
Dialog Meja Bundar, perhatian pada keadaban dan perubahan kultur. (Foto: Nick Hano)
Penulis: Christian Gunawan
TVRINews - Jakarta
Sejumlah wartawan senior yang hadir dalam acara Dialog Meja Bundar pada Selasa (31/2) menantang TVRI untuk membuat perubahan melalui siaran Piala Dunia 2026.
Acara "Dialog Meja Bundar: Piala Dunia 2026, Pers, dan Peradaban Publik Kita, Siaran Olahraga sebagai Ruang Edukasi, Literasi, dan Penguatan Nilai Kepublikan" menghadirkan tantangan membangun dari sejumlah narasumber. Dialog yang digelar pada Selasa, 31 Februari 2026, di Auditorium Bung Karno LPP TVRI di bilangan Senayan, Jakarta, ini mendatangkan banyak masukan bernas agar TVRI membuat siaran yang edukatif, termasuk siaran Piala Dunia 2026.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo, mengungkapkan pandangan bahwa TVRI harus memanfaatkan Piala Dunia 2026 menjadi momentum untuk membalikkan anggapan umum. "TVRI mesti menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai titik balik," ucap mantan pemimpin redaksi Kompas dan Metro TV itu. Bagi Tommy, demikian panggilan akrab Suryopratomo, TVRI perlu mengubah citra tidak menarik lewat Piala Dunia 2026.
Bagi Tommy, TVRI mempunyai atribut terbaik untuk menjadi penyiar Piala Dunia: satu-satunya stasiun televisi tanpa kepentingan komersial. Menurut hemat Tommy, TVRI dapat membuat negara menjadi lebih baik melalui Piala Dunia 2026.
"Piala Dunia dapat menjadi momen untuk mengubah karakter bangsa seiring kemampuan olahraga yang mengajarkan hal-hal seperti kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, dan proses. Tidak ada yang instan dalam sepak bola. Anak-anak perlu memahami bahwa untuk menjadi sukses, harus bekerja keras," ucap Tommy.
Tommy berharap pula siaran yang disajikan nanti berbeda dengan yang dikemas stasiun-stasiun televisi swasta. Kenikmatan berkurang karena pernyataan-pernyataan komentator yang, menurut Tommy, "Heboh tanpa substansi".
TVRI, di mata Tommy, dapat mengembalikan kenikmatan menonton sepak bola tanpa gangguan seperti itu. "Siaran pertandingan semestinya bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan yang mendidik," imbuh Tommy.
Di bagian penutup, dalam konteks peradaban yang menjadi salah satu perhatian forum diskusi ini, Tommy menilai bahwa sepak bola dapat berperan mendidik bangsa untuk membangun peradaban. Semua diawali dengan mengubah kultur. Tommy mengambil contoh Korea Selatan yang menjalaninya setelah menjadi tuan rumah Asian Games 1986. Untuk kontrasnya, Indonesia merupakan tuan rumah Asian Games 1962, tapi tanpa perubahan kultur yang mengikuti.
Jurnalis narasumber lainnya, Mahfudin Nigara, berkata bahwa, dengan memegang hak siar Piala Dunia 2026, saatnya TVRI meningkatkan diri terutama yang berkaitan dengan siaran olahraga. "Ini saatnya TVRI memberikan siaran yang berkualitas yang dikelola secara profesional," ucap pria yang pernah menjadi jurnalis sejumlah media olahraga nasional itu.
Selain mengatakan bahwa TVRI perlu menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai momentum untuk melesat, Nigara menyebut pula bahwa sebuah periode lagi juga tidak kalah penting. Menurut pria yang pernah meliput Piala Dunia 1994 saat masih menjadi wartawan Tabloid BOLA itu, wajah sejati TVRI baru akan terlihat pada pascaturnamen. Seberapa besar keinginan TVRI untuk berubah akan mengemuka setelah perhelatan di tiga negara--AS, Meksiko, dan Kanada--itu selesai bergulir.
Sementara Kesit B. Handoyo mengutarakan kegembiraan atas kembalinya siaran Piala Dunia ke TVRI, yang menurutnya kira-kira mirip slogan "Football Coming Home" saat Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996. Untuk momen istimewa ini, Kesit mendorong TVRI untuk menghadapi tuntutan tinggi dan luas dari masyarakat.
Editor: Christian Gunawan
