasional Oktober dan November 2025, Brasil menjalani empat pertandingan uji coba. Mereka menang atas Korea Selatan dan Senegal, imbang menghadapi Tunisia, dan dikalahkan oleh Jepang.
Meski belum konsisten meraih kemenangan, namun menurut mantan pemain Brasil, Roberto Carlos, apa yang dilakukan Carlo Ancelotti untuk tim dinilai sudah tepat.
"Satu hal yang dia lakukan adalah membuat para pemain menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga. Dia sedikit mengatur ulang tim dan akan mencoba melakukan yang terbaik di Piala Dunia," kata Roberto Carlos, dikutip dari Goal, Senin, 9 Februari 2026.
Carlos merujuk keberhasilan Brasil saat menjuarai Piala Dunia 2002. Meski banyak pemain hebat di dalam tim, tapi semua menyatu sebagai sebuah keluarga.
"Secara individu, Brasil memiliki pemain-peamin hebat, tetapi pada 2002 kami berhasil menggabungkan kualitas tim dengan perasaan kekeluargaan," tuturnya.
Carlos melihat, Brasil di bawah arahan Ancelotti sudah menunjukkan rasa kebersamaan yang kuat. Hal itu wajib dipertahankan guna mewujudkan keinginan penggemar melihat Tim Samba menjuarai Piala Dunia 2026.
Editor: Riki Ilham Rafles
